A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

4/14/2017

Ketika Pilkada Lebih Seru Daripada Drama Korea

Tulisan ini gue buat bukan bermaksud untuk menambah hiruk-pikuk pilkada ataupun dijadikan alat untuk menjunjung paslon A dan menyudutkan yang satu lagi. Ini hanyalah pikiran-pikiran yang belakangan ini berenang-renang di otak gue, yang seandainya gue punya pensieve kayak Albus Dumbledore, udah pasti akan gue buang ke situ. But this blog is my pensieve. Jadi, gue akan membuang pikiran ini lewat tulisan.

***

Belajar dari pemilu presiden yang lalu, pada pemilu DKI Jakarta kali ini gue udah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Spesial satu hari gue dedikasikan untuk nge-hide orang-orang atau akun yang berpotensi bikin news feed Facebook gue jadi dikotori oleh artikel-artikel super nasty, kacangan, dan nggak kredibel.

Gue merasa artikel dan orang-orang tersebut, entah ke pada kubu mana dia memihak, nggak sehat buat otak dan hati gue. Dan mereka juga nggak akan bikin gue lantas akan mengubah pilihan. Basically, yang begini cuma bikin situasi makin panas dan eventually membuat negara gue makin terpisah.

Ini yang gue rasakan semenjak pemilu presiden tahun 2014 lalu. Entah siapa yang memulai dan bagaimana, perihal ras dan agama tiba-tiba jadi naik ke permukaan dan selalu jadi buah bibir. Semenjak saat itu sampai sekarang gue selalu membaca dan mendengar kata "kafir" dan "cina", kata-kata yang sebelumnya terlalu tabu untuk dijadiin bahan perbincangan.

Gue akan menjelaskan di mana posisi gue berdiri sekarang. Kalau gue bisa memilih, gue akan mencoblos pasangan calon no.3, Anies dan Sandi. Terlepas dari boleh atau tidaknya umat muslim memilih pemimpin non-muslim, gue nggak akan memilih Ahok. Tutur kata dan perilaku yang baik speak a lot dalam mencari pemimpin buat gue. Gue lebih prefer pemimpin yang berkepala dingin dan santun. Bukan yang suka marah-marah atau berbicara seenaknya.

"Mendingan pemimpin yang suka marah-marah tapi bener kerjanya, daripada yang baik tapi taunya kerjanya nggak becus.

Buat gue pribadi akhlak seseorang sama pentingnya dengan kinerja. Gue melihat Anies-Sandi berpotensi sebagai pemimpin dengan paket komplit. Bagus akhlaknya, bagus juga kerjanya. Dan gue melihat kalimat di atas hanyalah sebatas pembenaran untuk bisa begajulan, ngomong sembarangan, nggak mikirin lagi gimana kesopanannya, asalkan kita bisa kerja dengan benar. Sangat bertentangan dengan pemimpin paling berpengaruh dan terhebat yang pernah ada, Rasulullah SAW, yang bagus kepemimpinannya, kerjanya, dan akhlaknya pun luar biasa.

"Anies-Sandi bisanya ngomong doang. Ahok udah kerja dan bicara data."

Jelas Ahok bisa berbicara dari kenyataan, bisa berbicara tentang apa yang sudah dan sedang dia kerjakan. Karena sampai detik ini dia masih menjabat jadi gubernur DKI Jakarta. Dan gue yakin kalau Anies-Sandi dikasih kesempatan, mereka juga akan bekerja sama baiknya, bahkan lebih.

Dari poin di atas, tersirat sedikit kekecewaan gue terhadap beberapa orang dari kubu kanan/orang-orang muslim yang gue lihat terlalu giat memainkan ayat. Surat kesukaan kita semua, Al-Maidah ayat 51, padahal sebenernya nggak perlu sebut-sebut agama juga bisa.

Gue mencoba memposisikan diri sebagai orang non-muslim di Indonesia yang di depan mukanya diteriakin ayat kalau orang muslim dilarang memilih pemimpin kafir. Wajar kalau si non-muslim akan tersinggung. Walaupun arti kata "kafir" adalah non-believer, cara penyampaian kata tersebut membuat kesan seolah-olah mereka berdosa dan hina, dan mau gimana pun juga akan masuk neraka. 

Apapun pemahaman kita terhadap orang non-muslim, urusan surga dan neraka itu terlalu sensitif buat diomongin secara gamblang. Kita perlu ingat, setiap individu berhak untuk memeluk agama apapun, bahkan nggak beragama sekalipun. Agama itu privasi, guys. Urusan kita sama Tuhan. Mendiskriminasi ataupun memojokkan seseorang hanya karena pilihan dia itu nggak benar.

Gue juga sangat menyayangkan beberapa orang dari kubu kanan yang sangat senang untuk bermain race card. Kayak yang gue bilang, padahal ikutan berpolitik tanpa nyebut-nyebut ras juga bisa.

"Dasar cina lo!"
"Balik sana ke negara lo"
"Bukan pribumi aja belagu lo!"

Kalau seseorang di-bully karena dia gendut, dia bisa diet dan olahraga biar jadi kurus. Kalau seseorang di-bully karena mukanya jerawatan, dia bisa ke Erha Clinic buat facial biar jadi mulus. Kalau seseorang di-bully karena ras? Apakah dia bisa segampang itu buat langsung ganti muka dan warna kulitnya? Gue nggak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai orang hitam/putih. Begitu juga Indonesian chinese yang dipojokkan hanya karena dia adalah chinese. Dia nggak bisa lantas mengubah dirinya menjadi pribumi supaya bebas dari bully-an orang. It does not work that way. It's stupid.

Memainkan ayat di dalam suatu negara yang sebenernya nggak homogen-homogen amat itu menurut gue bahaya. Islam dan pribumi memang mayoritas, tapi nggak semata-mata menjadi pembenaran untuk bertindak hal-hal yang kiranya bisa menyinggung kaum lain. Karena nyatanya kita nggak hidup dengan muslim lain aja, di sebelah sana ada grup lain yang harus kita hargai.

Karena begini, gue mengambil analogi ketika gue masih belom memakai kerudung. Seringkali ada gambar-gambar dakwah di Instagram yang menurut gue kurang mencerminkan Islam itu sendiri. Islam selalu mengajak kita kepada kebaikan dengan cara yang baik pula. Sementara banyak dari pendakwah yang sudah bagus niatnya, tapi selalu mengiming-imingi orang yang nggak mematuhi perintah agama dengan neraka.

"Kok sampe sekarang nggak ditutup auratnya? Emang udah siap nanti dibakar sama api neraka?"

Melihat yang begitu, apa gue langsung jadi takut dan memutuskan buat pake kerudung? Nggak. Gue malah ilfeel dan membuat stereotip kalau orang religius itu cuma bisa nakut-nakutin gue pakai neraka.

"Jangan lupa sholat. Nanti masuk neraka."
"Jangan pacaran. Nanti masuk neraka."
"Jangan makan yang haram. Nanti masuk neraka."

Padahal muslim disuruh melakukan ini-itu dan menjauhi ini-itu karena semata-mata diperintahkan oleh Allah. Karena iman. Bukan karena takut masuk neraka.

Beberapa minggu lalu gue ikut webinar-nya Ust. Nouman Ali Khan, ustadz favorit gue yang cara dakwahnya sangat gue kagumi. Di sana dia menceritakan gimana Quran bisa men-transform manusia dan bagaimana cara Rasulullah SAW menyampaikan isi kitab ini kepada orang-orang, dengan cara yang sudah diperintahkan oleh Allah SWT.

Ada 4 langkah berdakwah yang dilakukan oleh beliau. Langkah pertama adalah memperkenalkan Al-Quran untuk menunjukkan kebesaran Allah SWT. Dibacakanlah ayat-ayat Quran supaya orang tersebut bisa mendapat sense kalau kitab ini nggak mungkin ditulis oleh manusia, saking luar biasanya.

Langkah kedua adalah, setelah diperlihatkan/ditunjukkan kehebatan Quran, maka hati manusia akan jadi bersih. Hati manusia akan kuat karena sudah dipenuhi dengan iman.

Setelah terbentuk imannya, terbentuk pondasinya, barulah Rasulullah SAW berlanjut ke langkah selanjutnya, yaitu mengajarkan law atau aturan-aturan yang dibuat oleh Allah SWT dan dituliskan di kitab ini. Mengajarkan apa yang diperintahkan Allah SWT dan apa yang dilarang. Iman yang sudah terpatri di hati manusia memudahkan mereka untuk lantas menerima itu semua.

Setelah itu barulah Rasulullah SAW menyampaikan wisdom yang ada di Quran. Mengajarkan ternyata sebatas law aja nggak cukup. Karena Islam bukan sekadar aturan, tapi juga tentang kearifan. Kerendahan hati bukan aturan, tapi kearifan. Kemurahan hati bukan aturan, tapi kearifan.

Dan wisdom itu yang menjadi pengingat kita semua, sebanyak apa ilmu yang sudah kita kuasai, sebanyak apa surat yang sudah kita hafal, kita tetap fakir ilmu. Kita tetap nggak memiliki alasan untuk lantas merasa lebih islami dibanding teman kita. Kita tetap nggak memiliki alasan untuk lantas menjadi sombong. Wisdom inilah yang akhirnya merangkum what Quran is actually about. It's not just a holy book. But it's something that can transform us.

Konklusinya adalah, hanya bersenjatakan ayat, kata "neraka", dan bahkan menyudutkan kelompok lain yang berbeda dengan kita menurut gue bukan cara efektif untuk mengajak orang kepada--yang kita pikir--kebaikan. Mencoba menyampaikan/mengajarkan isi Quran dengan cara yang kurang baik bahkan bisa mengikis kebesaran dan nilai dari Quran itu sendiri.

Manusia punya otak, punya sel-sel neuron yang bekerjanya luar biasa. Sajikan lah argumen-argumen intelek dan pengertian yang esensial, mengapa harus melakukan ini, daripada yang itu dan mengapa harus memilih yang ini, daripada yang itu. Biar otak dan nalar kita puas, biar pondasi kita kuat, dan yang lebih penting biar kita nggak terlihat seperti memecah umat. Dan gue percaya, once masyarakat sudah paham, mereka akan mengimani surat Al-Maidah ayat 51 ini dengan sendirinya. Bukan karena diiming-imingi neraka, tapi karena iman mereka.

Kalau kita lihat, efek dari surat ini jadi merambat kemana-mana. Efek dari niat yang bagus, tapi cara menyampaikannya yang masih banyak cela. 

Gue masih dengan pendapat gue di awal. Perkataan Ahok pada saat rapat di Kepulauan Seribu mengenai surat Al-Maidah emang sangat berperan dalam membuat suasana jadi makin kacau. Terbukti, beribu orang turun ke jalan memprotes perkataan Ahok yang katanya udah mencela Quran. 

Apapun itu maksud dari Ahok, sebagai orang yang berusaha nggak se-biased mungkin, gue akui Ahok emang blunder. Sebagai pejabat publik udah seharusnya dia bisa lebih jaga omongan. Apalagi dia seharusnya tau situasi lagi parah banget. Bukan cuma Jakarta, Indonesia sekarang lagi terbelah. Instead nambah-nambahin retaknya nation kita, kayaknya lebih bijak kalau dia lebih bisa jadi lem buat merekatkan lagi kepingan-kepingannya.

Ditambah, dia bukan seseorang yang berhak untuk berkomentar apapun tentang Quran. That's why menurut gue terlalu omong kosong jika beberapa orang bersilat lidah mencoba untuk meng-defend Ahok, apalagi sampai nggak terima kalau ada yang marah sampai akhirnya demo ke jalan. Nyatanya Ahok memang salah dan setelah kejadian tersebut dia blunder lagi dan bikin umat Islam marah lagi. Akhirnya demo lagi. Begitu terus ampe kiamat.

Tapi balik lagi, gue ngerti kenapa Ahok dan non-muslim lainnya resah karena terlalu sering mendengar kata "kafir". Apa kita bisa memaksa mereka untuk bisa memahami dan mengerti maksud dari surat tersebut? Nggak bisa. 

Mereka, yang notabene nggak mengerti tentang basis ajaran Islam, nggak akan bisa mengerti kenapa agama kita menyuruh umatnya untuk memilih pemimpin yang muslim. Sama seperti gue yang nggak mengerti dengan sistem missionary gereja, yang sampai rela pergi ke daerah-daerah terpencil menargetkan muslim-muslim kurang mampu untuk digoyahkan keimanannya, dengan niatan ingin menyebarkan ajaran Tuhannya ke seluruh negeri. Karena di agama gue, keyakinan adalah hak setiap individu dan nggak boleh dipaksa. Lakum dinukum waliyadin.

Lalu muncullah video kampanye Ahok-Djarot yang menurut gue hanya menambah bensin ke api yang sedang berkobar. Tepat di detik ke 00:09, segerombolan orang berpeci dan bersorban terlihat sedang berdemo dengan membawa spanduk bertuliskan "Ganyang cina". Ditambah lagi dengan video yang lebih pendek, lebih simple, tapi efeknya sama. Sama-sama bikin api makin besar.

Di situ Djarot bilang, "Pilkada DKI kali ini bukan lagi cuma soal memilih gubernur yang akan melayani rakyat Jakarta. Ini juga soal keberpihakan. Apakah anda memilih berpihak kepada penyeragaman, radikal serta intoleran, atau memilih berpihak kepada keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika?"

Tentu gue sangat kecewa dengan kedua video ini. Gue pribadi pendukung Anies-Sandi, tapi gue sangat anti dengan orang yang tidak bisa bertoleransi. Maka dari itu gue nggak pernah mau menjadikan ras dan agama seseorang untuk gue jadikan sebagai bahan olok-olokan. Apalagi yang menyangkut politik. Karena seperti yang gue bilang di atas, it's stupid, it's unnecessary.

Walaupun gue bisa mengerti bagaimana resahnya kubu sebelah dengan segala macam demo menentang paslon mereka, perasaan didiskriminasi dan merasa disudutkan karena menjadi minoritas nggak bisa menjustifikasi kubu Ahok-Djarot untuk lantas membuat video yang malah balik menyudutkan kubu seberang. Kapan kita bisa balik bersatu lagi, kalau ada beberapa orang dari kedua belah pihak yang saling lempar-lemparan petasan?

Terlebih, salah besar memberi label orang yang tidak mendukung sebagai radikal dan intoleran, karena memilih dan tidak memilih adalah hak masing-masing orang. Dan gue sangat percaya masih banyak orang Islam di Jakarta yang sangat jauh dari kesan tersebut, yang masih menjunjung tinggi kebersamaan, yang masih menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika.

Walaupun gue mengimani Al-Maidah ayat 51, gue nggak merasa perlu untuk selalu mengotori news feed Facebook teman-teman gue dengan artikel-artikel yang menyudutkan atau membuat resah followers Twitter gue dengan kata-kata yang nggak enak. Karena gue tau nggak semua dari mereka adalah muslim. Dan kalaupun dia muslim dan memilih Ahok, gue nggak merasa punya hak untuk mengkafirkan dia. Untuk apa, hanya karena pilkada, gue harus menyakiti hati orang dan membuat hubungan gue dengan dia jadi rusak. Untuk apa gue ikut-ikutan memperburuk suasana?

Menurut gue, mengimani sesuatu itu bukan berarti kita harus terus-terusan mempublikasikannya di khalayak umum. Terlebih dalam kasus ini. Gue nggak mau image umat muslim rusak hanya karena keegoisan dan ketidakhati-hatian gue dalam berbicara yang akhirnya membuat gue diberi label "intoleran".

Karena udah banyak sekarang artikel luar negeri mengenai kasus blasphemy Ahok yang sering kali menyudutkan kubu gue, kubu yang berseberangan dengan Ahok. Mereka mem-portray seakan-akan kami adalah radical islamist, yang nggak mau ada non-muslim yang bisa tinggal nyaman di negeri kami.

It's wrong. It's totally wrong. Karena gue sebagai muslim meyakini setiap ajaran dari agama gue. Islam melarang gue untuk menjadi orang yang membenci. Islam melarang gue untuk mengusik keyakinan orang lain. Islam menyuruh gue untuk menjadi orang yang bijak, yang menyikapi segala hal dengan kepala dingin. Islam menyuruh gue untuk menjaga lisan, supaya gue nggak menyinggung orang lain. Islam nggak pernah mengajarkan gue untuk intoleran ataupun untuk anti dengan kaum lain. Gue tidak pernah mem-promote kebencian. Islam tidak pernah mem-promote kebencian.

Inti dari tulisan ini adalah, gue menyayangkan kedua kubu yang sering kali sama-sama kekanak-kanakan dan suka saling serang. Menyayangkan kedua kubu yang terlalu sering memainkan kartu ras, kartu agama, dan kartu-kartu lainnya yang sudah pasti akan susah buat disatukan pemahamannya, yang sudah pasti nggak akan berujung baik malah membuat kita terpecah-belah.

Entah apakah tulisan ini akan mengubah sedikit situasi sekarang ataupun hanya akan jadi another post yang membicarakan tentang pilkada, gue hanya berharap semoga kita semua bisa lebih cerdas dan lebih bijak tentunya. 

Segala bentuk kekacauan yang terjadi di Jakarta/Indonesia sekarang sebenernya bisa dihindari seandainya kita bisa berpikir dulu sebelum berbicara dan bisa menghargai orang lain yang punya pemahaman berbeda dengan kita.
Share:

3/15/2017

Sindiran Berbulu Dakwah

Selama di FHI kerjaan gue seharian cuma bikin analyte dan nontonin master defense salah satu temen satu institut. Abis bubaran gue baru inget semua bahan makanan di rumah udah habis, bahkan beras pun nggak ada. Terpaksa lah gue belanja dan ngerjain beberapa urusan dulu. Sama aja bohong sih hari ini gue balik lebih awal dari biasanya, ujung-ujungnya nyampe rumah malem juga.

Ngomong-ngomong kali ini gue bukan mau ngobrolin soal keseharian gue. Karena seperti yang lo ketahui, gue nggak terlalu menganggap keseharian gue menarik buat ditulis. Gue, seperti biasa, mau ngeluarin uneg-uneg yang udah agak mengganggu pikiran beberapa hari ini. Beberapa waktu lalu gue sempet posting "Diam itu Tidak Selalu Emas". Di sana gue ngomongin tentang orang yang mengolok-ngolok apapun yang berhubungan dengan Islam. Entah itu ajarannya, orang-orangnya, dan ulamanya. Sekarang biar adil, gue mau ngomongin the other side of the spectrum: orang Islam yang suka nyinyirin orang lain yang mereka pikir nggak lebih alim dari pada dia.

****

Beberapa minggu terakhir ini gue sering banget menemukan orang-orang yang--dengan gampangnya--nyuruh/menyinggung gue untuk cepet nikah. Nope, bukan karena gue udah di umur di mana gue--seharusnya--udah menikah. Melainkan karena gue yang berhijab, tapi malah pacaran. What a contradiction. (btw, sebenernya apa sih definisi "umur yang sebenernya udah harus nikah". Seakan-akan yang mengatur datangnya jodoh dan terjadinya pernikahan itu manusia. Gimana kalau udah umur 40 tapi jodohnya belom dateng? Salah manusianya gitu?)

So basically orang-orang ini pingin memberi tau hal yang obviously obvious; dating is forbidden in Islam. Funny enough, mereka selalu bilang kalau mereka sebegitu pedulinya sama gue, maka terbentuklah urge yang sebesar itu untuk langsung nyampein ke gue. Di sini gue dibikin bingung sebetulnya. Di satu sisi gue berterima kasih karena mereka peduli sama gue. Di lain sisi--dan yang nyatanya lebih mendominasi--adalah perasaan annoyed yang muncul tiap kali gue dinyinyirin soal ini. Apa yang biasanya gue lakuin? It depends. Sering kali gue hapus komennya. Tapi kalau udah nggak tahan, gue langsung balik bertanya. Bro, you wanna make me feel worse about myself or what?

Gue percaya kalau cara menyampaikan nasehat atau berdakwah itu sama pentingnya dengan niat. Seseorang yang berniat baik mengingatkan seorang muslim lain, yang dia lihat sedang melakukan hal yang jauh dari ajaran agama, seharusnya juga memiliki cara penyampaian yang sama baiknya dengan tujuannya tersebut. So, basically kalau ada yang bilang "Git, lo nggak boleh jadi defensive gitu dong kalau ada yang ngingetin lo." is pretty much rubbish. Karena gue yakin 100% kalau Rasulullah se-judgmental orang-orang tersebut, nggak bakal ada yang mau masuk Islam. Agama ini nggak akan pernah ada. 

Setiap kali ada hal aneh yang terjadi, gue selalu mencoba untuk put myself in their shoes. Berusaha untuk memposisikan diri sebagai pendakwah judgemental ini. Hasilnya? Gue sampe sekarang nggak bisa relate. Bertahun-tahun gue pakai internet, nggak pernah sekalipun gue pointing out dosa orang random di sosial media manapun. Nyinyir yang disimpen buat diri sendiri itu lain cerita. Setiap orang berhak punya opini masing-masing. Everyone is judgemental anyway. Tapi sampai men-transform nyinyiran/judgement tersebut menjadi kata-kata dan actually put that much effort untuk ngepost kalimat tersebut di kolom komentar itulah yang ajaib. Buat gue hal tersebut terlalu makan waktu dan energi untuk dilakukan. Apparently banyak orang yang nggak masalah membuang waktu dan energinya untuk ngedakwahin orang di forum terbuka, di dunia maya, dan bisa dilihat sama ratusan orang lainnya.

Terutama ketika hubungan antara si penasehat dan yang dinasehatin ini hanya sebatas follower dan yang difollow (seperti dalam kasus gue). Bukannya gimana-gimana, tapi gue merasa dengan adanya sosial media, yang memang tujuannya adalah sebagai platform untuk membagikan snippet kehidupan kita, banyak orang jadi merasa udah paham dari A sampai Z semua realita yang ada. Penggunanya semacam nggak tau lagi di mana batas yang nggak boleh dilewatin dan nggak tau lagi gimana caranya menghargai privasi orang lain. As a result, pengguna sosmed sangat gampang untuk mencibir orang terang-terangan di foto/akun orang. Tanpa pikir panjang kalau si orang yang diselepetin ini bisa sedih dan tersinggung. 

Dan masih nggak terbayangkan juga oleh gue, betapa susahnya mindset "orang di internet hanyalah orang di internet" untuk bisa terbentuk di otak pengguna sosmed. Those people are just strangers, yang kehidupannya nggak kita ketahui. Kita nggak tau sama sekali masalah apa yang lagi mereka hadapi, kita nggak tau situasi dan kondisi yang sedang mereka alami. Kita hanya tau 0,000001% dari semua kenyataan yang ada, walaupun tiap saat kita ngelihat foto atau vlog mereka di dunia maya. Kita sama sekali nggak berhak untuk menyinggung hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka, karena setiap manusia berhak untuk dihargai privasinya. And yes, telling someone to get married because dating is haram means you don't respect her private life. It's her life, bro. It's her life.

Gue tanya laki-laki ini, yang "wkwk-in" gue karena gue pacaran, apa tujuan dia menyampaikan hal tersebut. Dia bilang, dia nggak bermaksud apa-apa dan cuma ingin mengingatkan. Balik lagi ke pernyataan di atas, he should've found another way to approach me, kalau dia emang beneran peduli. Setau gue memojokan orang dengan dosa yang dilakukannya itu bukan bentuk kepedulian. Mungkin ada sensasi tersendiri yang dirasakan orang-orang yang suka berdakwah-padahal nyinyir ini. Mungkin ada kepuasan dalam diri mereka, bisa bikin orang lain jadi merasa buruk. Seandainya temen-temen gue yang alim-alim itu, yang gue kenal secara personal itu, nyindir-nyindir dosa gue, nggak bakalan gue kayak sekarang. Nggak bakalan. Tapi hati gue malah terbuka karena despite gue yang penuh dosa ini, mereka nggak pernah sekalipun nyinyirin gue. Nggak pernah sekalipun menyinggung gue yang saat itu pacaran sama Paulus yang masih kristen.

Itu alasan kenapa gue sangat anti dengan dakwah nyinyir di sosial media, especially from strangers. That's not how da'wah works. Islam nggak pernah promote cara berdakwah yang begini, yang malah bikin orang "begajulan" jadi makin menjauh dari kebenaran. Gue bisa ngomong begini karena gue tau betul. Gue hijrah karena saudara seiman di kanan dan kiri gue nggak pernah mencari-cari kesalahan gue, mencari-cari dosa gue, tapi mereka selalu mencari hal positif dari diri gue. Dan malah itu yang ngebikin gue termotivasi untuk jadi muslim yang lebih baik lagi.
Share:
Blog Design Created by pipdig