A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

3/15/2017

Sindiran Berbulu Dakwah

Selama di FHI kerjaan gue seharian cuma bikin analyte dan nontonin master defense salah satu temen satu institut. Abis bubaran gue baru inget semua bahan makanan di rumah udah habis, bahkan beras pun nggak ada. Terpaksa lah gue belanja dan ngerjain beberapa urusan dulu. Sama aja bohong sih hari ini gue balik lebih awal dari biasanya, ujung-ujungnya nyampe rumah malem juga.

Ngomong-ngomong kali ini gue bukan mau ngobrolin soal keseharian gue. Karena seperti yang lo ketahui, gue nggak terlalu menganggap keseharian gue menarik buat ditulis. Gue, seperti biasa, mau ngeluarin uneg-uneg yang udah agak mengganggu pikiran beberapa hari ini. Beberapa waktu lalu gue sempet posting "Diam itu Tidak Selalu Emas". Di sana gue ngomongin tentang orang yang mengolok-ngolok apapun yang berhubungan dengan Islam. Entah itu ajarannya, orang-orangnya, dan ulamanya. Sekarang biar adil, gue mau ngomongin the other side of the spectrum: orang Islam yang suka nyinyirin orang lain yang mereka pikir nggak lebih alim dari pada dia.

****

Beberapa minggu terakhir ini gue sering banget menemukan orang-orang yang--dengan gampangnya--nyuruh/menyinggung gue untuk cepet nikah. Nope, bukan karena gue udah di umur di mana gue--seharusnya--udah menikah. Melainkan karena gue yang berhijab, tapi malah pacaran. What a contradiction. (btw, sebenernya apa sih definisi "umur yang sebenernya udah harus nikah". Seakan-akan yang mengatur datangnya jodoh dan terjadinya pernikahan itu manusia. Gimana kalau udah umur 40 tapi jodohnya belom dateng? Salah manusianya gitu?)

So basically orang-orang ini pingin memberi tau hal yang obviously obvious; dating is forbidden in Islam. Funny enough, mereka selalu bilang kalau mereka sebegitu pedulinya sama gue, maka terbentuklah urge yang sebesar itu untuk langsung nyampein ke gue. Di sini gue dibikin bingung sebetulnya. Di satu sisi gue berterima kasih karena mereka peduli sama gue. Di lain sisi--dan yang nyatanya lebih mendominasi--adalah perasaan annoyed yang muncul tiap kali gue dinyinyirin soal ini. Apa yang biasanya gue lakuin? It depends. Sering kali gue hapus komennya. Tapi kalau udah nggak tahan, gue langsung balik bertanya. Bro, you wanna make me feel worse about myself or what?

Gue percaya kalau cara menyampaikan nasehat atau berdakwah itu sama pentingnya dengan niat. Seseorang yang berniat baik mengingatkan seorang muslim lain, yang dia lihat sedang melakukan hal yang jauh dari ajaran agama, seharusnya juga memiliki cara penyampaian yang sama baiknya dengan tujuannya tersebut. So, basically kalau ada yang bilang "Git, lo nggak boleh jadi defensive gitu dong kalau ada yang ngingetin lo." is pretty much rubbish. Karena gue yakin 100% kalau Rasulullah se-judgmental orang-orang tersebut, nggak bakal ada yang mau masuk Islam. Agama ini nggak akan pernah ada. 

Setiap kali ada hal aneh yang terjadi, gue selalu mencoba untuk put myself in their shoes. Berusaha untuk memposisikan diri sebagai pendakwah judgemental ini. Hasilnya? Gue sampe sekarang nggak bisa relate. Bertahun-tahun gue pakai internet, nggak pernah sekalipun gue pointing out dosa orang random di sosial media manapun. Nyinyir yang disimpen buat diri sendiri itu lain cerita. Setiap orang berhak punya opini masing-masing. Everyone is judgemental anyway. Tapi sampai men-transform nyinyiran/judgement tersebut menjadi kata-kata dan actually put that much effort untuk ngepost kalimat tersebut di kolom komentar itulah yang ajaib. Buat gue hal tersebut terlalu makan waktu dan energi untuk dilakukan. Apparently banyak orang yang nggak masalah membuang waktu dan energinya untuk ngedakwahin orang di forum terbuka, di dunia maya, dan bisa dilihat sama ratusan orang lainnya.

Terutama ketika hubungan antara si penasehat dan yang dinasehatin ini hanya sebatas follower dan yang difollow (seperti dalam kasus gue). Bukannya gimana-gimana, tapi gue merasa dengan adanya sosial media, yang memang tujuannya adalah sebagai platform untuk membagikan snippet kehidupan kita, banyak orang jadi merasa udah paham dari A sampai Z semua realita yang ada. Penggunanya semacam nggak tau lagi di mana batas yang nggak boleh dilewatin dan nggak tau lagi gimana caranya menghargai privasi orang lain. As a result, pengguna sosmed sangat gampang untuk mencibir orang terang-terangan di foto/akun orang. Tanpa pikir panjang kalau si orang yang diselepetin ini bisa sedih dan tersinggung. 

Dan masih nggak terbayangkan juga oleh gue, betapa susahnya mindset "orang di internet hanyalah orang di internet" untuk bisa terbentuk di otak pengguna sosmed. Those people are just strangers, yang kehidupannya nggak kita ketahui. Kita nggak tau sama sekali masalah apa yang lagi mereka hadapi, kita nggak tau situasi dan kondisi yang sedang mereka alami. Kita hanya tau 0,000001% dari semua kenyataan yang ada, walaupun tiap saat kita ngelihat foto atau vlog mereka di dunia maya. Kita sama sekali nggak berhak untuk menyinggung hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka, karena setiap manusia berhak untuk dihargai privasinya. And yes, telling someone to get married because dating is haram means you don't respect her private life. It's her life, bro. It's her life.

Gue tanya laki-laki ini, yang "wkwk-in" gue karena gue pacaran, apa tujuan dia menyampaikan hal tersebut. Dia bilang, dia nggak bermaksud apa-apa dan cuma ingin mengingatkan. Balik lagi ke pernyataan di atas, he should've found another way to approach me, kalau dia emang beneran peduli. Setau gue memojokan orang dengan dosa yang dilakukannya itu bukan bentuk kepedulian. Mungkin ada sensasi tersendiri yang dirasakan orang-orang yang suka berdakwah-padahal nyinyir ini. Mungkin ada kepuasan dalam diri mereka, bisa bikin orang lain jadi merasa buruk. Seandainya temen-temen gue yang alim-alim itu, yang gue kenal secara personal itu, nyindir-nyindir dosa gue, nggak bakalan gue kayak sekarang. Nggak bakalan. Tapi hati gue malah terbuka karena despite gue yang penuh dosa ini, mereka nggak pernah sekalipun nyinyirin gue. Nggak pernah sekalipun menyinggung gue yang saat itu pacaran sama Paulus yang masih kristen.

Itu alasan kenapa gue sangat anti dengan dakwah nyinyir di sosial media, especially from strangers. That's not how da'wah works. Islam nggak pernah promote cara berdakwah yang begini, yang malah bikin orang "begajulan" jadi makin menjauh dari kebenaran. Gue bisa ngomong begini karena gue tau betul. Gue hijrah karena saudara seiman di kanan dan kiri gue nggak pernah mencari-cari kesalahan gue, mencari-cari dosa gue, tapi mereka selalu mencari hal positif dari diri gue. Dan malah itu yang ngebikin gue termotivasi untuk jadi muslim yang lebih baik lagi.
Share:

3/04/2017

Owning Only What We Need

Kalian pernah denger tentang konsep „minimalism“ ? Selama ini mungkin kita cuma mendengar konsep tersebut dalam seni, arsitektur, dan juga musik. Tapi ternyata minimalisme lebih dari itu. Beberapa tahun ini gaya hidup minimalis sedang naik pamor. Terinspirasi dari negara Jepang, di mana tidak hanyak rumah, fashion, dan furniturnya yang simpel, ternyata kebanyakan orangnya pun menganut gaya hidup simpel ini pula. What I find interesting about this lifestyle is that we live with only things that are necessary in order to really focus on the life itself. Menurutku konsep ini semacam breath of fresh air di tengah-tengah hiruk-pikuk konsumerisme dunia modern sekarang.

Ketika aku mencari tahu tentang konsep ini aku sangat bisa relate karena mempunyai banyak barang itu bisa sangat mendistraksi fokus kita. Sering kali juga kita terlalu merasa terikat dengan suatu barang hanya karena barang tersebut memiliki memori tertentu. Tidak jarang juga kita merasa terikat dengan sesuatu hanya karena, tidak ada alasan tertentu. Rasa keterikatan inilah yang harus dibuang dan mengaplikasikan konsep minimalisme mungkin bisa menjadi cara yang jitu. Selain itu dengan minimalisme kita juga bisa membuang sifat konsumtif dalam diri kita dan akan berujung kepada hidup yang akan lebih terstruktur dan teratur nantinya. I am sure you’ve heard of this quote somewhere;


We buy things we don’t need to impress people we don’t like. 
Believe it or not, we do it sometimes. In order to fit in modern day’s society we „need“ to own certain things because sadly people do judge a book by its cover. Because if you only wear the same clothes everyday people will think you’re broke. Banyak orang berpikir hidup yang enak adalah hidup dengan memiliki banyak materi. Punya rumah, punya mobil, punya tas berbagai model dan warna, punya makeup segala merek, dan sebagainya. Aku yakin kamu nggak setuju dengan itu karena obviously it’s about how we see our lives. Karena mensyukuri hidup itu sifatnya absolut dan tidak tergantung dengan berapa banyak barang yang kita punya. But still, banyak dari kita yang membeli tas bermerek dan mereknya harus terpampang supaya bisa dilihat orang-orang. Banyak juga dari kita tanpa sadar membeli barang karena banyak orang yang punya barang tersebut. We keep buying things even though we know we will never use them. What we don’t realize is this behavior can distract us. Those things that we bought are distracting us from what is essential, from life.

Saat ini aku sedang dalam proses ke arah minimalisme. Bermula dari melihat lemari pakaian yang terlihat sumpek. Lalu aku coba menyortir pakaian yang kiranya nggak aku pakai dan aku kaget pada saat itu aku berhasil membuang pakaian, sepatu, dan tas sebanyak dua kantong besar IKEA. Setelah beberapa bulan menganut konsep ini aku jadi makin aware atas apa aja yang benar-benar aku butuh dan makin mengapresiasi apa yang aku punya sekarang. Aku pun senang karena barang tersebut akan dipakai oleh orang yang beneran membutuhkan. Aku juga jadi jarang belanja dan uang ku bisa dipakai untuk hal lain yang jauh lebih penting. Makin ke sini aku jadi makin senang buang-buang barang yang nggak perlu untuk benar-benar memerdekakan diriku dari perasaan terikat dengan materi.

Belum lama ini tahun baru. If you don’t have any new year’s resolution yet, mungkin menjadi seorang minimalist bisa jadi resolusi tahun baru kamu.

Artikel ini dimuat di majalah Gogirl! Edisi Februari 2017.
Share:
Blog Design Created by pipdig