A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

11/18/2017

Cuitan Subuh

Kepeningan pagi ini dipersembahkan oleh lini masa Twitter seorang anak kuliahan belasan tahun.
Bukan cuma sebagai tempat gue membagikan banyak hal, media sosial juga selalu gue gunakan untuk mengobservasi. Walaupun ujung-ujungnya selalu sama, selalu pening, tapi gerak-gerik manusia itu—nggak tau kenapa—punya daya tarik sendiri buat gue. Jujur, gue nggak tau apa yang akan gue lakukan di sela-sela waktu jika gue nggak lagi diperbolehkan untuk mengobservasi manusia. Mungkin hidup gue akan hampa.
Anyways, cuap-cuap di Twitter-nya kurang lebih sama kayak anak muda pada umumnya. Penuh dengan penggunaan kata-kata kasar seperti “goblok”, “tolol”, dan semacamnya, retweet akun-akun yang sefrekuensi dengan cara pikirnya (in terms of religion), selain itu sesekali si Mbak (yep, doi cewek) nge-tweet kalau dia ingin meneguk minuman keras atau sekedar merokok. Iya, tweets macam gini bisa gue bilang umum, karena udah sering gue temukan. Termasuk lini masa yang diwarnai dengan kata-kata kurang apik. Walau tiap kali gue baca, ada sensasi masam yang gue rasakan entah dari mana datangnya. Yang gue tau, itu lah yang gue rasakan tiap kali mendengar atau melihat sebuah kata yang kurang enak.
Lantas gue berpikir, “Ketika gue masih remaja dulu, gue begini juga nggak, ya?”
Gue yang remaja nggak jauh beda dengan Mbak ini. Suka berkata kasar dan suka sinisin agama sendiri, as you might already know. Karena gue sadar manusia itu berproses, bukan yang dari lahir langsung menjadi manusia berakhlak, gue berharap si Mbak—di perjalanan kehidupannya—akan bertemu dengan orang-orang sholeh dan sholehah yang bisa membantu dia untuk jadi manusia yang baik di mata Tuhannya (btw, Mbak ini seorang muslim).
Lewat Mbak ini juga gue diingatkan untuk banyak berdoa. Berdoa supaya gue selalu ditunjukkan jalan yang diridhoi Allah dan dijadikan hamba yang tunduk. Apalagi zaman sekarang, zaman di mana fitnah udah makin bertebaran, sepertinya berdoa bukan lah hal yang percuma untuk dilakukan.
Zaman di mana fitnah udah makin bertebaran
Hhh... Zaman di mana semua orang bisa self-proclaim kalo pemahaman agama dia lah yang paling benar, tetapi terlihat jelas bagaimana dia memelintir ajaran Allah. Ini baru manusia lho. Gimana Dajjal nanti? Yang lebih serem adalah, kita si manusia fakir ilmu, mengira dia manusia legit yang bisa serap ilmunya. Jeng... jeng... jeng... Alhasil kita termasuk orang-orang yang dipelintir pemahaman agamanya tanpa kita sadari. Tanpa kita sadari, kita semakin jauh dari kebenaran dan itu banyak terjadi di era digital seperti sekarang.
Lantas gimana kita bisa tau mana yang salah dan mana yang benar? Satu, berdoa. Minta sama Allah untuk selalu ditunjukkan kebenaran. Minta sama Allah untuk didekatkan dengan hamba-hambaNya yang beriman. Minta sama Allah untuk dibukakan hati kita. Kedua, terus memperdalam agama. Belajar agama bukan untuk dicari dan dikritik kesalahannya, tapi karena kita si hamba yang nggak lebih dari butiran debu ini butuh guidance dari Tuhannya, butuh paham apa yang Tuhan minta.
Baru lah beberapa tahun ini gue sadar betapa sulitnya mempertahankan iman. Baru lah gue sadar makin lama makin mengerikan dunia ini. Imam palsu, aliran palsu, gerakan dan pemahaman ini-itu yang digembar-gemborkan manusia modern, saling fitnah antara satu golongan dengan golongan yang lain, dan digembar-gemborkan pemahaman kalau setiap manusia bebas melakukan apa aja asalkan dia bahagia dan siapa lah kita sudah menghakimi dia, padahal kita tidak sesuci malaikat. Untuk hal satu ini, gue rasa tetap memberi batasan antara benar dan salah itu perlu. Biar nggak kebablasan manusianya, seperti yang kita lihat sekarang ini. Tapi entahlah, entah apakah gue akan tahan dengan tudingan “Elah, nyinyir aja lo, ny*t!”
Mungkin sekarang ini yang berhak menyerukan kebaikan cuma yang memiliki gelar Ustadz. Ah, dikarenakan degradasi moral dan akhlak manusia, banyak tuh gue lihat orang-orang yang udah berani mencela pemuka agamanya. Padahal sekarang Rasulullah PBUH udah nggak ada. Siapa lagi yang bisa menasehati kita?
Entahlah.
Semoga sebagai muslim, kita selalu ingat bahwa hidup itu nggak bisa seenaknya.
Semoga kita termasuk golongan yang bisa menikmati surga Allah, di zaman di mana makin banyak orang yang sudah muak dengan agama, di mana makin banyak orang yang merasa agama nggak bisa memberi aturan dan standar apapun dalam hidupnya.

Semoga kita nggak pernah lelah untuk saling menolong dan mengingatkan dengan cara yang diajarkan Islam tentunya.
Amin.
Share:

10/09/2017

Bertutur Kata di Era Digital

Satu dari keresahan yang gue miliki adalah bagimana sosial media sekarang sudah bergeser permainannya. Perlahan-lahan penggunanya sadar akan kemungkinan untuk memakai platform ini secara anonim. Menjadi anonim tandanya manusianya memiliki kesempatan untuk bersembunyi di balik identitas misterius, memuaskan dan ngomporin sifat pengecut si manusia.

Berbicara soal pengecut, gue rasa semua manusia punya sifat tersebut. Mereka punya ketakutan jika yang mereka lakukan akan diketahui oleh orang lain. Mereka punya ketakutan kalau mereka ngelempar seseorang pake batu, orang tersebut akan marah. Maka dari itu mereka lebih memilih untuk tetap ngelempar orang tersebut dengan batu, tapi kali ini menutupi kepalanya dengan kardus. Ketimbang mengurungkan niat dan ngebuang batu yang udah digenggam di tangan mereka.

Fenomena hate speech dan cyber bullying cukup sering gue lihat. Sekarang semua orang bisa jadi korban dua hal tersebut. Mau itu orang biasa, artis, sampai presiden sekalipun. Sering kali gue takjub dengan kebebasan yang kita sekarang miliki. Kita bebas sekali bicara apa aja yang kita mau tanpa harus mengkaji kalimatnya terlebih dahulu. Kita bebas bagaimana mau mengekspresikan kesetujuan maupun ketidaksetujuan kita terhadap sesuatu. Kita bebas bagaimana mau mengkritik seseorang atau sesuatu. Mungkin karena dengan percaya dirinya kita beranggapan semua itu nggak akan ada konsekuensinya kelak. Padahal sebagai manusia beragama, konsekuensi bertutur kata buruk itu sudah jelas. Tapi mungkin karena Tuhan itu nggak keliatan kali, ya. Jadi kita nggak setakut itu dengan konsekuensi yang udah Tuhan janjikan.

Berbicara soal hate speech, beberapa hari yang lalu untuk kesekian kalinya, gue menjadi korban. Kalau kata orang-orang, salah satu resiko menjadi orang yang "eksis" di dunia nyata maupun dunia maya adalah menjadi korban kehitaman hati beberapa orang. Seseorang insecure sama diri mereka sendiri, kita yang jadi korban. Seseorang nggak puas dengan hidup mereka sendiri, kita yang jadi korban. Yoi, gue masih merasa orang yang suka menyebarkan kebencian kepada orang lain sebenernya punya issue sama diri mereka sendiri. Ketimbang menyalahkan diri sendiri dan mencoba introspeksi, mereka malah ngelempar amarah tersebut ke orang lain.

Anyway, karena teori "resiko" tersebut, bereaksi terhadap hate speech seakan-akan menjadi hal yang sebaiknya nggak dilakukan karena toh itulah kenyataan yang harus dihadapi. 

"Terima aja kaliiiii. Itu kan udah jadi resiko. Lo nggak bisa nyuruh mereka untuk stop ngatain lo."  
"Lo baperan banget sih. Santai aja kali."
"Gampang terpelatuk banget sih lo. Nggak suka amat kalau ada orang yang nggak suka sama lo."

I don't think that's fair. Nggak adil buat si korban. Karena si korban dilahirin ke dunia ini bukan buat di-bully dan dihujat. Sama nggak masuk akalnya dengan orang di jalan yang nggak lo kenal tiba-tiba ngegaplok kepala lo. Waktu ditanya, alasan dia adalah "Gue nggak suka aja ngeliat muka lo. Muka lo songong."

Gue yakin ada banyak juga orang-orang biasa, artis, selebtwit, selebgram, politisi, dan sebagainya, yang juga mengalami kejadian serupa. Digoblok-goblokin, ditolol-tololin, dikatain fisiknya, dikatain keluarganya, dikatain cewe nggak bener, dihujat sok ini dan sok itu. Macem-macem lah omongan warganet. Tapi kebanyakan dari mereka diam. Karena memang kalau diladenin juga nggak akan ada habisnya. Oleh karena itu mereka lebih memilih diam.

Tapi setelah gue pikir-pikir, dengan berdiam diri kita malah terlihat mengamini atau menyetujui konsep berkomunikasi di sosial media yang seakan-akan nggak ada konsekuensi dikarenakan ke-anonymous-an tersebut. Gue percaya ada kalanya warganet-warganet aneh yang nggak tau sopan-santun ini harus diedukasi dan disadarkan bahwa kalau berbicara, mau di dunia manapun, sama aja caranya. Tapi di satu sisi, gue nggak tau cara yang seperti apa yang paling bisa menyadarkan mereka. Karena biasanya orang-orang yang kayak begini hatinya udah tertutup dan lebih seneng ngehujat orang karena buat mereka hal itu sangat asyik untuk dilakukan.

Satu lagi hal yang sangat amat gue benci dari sosial media di era sekarang adalah akun gosip dan drama yang mulai menjamur. Kenapa yang begini makin banyak? Karena manusia itu naturalnya memang suka bergosip dan mencari-cari keburukan orang lain. Kita suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain, kita suka sekali mencari dosa orang lain, kita senang sekali memperolok orang lain, dan kita senang sekali mengekspos satu orang untuk dijadikan bahan cacian dan tertawaan. Kita merasa ada gemercik-gemercik api seru di dalam hati setiap kali ngeliat yang seru-seru di sosial media. Tapi karena kita itu pengecut, maka kita memilih untuk mengolok-olok orang tersebut beramai-ramai lewat akun gosip dan drama, bersama dengan para pengecut lainnya yang berlindung di belakang akun sosmednya.

Satu hal yang nggak mereka sadari: orang yang mereka olok-olok, entah itu lewat akun palsu, akun asli, akun gosip, suatu saat akan baca kalimat-kalimat tersebut. Ada orang beneran di balik akun yang diolok-olok dan orang tersebut punya hati, punya perasaan. Efeknya pun sangat nyata.

Ketika gue sharing pengalaman gue ngedapetin hate comment lewat Insta story kemarin, ada banyak banget respon yang gue dapet. Nggak sedikit yang bercerita tentang dirinya sendiri, keluarga, ataupun teman dekat yang juga pernah menjadi korban hate speech. Bahkan ada yang sampe harus ke psikiater karena efek yang mereka dapet dari ujaran kebencian tersebut ngebikin mereka jadi nggak percaya diri, merasa nggak berharga, dan bahkan terpikir untuk menyudahi hidup mereka.

Apakah lo masih merasa ini adalah resiko bermain sosial media ataupun resiko menjadi orang "eksis"? I don't think so. Gue masih merasa setiap orang nggak berhak untuk menyakiti orang lain dan gue masih merasa alasan "Suka-suka gue, ini hape gue, ini kuota internet gue" adalah alasan super bodoh dan super omong kosong.

If you think we just have to deal with it because we cannot tell people what to do, but somehow they can do whatever they want, what makes you think that we cannot tell them to just shut their mouth if they have nothing nice to say to us?

Hate speech IS a big issue. Stop saying that it's not.

Temen gue, Subhi Taha, bikin video super on-point mengenai perangai kita di dunia maya sekarang: tukang gosip, tukang bully, trashtalking someone on social media, gosipin orang di komen foto orang lain bareng temennya, etc. Kalian harus nonton dan mungkin bisa kalian sebarkan.

Click here to watch Subhi's video

Gue masih percaya kita bisa mengubah keadaan sosial media sekarang menjadi lebih sehat. Gue masih percaya diam ketika menjadi korban itu tidak memberikan solusi, itu malah membuat semua itu seakan-akan adalah hal yang biasa. We have to speak up. We have to treat this issue as it is. Dan iya, gue yakin gue bisa mengedukasi orang-orang untuk berlaku baik di sosial media. Gue tau itu terlihat mustahil, tapi gue yakin pasti bisa.


Share:
Blog Design Created by pipdig