A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

7/26/2017

Kesederhanaan Yang Dirindukan

Kalau kalian aktif di Twitter, mungkin kalian tau kalau beberapa hari ini Twitter gue lagi rame. Alasannya adalah karena di-mention sama salah satu selebtwit yang katanya emang suka komen tanpa tau konteks dan tanpa kenal orangnya. Memang yang gue rasakan semenjak ada mereka-mereka ini, Twitter kayaknya udah NSFW. Salah ngomong dikit, atau bahkan yang sebenernya nggak salah, cuma beda pendapat aja, disayurinnya ruarr biasa. 

Seringkali gue ingin S2 Neuroscience, biar gue bisa tau dan riset perbedaan signifikan apa yang terdapat dalam sel neuron manusia jaman sekarang, sampai untuk melakukan sesuatu atau bicara sesuatu itu nggak ada lagi second thoughts-nya. Mungkin kalau gue lagi lowong, gue mau cari-cari journal/paper tentang itu. Siapa tau ada yang udah pernah ngerjain studinya.

Di sini gue nggak mau ngomentarin tentang selebtwit atau orang-orang yang ngebully gitu sih. Karena sejujurnya gue sampe sekarang belom bacain satu-satu isi tweetnya. Cuma selewat aja, itu pun karena nggak sengaja muncul di notification.

Soalnya, kalau mau gue ladenin, gue jadi keinget sama kalimat ini:

"Never explain yourself. Your friends don't need it. Your enemies won't believe it."

So I let him ngasih wejangan ke gue, dah. Suka-suka dia. Suka-suka followers dia juga. Daripada gue bales nanti nggak kelar-kelar urusannya.

***

Nah, di sini gue mau cerita aja apa yang mendasari perkataan gue tersebut. Lebih ke curhat, sih. Karena ada beberapa hal yang gue rasakan selama di Jakarta ini dan pergolakan yang gue alami sebagai so called social media influencer.

Salah satu value yang diajarkan di rumah gue dari dulu adalah hidup prihatin. Dari gue bocah dulu, bisa makan di McD aja adalah suatu kemewahan. Karena nyokap gue selalu bilang begini, "Mama setiap hari udah ngasih duit pasar ke pembantu. Kalo kita makan di luar, sayang duitnya.". Itu lah kenapa gue sangat segan untuk ngajak nyokap makan di luar. Karena ya itu, appreciate apa yang udah dimasak pembantu gue dan duit yang udah disisihin supaya pembantu gue itu bisa belanja makanan.

Begitu juga ketika gue mau beli-beli barang. Gue selalu sungkan untuk ngomong. Contohnya kayak waktu jaman gue SMP dulu, lagi nge-trend banget tas dan dompet Happy House. Warnanya lucu-lucu banget. Pink, oranye, kuning. Tapi sayang, harganya mahal. Kalau nggak salah satu tas sekolah itu harganya kisaran 200-300 ribu. Alhasil gue cuma bisa beli barang yang kira-kira desainnya mendekati si Happy House ini. Versi Mangga Duanya, lah.

Billaboong, Roxy, dan teman-temannya juga lagi booming. Tapi gue nggak pernah berani buat masuk ke tokonya karena gue tau pasti gue akan kaget liat price tagnya. Jadi, yaa tas gue paling cuma sebangsa Exsport aja. Itu aja menurut gue udah mewah banget.

Ngomong-ngomong, lo pernah nggak sih gue ceritain gimana first impression gue ketika masuk SMP? Gue rada syok. Karena SMP gue itu campuran antara anak dari SD swasta dan SD negeri. Dan kelihatan banget gimana timpangnya kita, anak-anak SD negeri, dengan anak swasta tersebut.

Sempet beberapa waktu gue kangen banget sama masa-masa gue SD dulu. SD gue itu di samping pasar inpres. Setiap mau ke sekolah, gue selalu ngelewatin pasar becek dan gundukan sampah. Temen-temen gue tinggalnya di gang yang comberannya bau kotoran ayam. Gue jadi main di sana terus, deh. Dan gue nggak merasa too rich to be there or to be friends with them karena gue pun 11:12 sama mereka.

Bahkan gue sampai sekarang sangat merindukan kesederhanaan tersebut. Pertemanan yang senyum dan tawanya muncul ketika kita main karet bareng, main galasin, dan jalan-jalan naik mikrolet 09 A. Pertemanan yang nggak lantas hancur hanya karena orang tua teman-teman gue itu sekedar tukang ojek, pedagang di pasar, atau penjahit di konveksi.

Sangking sangat berkesannya masa-masa SD gue itu, gue sampe bertekad untuk masukin anak gue ke SD negeri kalau gue tinggal di Indonesia nanti. Tapi sekarang gue lihat SD negeri juga udah mulai banyak yang borju. Intinya gue bingung, sih, mau nyekolahin anak gue di mana biar dia tau caranya sederhana.

Berlanjut sampai gue besar sekarang, gue selalu menanamkan value itu. Nggak hambur-hambur dan mencoba pakai uang untuk yang penting-penting aja. Fun fact, selama gue 18 tahun tinggal di Indonesia, nggak pernah sekalipun gue minum Starbucks. Because I know that drink is damn expensive dan gue terlalu terintimidasi oleh harganya hahaha. Barulah ketika di Jerman gue coba-coba beli Starbucks. Taunya nggak ada yang spesial selain gulanya yang kebanyakan. Ujung-ujungnya gue lebih memilih bawa botol dari rumah yang berisi air keran. Gratis dan menyehatkan.

Sekarang dengan gue yang nyemplung di dunia begini, entah gue sebut sebagai apa dunia Internet ini. Pastinya gue akan bertemu bermacam-macam orang. Seringkali gue mendengar cerita dan melihat sendiri orang-orang yang bertentangan dengan value yang gue punya.

Tapi gue selalu berusaha untuk stay di mana gue berada sebelumnya. Buat syuting The Comment dan Indonesia Morning Show gue nggak mau pusing harus pakai kostum apa hanya karena gue mau masuk TV. I could care less kalau busana gue not appropriate enough to be on camera. Kecuali pas The Comment, sih. Itu pun bukan baju. Cuma muka gue dimakeupin-nya sampe segitunya banget.

Pernah juga ketika gue diundang untuk nonton Spiderman sama salah satu agency bareng selebgram lain. Yang dateng ke sana nggak cuma selebgram, tapi artis juga. Tapi ya gue merasa terlalu neko-neko kalau gue harus dress up hanya karena mau nonton Spiderman. Toh nanti di bioskop juga gelap dan nggak ada yang ngeliat gue. Bener aja, sama salah satu selebgram gue dikira orang dari agency-nya hahaha.

Buat meeting-meeting sama client, gue selalu cuma pesan minum. Karena pertama, walaupun dibayarin dan bayarnya pake duit perusahaan a.k.a udah disediain budgetnya, gue nggak merasa berhak untuk ngebuang-buang duit (especially bukan duit gue) hanya buat ngenyangin perut gue yang sebenernya saat itu nggak laper-laper banget.

Dikelilingi orang-orang yang terlihatnya sangat berada dan bisa dengan segampang itu ngeluarin duit segepok ternyata cukup challenging. Bukan perkara cobaan untuk nahan-nahan biar nggak kayak mereka, tapi lebih ke sedih dan akhirnya jadi self-reflect sendiri. Alhamdulillah dibesarkan di keluarga yang sangat menghargai uang (karena emang susah dapetinnya) dan tinggal di Jerman yang orangnya nggak neko-neko, gue masih ada rasa malu untuk lalu ikut-ikutan hedon. 

Ada banyak orang yang jauh lebih berada tapi sederhananya luar biasa. Malah gue sangat salut dengan orang-orang seperti itu. Mereka yang mengatur dunianya, bukan dunia yang mengatur mereka. Nggak lantas jadi alergi sama yang murah-murah. Nggak lantas jadi males temenan sama yang berkantong kering. Tandanya prinsipnya luar biasa. Dan gue malu kalau gue sehambur-hambur itu tetapi untuk bersedekah malah nggak seberapa.

Ngeliat di depan mata gimana seseorang pesan makanan yang harganya nggak mahal, terus setelah makanannya dateng dan dicicip sedikit malah nggak dihabisin. Nggak enak katanya. Sementara gue jadi kepikiran gimana detik itu ada orang yang perutnya keroncongan karena belum makan berhari-hari. Melihat gimana manusia memang secara nyata benar-benar bisa tumbuh makin besar kecintaannya terhadap dunia karena mereka merasa semudah itu bisa dapet duit dan ngeluarin duit (dan lebih ngenesnya mereka nggak sadar). Melihat gimana manusia bisa sehedon itu, sematerialistis itu, bisa sedzalim itu ke manusia lain hanya karena duit. Itu semua ternyata sangat nggak bikin nyaman hati gue. Cuma gue nggak bisa ngomong apa-apa selain diam dan mengingat lagi niat gue di dunia ini untuk apa.

Mungkin gue terlalu polos melihat dunia. Mungkin gue terlalu polos menganggap hidup itu tempat cari pahala, bukan ngejar harta buat kemudian dihabisin buat hal-hal nggak berguna. Mungkin gue terlalu kepikiran sama orang-orang kurang mampu di luar sana, sementara kanan-kiri gue berlebih-lebihannya luar biasa. Mungkin gue yang terlalu gusar ngeliat gimana timpangnya keadaan ekonomi orang kita. Mungkin memang harus begitu, ya, jaman sekarang? Acuh, ora urus hidup orang lain.

Itu yang gue curhatin ke nyokap gue baru-baru ini, "Ma, Gita takut nanti standard hidup Gita jadi naik.". She knew what I was talking about. Dia ngingetin untuk selalu berdoa supaya penyakit hati itu nggak ada, supaya kecintaan ke pada dunia nggak melebihi kecintaan ke pada Tuhan, dan gue nggak boleh selalu ngeliat ke atas. Karena sesungguhnya kecintaan sama dunia itu membutakan. Buat orang-orang yang sadar, pasti ngeri sama tipu dayanya.

Perkataan teman gue, yang kata si selebtwit keliru itu, menurut gue adalah reminder yang sangat bagus. "Kalau lo merasa ngeluarin uang 150 ribu untuk satu kali makan itu biasa aja. Tandanya ada yang salah sama lo.". I don't know about you, guys. Tapi gue sadar nggak semua orang seberuntung itu. Nggak semua orang bisa beli makan tanpa mikirin harga lagi kayak orang-orang tajir.

Gue nggak setega itu untuk bilang "Suka-suka gue, lah. Itu kan duit gue.". Ketika gue tau kalau banyak orang di luar sana yang sesusah itu hidupnya. Dan banyak orang yang nge-follow gue dan melihat lifestyle yang gue miliki. Bagaimana pertanggungjawaban gue nanti, kalau ternyata ada banyak orang yang iri melihat hidup gue karena secara tidak sadar gue pamer kekayaan. Lalu orang-orang itu lantas mikir hidupnya itu nggak menyenangkan dan nggak patut disyukuri.

Seperti yang Mbak Kate Welton bilang di Twitter, "It's not about what is standard for individuals. It's about recognising that others may not have the same privilege as you."

Sesimple itu. Sesimple sebaiknya kita sadar ketika standar kita di atas rata-rata dan sebaiknya mensyukuri itu. Bukan malah jadi berlebihan, hambur-hamburan, menjadikan itu suatu kebiasaan, atau bahkan merasa apa yang kita punya masih belum cukup. Karena ada orang yang beneran nggak cukup, tapi mereka malah merasa udah kaya, udah puas. Karena hatinya selalu diliputi oleh rasa syukur.

Itu salah satu alasan kenapa gue nggak pernah jawab kamera apa yang gue pakai untuk ngevlog dan foto. Karena orang bisa googling harganya. Mereka taunya gue punya kamera dengan harga segitu tanpa tau sebenernya sekeras apa gue bekerja dan lantas menabung untuk beli kamera itu setahun kemudian. The same goes to makeup. Orang taunya gue pake Laura Mercier, The Balm, blablabla. Mereka mana mau tau kalau semua produk itu gue beli setelah gue kerja ngebabu di pabrik percetakan yang mengharuskan gue untuk berdiri 9 jam setiap harinya. Dan mereka mana tau kalau barang-barang itu gue pakai seirit mungkin dan bahkan half of them udah kadaluwarsa. Tapi gue nggak tega ngebuangnya, berasa ngebuang duit yang udah gue kumpulin susah payah.

Orang-orang yang kemaren ngebully gue di Twitter hanya tau gue tinggal di Jerman tanpa tau kesulitan ekonomi apa yang gue punya. Tanpa tau seringkali gue bener-bener nggak ada uang hanya buat sekedar beli beras. Mereka pikir tinggal di Jerman itu sudah pasti menyenangkan, sudah pasti dari keluarga berada. Menurut lo, kenapa gue sama Paulus bisa kurus? Karena kita seirit itu. Kita seprihatin itu. Bukan karena kita diet. Tapi netizen nggak mau tau karena mereka memang nggak peduli.

Dan ada banyak orang-orang yang jauh lebih nelangsa dari gue. Di antara followers gue, ada banyak yang lebih tidak beruntung daripada gue. Yang nggak tau hidup gue yang sebenarnya seperti apa. Yang hanya melihat hidup gue berdasarkan foto-foto Instagram yang sudah gue curate sedemikian rupa supaya terlihat ciamik. Apakah rela gue bikin mereka berpikir hidup mereka itu tidak sebanding sama hidup gue? Apakah gue tega ngomong "Suka-suka gue, lah. Itu kan duit gue."? Apakah gue tega untuk hidup seegois itu?

Memang mungkin salah mereka karena langsung membuat kesimpulan akan hidup seseorang hanya berdasarkan sosial media. Tapi ketidaktahuan mereka juga disebabkan gue yang nggak pernah cerita behind the scene nya. Yang mereka lihat di internet tentang gue hanyalah hasil kerja keras, hasil beratus malam yang gue lalui tanpa tidur, dan beribu doa yang gue panjatkan di setiap sholat.
Kontradiktif sekali dengan kerjaan gue di Instagram sebagai social media influencer. Seorang gue yang sama sekali kontra terhadap hidup hura-hura, tapi malah promote berbagai macam barang setiap harinya. Iya, social media influencer itu sebenarnya tidak meng-influence apa-apa selain consumerism.

Di situ lah pergolakaan yang gue rasakan. Di satu sisi gue pingin bantuin online shop dan mereka juga membantu gue bayar segala macam tagihan karena gue memang sudah tidak dibiayai orang tua. Di satu sisi itu pekerjaan gue, di sisi lain itu sangat bertentangan dengan value yang gue pegang. Mau seidealis apapun juga, realistis itu juga perlu. Mungkin di situ lah challenge-nya.

Salah juga mungkin kalau gue berharap followers gue udah wise and mature enough to get my point, karena gue tidak bisa memaksa orang untuk mengerti intention yang gue muliki. For this one, I still don't have the solution.

***

Hhhhh... Hidup itu membingungkan, ya? 

Sejujurnya gue nggak tau point dari curhatan gue ini. Mungkin gue cuma ingin mencurahkan apa yang sudah terpendam berbulan-bulan ini karena gue capek dikira orang berada, capek dijudge gue kaya karena ada yang lihat gue punya product skincare Korea bejibun (padahal itu semua gratisan. Dapet dari Style Korean karena gue kerjasama bareng mereka hikss). 

Yaa, alhamdulillah, sih, mungkin gue sekalian didoain biar kaya beneran. Siapa tau bisa bantuin orang tua gue. Tapi, please jangan kira duit gue ngucurnya kayak air. Kita nggak tau hidup orang itu seperti apa :)


Share:

7/24/2017

Ketika Realita Berasa Mimpi

Beberapa bulan lalu gue dikontak oleh partner manager gue di YouTube. Jadi begini, teman-teman. Seorang YouTuber dengan subscriber 100.000 ke atas akan dapet partner manager. Gunanya apa? Channelnya bakal ada yang manage. Maksudnya, channel kita akan dicheck terus statsnya. Bagus atau enggak, terus opportunity dan cara apa lagi yang bisa kita dapet atau lakukan untuk expand channel kita. Biar views dan subscribersnya makin banyak. Intinya kita jadi bisa bener-bener berurusan sama YouTube-nya langsung.

Nah, setelah itu si Kelvin, partner manager gue ini nanyain apakah gue up for a program called Creators for Change, yaitu program dari Google dan VICE Media untuk memerangi masalah sosial sekarang. Dia bilang, channel gue dipilih sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia. Dipilihnya langsung sama Google dan ambassador dari Indonesia (Cameo Project).

Jujur, waktu ditanya kayak gitu gue nggak merasa gimana-gimana. Karena yaa lo tau gue. Nggak mau kepikiran soal begituan. Takutnya gue jadi overly proud, jumawa, padahal jadi juga belom. So I was like, "Okay, that's cool.". Ditambah lagi, gue nggak ngerti sebesar apa program ini dan ada berapa orang yang berkecimpung and what not. Intinya gue nggak mau tau detailnya. Lagi, supaya gue tetap berpijak. Takutnya kalau nggak jadi, gue akan kecewa.

Selang beberapa minggu, ternyata programnya beneran jadi. Dari yang gue kira cuma wacana-wacana doang, ternyata gue beneran dipilih. Kata Kelvin, dari Indonesia cuma ada tiga channel: Film Maker Muslim, Jovi Hunter, dan gue. Kata Kelvin lagi, gue akan rapat dengan orang YouTube/Google yang pas gue liat e-mailnya ternyata nama bule dan dia bekerja di Google HQ di USA. Makin-makin lah gue nyadar kalau program ini beneran serius. Waktu kemudian dapet e-mail dari si bule YouTube, reaksi gue cuma, "Waaww....".

Pas akhirnya meeting sama Paul dari Google dan satu cewek dari VICE yang gue lupa namanya, gue deg-degan. Lebih ke starstruck, sih. Gue makin bingung kenapa hidup gue begini. Kenapa gue bisa dikasih sebegininya. Perasaan dulu gue nge-YouTube beneran karena ingin memperbaiki situasi dan kondisi YouTube Indonesia. Kenapa sekarang gue ampe meeting segala di Google Hangout sama bule-bule ini. Intinya gue lebay, tapi karena gue emang nggak expect, jadi wajar lah kalo gue lebay.



Setelah rapat, menyelesaikan segala macam yang administratif, barulah kemudian YouTube launched program ini. YouTube Creators for Change. Ada 28 channel terpilih dari seluruh dunia. Bayangin, coy. Seluruh dunia dan gue salah satunya. Dan gue satu-satunya cewek dari Indonesia. Ini gue bukan pamer, tapi sampai sekarang sering kali gue merenungi hidup gue. Sampe sekarang pula gue masih nggak percaya. Btw, buat pembaca baru, gue emang doyan merenung. Sering kali merenung itu jauh lebih asik ketimbang ngobrol sama orang.

Baru lah gue tau di antara 28 fellows ada Muslim Girl, Amani, yang sering banget gue liat di video-video yang gue tonton. Ada Evelyn from the Internets yang juga gue suka banget karena dia sangat kocak. Dan gue harus nyubit-nyubit pipi gue berkali-kali buat sadar. Ambassador dari program ini salah satunya adalah John Green, Dina Tokio, dan Natalie Tran (Community Channel), yang gue persönlich sangat-sangat adore.

Diberi tahu juga kalau kita akan diberi semacam training yang dilakukan di YouTube Space dan diberi budget $10.000 untuk merealisasikan video kita. Makin lah gue megap-megap. Pertama, karena gue baru sadar Google duitnya banyak banget. Kedua, gue nggak merasa pantes untuk dapetin ini semua.

Sampe akhirnya 3 minggu lalu gue diundang ke YouTube Space London untuk mengikuti Social Impact Camp selama 2 hari. Gue kira camp-nya bakal diadain di India, taunya di sana. London, bok. Walaupun karena kebodohan gue, gue hanya menghadiri hari terakhir.

Tau nggak kenapa gue selama tinggal tetanggaan sama UK, gue belom pernah mau ke sana? Karena harus apply visa dan bayarnya mahal. Belom lagi di sananya. London terutama, kota mahal. Nggak akan mungkin mahasiswa kayak gue mau foya-foya liburan di sana. Mungkin bisa kalo dipaksain (balik-balik cuma makan nasi tok), tapi hati ini nggak rela. Mending duitnya buat bayar apartemen dan asuransi.

Buat tiket pesawatnya, gue dikasih yang World Traveler Plus. Bukan ekonomi biasa, tapi ekonomi++. Makanannya disajikan pake piring, bukan pake wadah plastik. Pisau garpunya dari stainless steel, bukan dari plastik. Kaki gue bisa selonjoran gara-gara tempatnya lowong banget. Di pesawat, gue noraknya luar biasa. Luar biasa, saudara-saudara. Padahal bukan naik first class. Tapi ya gitu. Tetep aja bikin bersyukur setengah mati.

Jika tempat dudukmu nyaman, pemandangan dari jendela pesawat pun jadi terlihat lebih indah (sugesti).


Di London gue ditaro di hotel super mahal. Di tengah kota. Ratenya 450 pounds per malam. Kayaknya sampe gue kaya raya pun, nggak bakal mau gue tinggal di hotel itu kalau nggai dibayarin. Makannya? Bintang 7 bok. Makan-minum di YouTube Space nggak pernah kurang. Setiap malem sehabis sesi selalu fine dining.

***

Okeh, gue bakal jelasin di London itu gue ngapain aja. Mungkin buat kalian yang udah nonton vlog gue, kurang lebih udah tau. Kegiatan dimulai sekitar jam 9 pagi. Kita jalan kaki dari hotel ke YouTube Space London yang ternyata deket banget sama Kings Cross. Di sana hari-hari kita dipenuhi oleh segala macam workshop. Hari itu workshopnya tentang Producing 101. Kita dikasih tau gimana caranya memproduksi video yang bagus secara teknis sampe ke perkara gimana cara nyari crew buat shooting. Sungguh berfaedah.

Tapi ada dua hal yang bikin gue lived the dream hari itu. Ada satu sesi di mana kita QnA session via Google Hangout bareng John Green. That John Green yang buku-bukunya gue baca, yang video-videonya bareng Hank Green gue tonton. Waktu liat dia ada di layar gede depan gue, gue cuma bisa cengar-cengir doang kayak orang lagi high. Lagi-lagi gue merenungi hidup gue dan nggak percaya hari ini bakalan dateng. 

Kedua, gue ketemu Dina Tokio dan suaminya. Dua orang kocak yang suka gue tontonin videonya juga. Setelah sesi ngeliat para ambassador ngomong di depan, ada lagi sesi round table. Fellows dibagi beberapa group yang dikepalai oleh satu ambassador. Terus lu tau nggak gue kebagian di grup siapa? Sid and Dina. Yep, them. Out of many ambassadors who came that day, gue segrup sama Sid and Dina. Siapa lagi fellow yang segrup sama gue? Subhi Taha. Mau mati gak?

Setelah camp, kita diajak buat dinner di tempat super fancy yang makanannya pake course-coursean dan menunya yang biasa gue liat di Masterchef atau Top Chef. Pokoknya makanan-makanan keren gitu, lah. Gue inget banget, di malam itu untuk pertama kalinya gue mencicipi seared salmon. Ternyata rasanya wenak banget karena ada coriandernya.

Intinya di acara itu gue banyak ketemu orang-orang yang selama ini jadi inspirasi gue dan orang-orang yang menjadi inspirasi baru gue. I met people who have the same mission as mine, yang peduli dengan dunia, yang ingin berbuat baik di dunia, dan yang ingin bermanfaat. Asli, pengalaman macam gini nggak akan lagi gue dapet. Cuma sekali seumur hidup.

Finally here

Kapan lagi video gue diputer berkali-kali di YouTube Space?

Maha dari Dubai dan Nadir dari UK. Si Nadir ini neneknya orang Solo ternyata

Finally able to see this woman in real life!

One of my favorite YouTubers, Evelyn

Subhi, yang punya banyak fans dari Indonesia LOL

Younes. You might have seen his videos on Facebook. Videonya viral mulu di situ

Coming at you with some social changes!!!!


***

Pelajaran yang bisa gue dapat adalah, lagi-lagi, hidup itu sangat nggak bisa diprediksi. Siapa yang sangka gue yang mupeng tiap kali liat temen-temen yang jalan ke London dan foto di Platform 9 3/4 bisa ke sana dan dibayarin? Siapa sangka gue yang nge-vlog cuma pakai hape karena nggak ada duit buat beli kamera, sekarang bisa beli apa aja karena dikasi budget udah kaya mau beli tanah? Siapa sangka gue yang sampe sekarang nggak ngerti gimana cara nge-YouTube yang baik dan benar, yang nggak peduli ada yang nonton video gue apa enggak, bisa dipilih langsung sama Google buat bikin video untuk program mereka?

Allah Maha Besar. Pesan gue cuma satu ke diri gue, tetep humble, tetep koret, dan tetep menjalani hidup dengan penuh keprihatinan.

And I hope there are even more surprises waiting for me. Hidup tanpa GPS itu memang seru.
Share:
Blog Design Created by pipdig