by Gita Savitri Devi

1/16/2017

Generasi Tutorial

"Kak, gimana sih caranya biar bisa kritis kayak Kak Gita?"
"Kak, gimana caranya Kak Gita bisa banyak tau tentang macem-macem?"
"Kak, biasanya Kak Gita baca berita di mana?"
"Kak, gimana sih cara Kak Gita baca berita gitu? Liat di mana? Kak Gita kan sibuk kuliah."

Pertanyaan di atas adalah beberapa dari pertanyaan lucu yang sering gue dapatkan dari orang-orang di internet. Not just funny, but until now these questions remain unanswered since I am still not able to respond to any of them.

Sejak beberapa tahun belakangan ini kayaknya pengguna internet di Indonesia makin meningkat. Mungkin karena makin lama harga smartphone dan harga kuota internet makin terjangkau, aksesnya pun jadi makin mudah. Nggak cuma di Indonesia doang kayaknya. Di belahan dunia lain orang-orang juga makin melek internet. Tua, muda, tinggal di kota, di desa, semua udah familiar dengan internet. Konklusi yang gue dapet? Kemajuan teknologi nggak lantas membuat masyarakat Indonesia mengubah tabiatnya. Nggak nyambung. Okay, let me explain it to you. Mungkin buat beberapa orang internet semacam savior kali, ya. Dari yang biasanya cuma punya TV atau buku sebagai sumber informasi, sekarang tinggal buka laptop/pc/hape dan cari informasi yang kita mau. Dulu orang-orang rantau macam gue mungkin sebelum ke luar negeri harus diajarin dulu cara masak sama nyokapnya. Sekarang tinggal cari resep dan ikutin langkah-langkahnya. Dulu mahasiswa harus banget pinjem buku di perpustakaan. Sekarang dengan bantuan Wikipedia kita bisa dapetin gelar sarjana. Lo pernah denger nama "Julius Yego"? He's an athlete from Kenya, javelin thrower, a great one to be exact. Dia kemaren berpartisipasi di olimpiade Rio. Gimana cara dia belajar jadi atlit javelin? Lewat YouTube. Mengetahui begitu banyak hal yang bisa kita pelajari di internet, pertanyaan-pertanyaan di atas jadi terlihat invalid. But you see my point? Kemajuan teknologi nggak lantas membuat masyarakat Indonesia mengubah tabiatnya.

Kalo lo tanya ke gue kenapa Indonesia, walaupun udah berkali-kali upacara 17 agustusan, sampe sekarang tetep nggak maju-maju, jawabannya adalah karena orang Indonesia itu pemalas dan nggak ada inisiatif. Semua-muanya harus dikasih tau, harus dicekokin, harus disuapin. Mungkin untuk negara maju dengan adanya internet segala urusan mereka bisa sangat terbantu, tapi nyatanya nggak buat negara kita. Terlebih anak mudanya, ya. Karena sekarang banyak konten-konten tutorial bermunculan, dari tutorial makeup sampe tutorial ngangetin makanan di mikrowave, mereka pikir semua aspek di dalam hidup juga harus ada tutorialnya. What does it lead to? Daripada buka browser, mengetik apapun pertanyaan mereka di search engine, dan pilih-pilih sendiri artikel yang mau dibaca, mereka lebih seneng nanya orang random di sosial media--disuapin langsung jawaban atas pertanyaan mereka. Oh, I know what I'm talking about. Pernah ditanya orang gimana cara ngilangin rasa malas? Pernah ditanya orang 1 euro berapa rupiah? Pernah ditanya orang harga tiket pesawat dari Jakarta ke Berlin? Gue sering. Internet adalah jendela dunia. Sorry, but it doesn't apply to my country. Internet membuat masyarakat Indonesia makin lumpuh, makin nggak ada rasa ingin tau (tapi anehnya rasa ingin tau terhadap kehidupan orang lain malah makin tinggi. Di situ lah kata "kepo" muncul), makin nggak bisa menjadi diri yang indepedent, dan makin jauh dari ekspektasi. Internet nggak membuat orang Indonesia jadi pintar. Thanks to the internet barusan gue jadi tau kapan sebenernya internet masuk ke Indonesia. Despite keberadaan internet yang ternyata sudah dari awal tahun 1990an banyak dari kita yang masih nggak tau kalau dunia maya itu (bisa jadi) lebih luas dari dunia nyata. Banyak dari kita yang masih nggak sadar kalau internet bukan sekedar sosial media. Internet bukan cuma berisi tentang info orang yang lagi lo kepoin. Internet bukan cuma diisi sama online shop. Tapi mengingat tabiat jelek orang Indonesia yang gue sebut di atas, gue pun nggak heran dengan kenyataan yang ada. Se-triggered-nya gue dengan pertanyaan 1 euro berapa rupiah, nyatanya bagian kecil dari otak gue tau kalau semua ini harus dimaklumi.

Beberapa waktu yang lalu (terima kasih kepada kehidupan politik Indonesia yang nggak berkontribusi positif terhadap kecerdasan bangsa dan kepada bangsanya juga yang memang nggak mampu untuk dikasih politik "cerdas") kita jadi sering banget denger kata "hoax". Nyatanya masih banyak orang Indonesia yang nggak bisa bedain mana berita bener dan berita boong. Nyatanya masih banyak orang Indonesia yang kemakan berita hoax dan akhirnya ribut-ribut sama strangers di internet. Lagi, se-denial gue dengan kenyataan kalau orang Indonesia gampang banget dibikin berantem sama berita provokatif, otak gue tau kalau semua ini harus dimaklumi. Jangankan memilah berita, nyari berita aja orang Indonesia males. Akibatnya banyak orang-orang yang memanfaatkan keignoranan netizen Indonesia dengan cara bikin "portal berita" nggak jelas dan nyebarin beritanya di Facebook atau di sosial media lainnya. Efektif, nggak? Banget. Buktinya berita-berita tersebut selalu viral dan comment sectionnya selalu seru dengan orang berantem. Yang lebih menyedihkan lagi adalah netizen Indonesia nggak sadar kalau mereka lagi dibodohin, tapi malah merasa fully informed dan dengan agresifnya mencoba untuk "enlighten" orang-orang yang memiliki opini bersebrangan dengan mereka karena mereka ngerasa paling bener. Indonesia, negara yang nggak tau kapan majunya.

Kemaren gue dan beberapa temen membicarakan hal yang serupa, kebutaan masyarakat terhadap dunia maya dan ketidakmampuan mereka untuk keep up dengan kemajuan teknologi. Obrolan dimulai dengan gue yang mengeluhkan pertanyaan bodoh yang sering gue dapet di sosial media, dilanjutkan dengan banyak orang Indonesia yang masih nggak tau fungsinya e-mail (padahal kalau mau main sosmed harus pake e-mail ehm.), berlanjut ke fenomena Pokemon Go yang bikin abang-abang counter hape kebanjiran rezeki karena banyak orang yang minta mereka untuk download-in game nya di hape, berakhir dengan gimana netizen Indonesia menghadapi fake news yang sekarang beredar di mana-mana. A friend then came up with the idea of an app that can help users to sort out the news. Jadi, berita di app tersebut adalah berita yang udah terkonfirmasi kebenarannya dan berita yang bersumber dari portal berita legit semata. Gue cuma bisa ketawa. "Coy, gue ngerti keinginan lo nyuguhin mereka dengan berita legit. Tapi orang-orang itu nggak ada yang download app lo in the first place.". Dikasih berita di depan muka aja yang dilihat cuma headlinenya. Boro-boro mau download app portal berita, boro-boro berinisiatif ngebandingin sama sumber berita yang lain, boro-boro berinisiatif cari sendiri berita benernya. It is sad but that, my friend, is the reality. Sekarang solusinya apa? Kalau lo bertanya ke gue apa solusinya, pertanyaannya sama membingungkannya dengan "gimana cara Kak Gita bisa berpikir kayak gini?". Gue hanya bisa mengerutkan dahi dan bertanya dengan diri gue sendiri, "Bukannya semua orang punya otak, ya? Bukannya fungsi otak buat mikir, ya?". Lalu apa solusinya? Bukannya udah ada di nature manusia untuk mencari solusinya sendiri, ya? 

Setiap kali gue berdiskusi tentang masalah ini ke Paul kami berdua selalu bertanya-tanya dan pertanyaan kami masih belum didapetin jawabannya. "Kenapa orang Indonesia nggak ada inisiatif bergerak sendiri seperti layaknya manusia normal dan nggak ada rasa ingin tau ketika mereka memiliki lubang-lubang informasi di otak mereka yang harus diisi? Kenapa mereka nggak tergerak untuk mencari tau ketika mereka sadar kalau ada banyak hal yang mereka nggak tau? Instead, hence the title of my post, masyarakat Indonesia ternyata harus selalu dituntun dan disuguhkan. Generasi kita adalah generasi tutorial. Masyarakat Indonesia ternyata harus dikasih ikan, karena mereka nggak tau caranya memancing. Wait, apa sebenernya orang Indonesia nggak sadar kalau mereka sebenernya banyak nggak tau?

Kemaren malem sembari gue beres-beres dapur gue coba pikir-pikir lagi. Terus gue iseng nelfon Paul ngobrolin tentang macem-macem, dari debat calon gubernur DKI sampe celotehan gue dan temen-temen gue di sore harinya. Bukan mau mencari jawaban atas pertanyaan gue di atas, tapi sekedar pengen mengeluarkan uneg-uneg di kepala. Entah gimana thought processnya, tiba-tiba gue dilanda rasa sedih dan pesimis. Terlalu jauh sih gue loncat dari tema netizen Indo yang males cari berita ke permasalah ini. But I tend to overthink. That's why. Sebenernya pikiran ini udah terlalu sering tiba-tiba muncul di kepala. Harusnya gue nggak menjadikan sedih dan pesimis ini sebagai reaksi lagi. Buat gue, nggak masuk akal negara yang begitu besar, yang level kesejahteraan dan pendidikannya terlalu timpang, yang kehidupan ekonominya masih terlalu terpusat di ibu kota, yang masih struggling sama urusan public transportation, harus mengadaptasi sistem yang ada sekarang. Sebenernya rakyat Indonesia belom siap buat memilih pemimpin buat mereka. Mereka belom siap buat jadi penonton permainan politik Indonesia. Gimana kita mau punya pemimpin yang beneran capable dan beneran pinter, kalau yang memilih aja gampang dibodohin sama berita palsu, gampang ditipu sama pencitraan klise, dan gampang diadu domba pake isu SARA. Rakyat Indonesia, disebabkan oleh kemalasannya sendiri, ketidakpeduliannya sendiri, dan keignorannya sendiri, cuma akan dijadiin korban. Media-media busuk yang nggak tau lagi caranya netral, politisi-politisi culas yang gampang aja pura-pura jadi domba padahal serigala, dan pejabat lain yang bilangnya pingin ngebenerin Indonesia padahal cuma pingin tahta, akan terus jadiin rakyat sebagai korban. Kita itu nggak sadar kalau kebodohan kita adalah boomerang yang berbalik. Generasi muda yang tau cara main sosial media dan bahkan bisa ngepoin orang kayak agen CIA, tapi nggak tau caranya meng-inform diri mereka sendiri, itu fatal banget. Kita lho yang nanti harus take over negara ini. Kalau kita aja segitu butanya dengan sekitar, cuma tau apa yang lagi nge-trend doang, cuma tau apa yang menghibur doang, cuma tau cara pake Instagram doang, tau cara nanya orang di Ask FM tapi nggak tau caranya googling, tau caranya posting foto lagi makan di restoran kece ke Instagram tapi nggak tau caranya baca berita--nggak tau caranya nyari berita, nonton YouTube cuma nonton vlog doang,  cuma nonton makeup tutorial doang, mau pake jilbab aja harus lagi-lagi liat tutorial, cara belajar mesti liat tutorial, mencari motivasi kuliah aja harus minta cariin sama orang di Ask FM,

Indonesia mau dibawa kemana?
Share:

1/10/2017

New York Calling - Day One

Hari pertama di New York dimulai dengan ketemuan dengan bokap di Grand Central Terminal. Gue yang tinggal di The Bronx butuh waktu sekitar 40 menit untuk ke Downtown. Karena gue juga udah terbiasa dengan sistem subway, gue nggak ada masalah untuk beli tiket dan ke sana sendirian. Pagi itu gue pake tiket single ride karena gue masih belum tau apakah worth it beli tiket subway yang 7 hari. Gue belum tau apakah tempat-tempat yang akan gue kunjungi itu jauh-jauh atau bisa dijangkau jalan kaki. But I ended up buying the 7 day metro card karena yang single ride cuma valid 2 jam dan nggak bisa buat bolak-balik.

Single ride metro card costs $3

I recommend you to buy this one if you're planning to stay in the city for a week or so. It costs $31.


Sesampainya di Grand Central Terminal kita berdua langsung cari sarapan. Karena gue nggak sempet makan banyak kemarennya pas bangun gue laper abis dan gue nggak sempet beli makan buat ngemil-ngemil. Gue langsung tau mau makan di mana: Shake Shack. Awalnya gue nggak ada intention buat makan burger pagi-pagi. Because, hello! Siapa coba yang makan daging buat sarapan? Tapi pas ketemu Shake Shack gue langsung meyakinkan bokap gue kalo ini adalah pilihan yang tepat lol. Restoran cepat saji ini emang udah masuk what-to-eat list gue karena dari yang gue denger burgernya enak untuk ukuran restoran fast food. Untung banget kita sampe di sana ketika dia baru buka. Kami jadi nggak perlu ngantri panjang-panjang. 

Okay, sebelum kita membahas burger dewa ini, I want to take sometime to appreciate the beauty of Grand Central Terminal. Gue tau gue tinggal Eropa dan mestinya gue udah terbiasa dengan bangunan-bangunan lama. Tapi yang satu ini menurut gue tetep unik. It felt so classic. Bukan European classic, tapi American classic. Ketika gue turun dari subway dan pergi menuju main hall terminalnya, gue berasa kayak di film. I was so mesmerized by all the details that complete the whole american classic atmosphere. Bayangin, seragam petugas di terminal ini aja layaknya petugas kereta jaman dulu. It fits the whole theme! This place is also huge. Saking gedenya gue ampe nggak tau gue mesti kemana. Di setiap section terminal ini selalu aja ada tempat-tempat aneh. Di lantai bawah ada food hall, di sisi sebelah mana lagi ada semacam food market, di sisi yang lain lagi ada toko-toko. Intinya ini tempat cocok buat main petak umpet.

Stasiun ini selalu dipenuhi oleh orang-orang

Of course, the American flag

Cool hat! Don't you agree?

Arsitektur luar Grand Central Terminal


Now let's talk about the burger. Burgernya enak. Level enaknya makin nambah karena perut gue juga lagi kosong. Pattynya jauh lebih juicy ketimbang burger di McDonald's yang super kering kayak berasa lagi makan dendeng (jangan disamain sama burger €1-nya McD kali, Git). Yang lebih enak adalah bun nya. Rotinya nggak terlalu kaya roti burger fast food karena it looked and tasted like "real bun" (if you know what I mean). I remember shoving it into my mouth in just like 10 minutes sampe bokap gue nanya "Gita masih laper?". Nggak, pa. Laper dan burgernya emang enak.

Look at this beauty!


Setelah sarapan bokap dan gue beranjak dari Grand Central dan menyusuri sekitaran kota. Tujuan pertama kita adalah Empire State Building. Setelah gue perhatiin ternyata hampir semua tourist attractions di New York bisa dijangkau dengan jalan kaki. Jadi ketika lo udah berada di Downtown Manhattan, lo nggak terlalu butuh naik subway terus sebenernya. Kecuali kalo lo nggak suka atau nggak terbiasa jalan banyak. Tapi karena gue emang sangat suka jalan, jadi gue seneng-seneng aja. Sampe terkadang gue lupa kalo bokap gue udah tua dan nggak bisa lama jalan kaki. My first glance of the city was the buildings and pretty crowded street. Gue langsung dapet feel kalau New York memang pantes disebut sebagai kota tersibuk di dunia. Karena emang ini kota metropolitan banget. Everyone was moving fast, hustling, looked busy and always in hurry. Di satu sisi gue yang turis ini butuh pace lebih lambat untuk menikmati kota ini. That's one thing I found a bit hard to do there, trying to slow down when everyone was moving rapidly. Karena para New Yorker ini selalu tergesa-gesa, gue harus selalu aware untuk nggak tiba-tiba berhenti ketika lagi di jalan untuk liat peta atau ngambil foto suatu gedung. Gue harus melipir ke sisi kiri dulu. Kalau nggak gue bisa kena marah dan mengganggu kelancaran lalu lintas di trotoar. Yep, New York adalah satu-satunya tempat di mana gue berasa kayak lagi nyetir di jalan raya, padahal gue lagi jalan kaki di trotoar. Mungkin lain kali gue bahkan harus nyalain lampu sen biar orang belakang gue tau kalo gue mau belok. But what I like about this city is the fact that the pavement is huge. Trotoarnya bisa muat ampe dua mobil kali ya, jadinya emang nyaman banget buat pejalan kaki walaupun harus macet-macetan atau harus jalan tapi lari kayak orang jogging.





Okay, where are we now? Ah iya, Empire State Building. Di sini lo bisa ngeliat kota New York dari atas, dari lantai 86 atau lantai 112. Harga naik ke lantai 86 lebih murah ketimbang kalau lo naik sampe ke lantai 112. Sebagai student dan bukan anak konglomerat sudah tentu gue memilih yang harganya lebih murah. Was it worth the money? Absolutely. Melihat pemandangan New York skyline adalah salah satu kegiatan yang HARUS lo lakukan at least once in your life time. It's that beautiful and you won't get any view like this other than in this city.





Selama di atas gue selalu terpana ngeliat setiap bagian New York. Manhattan literally penuh dengan gedung-gedung tinggi sampe di point di mana menurut gue kota ini terlalu banyak gedung. As a person living in Germany gue ngeliat NY kurang lahan hijau dan sebenernya kalau lama-lama tinggal di Manhattan mungkin sesek juga kali ya. Bangun tidur yang dilihat gedung, pergi ke kantor lihat gedung, pulang ke rumah lihat gedung. Tapi di satu sisi itulah yang bikin NY itu charming.


Setelah menghabiskan waktu di Empire State Building bokap dan gue lanjut ke tujuan selanjutnya, Times Square. Dalam perjalanan menuju sana, kita ngelewatin Bryant Park dan New York Library. There's nothing that special about Bryant Park tho. Hanya terdapat kios-kios kecil yang kayaknya ada di sana dikarenakan lagi suasana menjelang natal dan arena ice skating yang cukup penuh.




After a lot of walking and (maybe) riding a subway we finally made it to Times Square. First impression? It wasn't like how I had in mind. Gue kira Times Square akan vavavoom dan over the top, but in the reality it was just a place full of billboard and light. Area Times Square dan Broadway lebih berantakan dan kotor dibanding area lain di New York. Mungkin karena isinya juga turis dan orang-orang yang pake kostum aneh-aneh buat foto bareng turis. Intinya gue nggak impressed. But to be honest Times Square lebih menarik ketika di malam hari. It reminded me a bit of Las Vegas yang terlihat berantakan di siang hari, tapi ketika malam kota nya jauh lebih indah dan lebih hidup. But it was pretty amazing seeing something you normally saw on the internet. Now it was in front of you. It felt surreal.

Billboard, billboard everywhere


Times Square selalu penuh dengan orang (duh)


Tujuan selanjutnya adalah Rockefeller Center. Sampe sekarang gue sebenernya nggak ngerti Rockefeller Center itu apa. Di sana ada studio NBC dan pohon natal terbesar di New York yang biasa kita lihat di film Home Alone 2 dan yang jelas ini adalah salah satu tourist attraction juga. Ah, satu lagi. Di deket Rockefeller Center ada salah satu tempat yang wajib gue datengin, Magnolia Bakery. Gue lebih excited sama itu sih karena finally gue bisa nyobain banana pudding yang terkenal itu!

That famous christmas tree
Huge picture of Jimmy Fallon in the NBC merchandise store

Not the one in Sex and The City, but I came here just for the banana pudding

Sebelum gue jalan-jalan ke New York gue banyak research di internet tentang apa aja yang harus gue cobain. Then this bakery came up on the list. I've heard about this place before but not really in details. Lalu gue pun baca-baca blog orang, forum, dan nonton video NY travel di YouTube kalau tempat ini is a must to visit. Of course I bought the banana pudding and that thing only (because I'm not into cupcake and other stuffs). They came in three different sizes; small, medium and large. The small one would be enough if you just wanna try how it tastes. It's enough for you to enjoy without getting sick or anything. Rasanya gimana? Enak banget. I'm a fan of banana anything and this one is not an exception. It tastes really creamy and they put the real banana inside. Gue bawain Paul yang size medium dan dia juga suka banget.

Make sure to get your hands on this little fella if you come to New York


That's it. That's what I did on the first day. I hope you guys enjoy my story. Bear with me because there are still a lot to come.
Share:

1/08/2017

New York Calling - Arrival

Hari itu adalah hari yang gue tunggu-tunggu. Tanggal 20 Desember 2016 gue berangkat dari Berlin Tegel ke New York JFK. Sehari sebelumnya di Weihnachtsmarkt am Breitscheidplatz terjadi terrorist attack. Seorang cowok nabrakin truk gede yang dia rebut dari supir perusahaan besi asal Polandia ke pasar natal ketika orang-orang lagi rame. Pada hari itu doi belom ketangkep dan lagi melarikan diri. Seperti yang pernah gue sebut di salah satu video gue di YouTube gue takut banget. Takut tiba-tiba depan gue ada orang bom bunuh diri karena bandara sangat memungkinkan jadi sasaran selanjutnya. Tapi alhamdulillah imajinasi gue yang terinspirasi dari film itu nggak terjadi.

Tadinya gue ke New York pingin naik Air Berlin, tapi pas gue check lagi ternyata ada lagi maskapai yang lebih murah saat itu. Jadilah gue naik American Airlines. Perjalanannya nggak terlalu lama ternyata. Dari Berlin gue harus terbang dulu ke London Heathrow yang cuma memakan waktu sekitar 1 jam 50 menit. Dari sana gue cuma transit selama 2 jam dan lanjut lagi ke New York yang juga cuma 7 jam. Kali itu adalah kali pertama gue naik American Airlines. Kesan dan pesan gue sih standar aja. Makanannya lebih sedikit daripada yang biasanya gue dapet kalau gue naik Emirates. Seinget gue, gue selalu dikasih makan sampe gue nggak pernah laper di pesawat kalau gue balik ke Jakarta dari Berlin. Film di pesawat juga standar aja seperti maskapai pada umumnya. Ada satu yang menarik perhatian gue. Ketika di London sebelum gue naik pesawat gue harus melalui security check di depan gate flightnya. I'm not talking about security check bandara pada umumnya, ya. Tapi security check dari pihak American Airlinesnya. Penumpang selain american citizen ditanya-tanyain seperti pada saat ngambil U.S. visa. Selain ditanyain alasan gue ke sana dan berapa lama gue akan stay, gue sampai harus ngasih alamat tempat gue tinggal selama gue di Amerika. Nggak cuma sekali lho, tapi dua kali. Pertama sama mas-mas yang berdiri di depan awal antrian (dia cuma nanya gue asal dari mana dan apa kerjaan gue di Jerman). Kedua sama mas-mas yang biasa ngescan tiket di gate (dia yang minta alamat lengkap gue, dsb). Aneh karena belom pernah gue liat ada security check depan gate kayak gitu sebelumnya. But whatever, it's United States after all.

Jam 11an malem pesawat gue mendarat di bandara John F. Kennedy. Beda banget dengan terakhir kali gue ke Amerika, sekarang kita nggak mengisi declaration form secara manual. Semuanya udah bisa dikerjain secara automatis dengan Automated Passport Control. Dengan program punya U.S Customs and Border Protection ini kita cukup ngescan paspor, ambil foto muka kita, dan ngejawab beberapa pertanyaan standar di satu mesin ini. Setelah selesai akan keluar semacam receipt yang harus kita kasih ke petugas imigrasinya. Entah akan diapain itu kertas. Petugasnya juga biasa aja sih, nggak serem.

Automated Passport Control kiosk

Setelah selesai semuanya gue cepet-cepet ambil bagasi dan keluar untuk ketemuan dengan bokap gue yang ternyata udah sampe duluan. Dari sana kita berdua naik Uber buat ke AirBnb gue. Dari JFK ke Downtown naik Uber ternyata cukup mahal walaupun harganya flatrate. Lo akan kena biaya $69 tanpa harus bayar biaya tol. Selama di New York gue memilih untuk tinggal di Airbnb. Entah kenapa gue seneng aja tinggal di sana. I've had some experiences with Airbnb and all of them were great. Selain harganya lebih murah ketimbang kalau stay di hotel, gue juga bisa ngobrol-ngobrol sama yang punya rumah. Airbnb gue letaknya di The Bronx, tepatnya di daerah University Heights. The Bronx ini bukan daerah fancy kayak Manhattan, tapi cukup nyaman. Kebanyakan yang tinggal di sana adalah orang hitam dan orang latin. Jadi setiap gue keluar rumah atau pulang, gue selalu satu kereta sama orang-orang itu. Asik sih, walaupun kalau diliat-liat kocak aja karena gue selalu menjadi satu-satunya cewek Asia pake kerudung di dalam gerbong. Kamar gue cukup nyaman dan tempat tidurnya gede. Yang stand out dari Airbnb kali ini adalah hostsnya asik-asik banget. Rossy adalah backpacker. In fact dia pernah ke Indonesia tapi bukan ke Jakarta. Gue bilang ke dia nggak usah ke sana karena nggak ada yang menarik selain liat mobil lagi macet-macetan di jalan. Adeknya, Juan, adalah bagian dari NYPD. Orangnya kocak banget, chill, outgoing, dan friendly abis. Saking friendly-nya gue sama dia sampe pernah maen PS bareng. Padahal gue udah bilang gue nggak bisa maen game console gara-gara pas kecil nggak diizinin main game sama nyokap. But he insisted to teach me karena dia bilang game sekarang itu nggak cuma sekedar game, tapi ada ceritanya juga. So bad that I didn't have a chance to take photo together with them. I didn't even get to take a picture of my room!

Map of New York City

Malem itu gue capek banget tapi excitement gue jauh lebih gede dari pada rasa capek gue. I couldn't wait to explore the city karena dari dulu gue sangat amat pingin banget ke kota ini. Entah karena banyak film yang gue tonton berlatarkan New York atau memang U.S memiliki tempat spesial di hati gue since it was the first country I visited. Gue ngecheck lagi travel itinerary yang udah gue bikin jauh hari sebelumnya untuk mastiin tempat aja yang akan gue kunjungin besok. Yang nggak kalah penting adalah makanan apa yang harus gue cobain.


Stay tuned because I got bunch of stories to tell you about!
Share:

1/07/2017

Being A Woman on Social Media

Setelah mulai dapet banyak attention dari netizen overall it's a nice feeling I must say. Karena lewat media gue bisa dapet feedback super positif dan encouraging yang biasanya dikirim orang-orang entah lewat comment section di blog ini, lewat direct message di Instagram, atau juga lewat comment section di YouTube. Believe it or not I read each and every comment I got whether it's positive or borderline hating because I love getting feedback as it helps me a lot to grow as a person. Dan gue juga seneng banget kalo sedikit banyak bisa ngasih inspirasi (seperti yang banyak orang bilang although gue nggak pernah merasa ngasih apa-apa). But that's not what I want to talk about. Let's talk about being a woman on social media.

Menjadi wanita di tengah-tengah hiruk pikuk sosial media itu susahnya minta ampun. At some point you will realize that you don't get enough respect you should have had, not just as a woman but as a human being. Terutama respek dari lawan jenis. Gue tau kalo di sosial media itu it's all about how you look. Entah itu netizen perempuan ataupun lelaki, yang pertama mereka lihat ketika ketemu suatu akun entah di platform apapun adalah muka. Bening apa nggak, kece atau nggak. Kalau lo jelek ya they won't care about you in the first place. Kalau (menurut mereka) lo cakep they will be interested in you and at some point maybe they will say something about your appearance. That's the first problem I have with our culture. Why does our society put looks on top of everything? Why do we care so much about appearance? Kenapa banyak orang bisa seenaknya seakan-akan dia juri Miss Universe yang lagi menilai fisik seseorang? "Ah, mukanya jelek." atau "Yaa lumayan sih tapi jidatnya gede banget.". Lo pasti sering kan denger percakapan kayak gitu atau bahkan terkadang juga berada di percakapan itu? Lo lagi ngepoin orang di sosmed bareng temen lo. Terus lo berdua nge-scanning mukanya, gayanya, semuanya lo scanning dari atas sampe bawah. And that leads to what's have been around this past hundred years: cewek-cewek yang "atraktif" mendapatkan perhatian dan privilege lebih banyak dibanding cewek yang "less attractive". I'm asking you guys, what's with your unhealthy obsession with looks? Dan kenapa harus cewek?? Mungkin beberapa dari lo berpikir, "Git, you sound like a hypocrite. Lo foto-foto di sosial media. Lo promote something yang berhubungan dekat dengan penampilan.". Let me tell you this, I'd still do product placement or whatever I am doing now even though I didn't look like this. Because you know what? I don't give a tiniest s**t about how I look. I don't think I'm ugly nor do I think I'm pretty. I just don't give a damn.

The other thing is guys. I often have problem with how they treat me whether it's on Instagram or YouTube (not all of them obviously). Karena gue sering kali dapet komen yang membuat gue tidak nyaman, membuat gue risih, dan membuat gue merasa tidak dihargai. Let me ask you this, kalo ada cowok yang lo nggak kenal tiba-tiba komen "I love you" di foto lo, "Lo cantik banget deh. Mau jadi cewek gue nggak?", "Jangan cakep-cakep nanti gue sayang.", atau komen-komen disgusting lainnya, how does it make you feel? Mungkin beberapa wanita yang memang senang dapet perhatian dari lawan jenis suka suka aja diginiin, pun nggak suka mungkin mereka nggak akan serisih gue. But not for me. I don't care apakah itu hanyalah bercanda atau apapun karena gue merasa ada banyak hal yang bisa lo lihat dari orang lain selain muka. Pun lo merasa dia cakep atau attractive or whatever, gue tidak merasa ngomen hal-hal inappropriate itu necessary. Because she is a stranger to you and what do you do to a stranger? Do whatever is appropriate. I don't know about you guys, but I believe there is boundary in everything. You cannot do whatever you wanna do. Lo nggak bisa bercanda seperti lo biasa bercanda receh sama temen-temen lo di warkop. There-has-to-be-a-boundary.

Sering kali gue berpikir di mana salahnya. Well, mungkin salah gue dan memang itu resiko yang harus gue terima karena gue harusnya tau mendapat feedback apapun, entah itu relevan atau tidak, harusnya gue telan. Because I decided to get out there and "expose" myself on social media. I should have known. But I still think I deserve a bit of their respect. Karena pertama, gue pake kerudung dan harusnya kalo lo liat cewek pake kerudung lo bisa lah ya sedikit jaga lisan lo. Kedua, gue punya cowok. Okay, I know having a boyfriend is just having a boyfriend. It doesn't really matter because it's not like having a real husband (that's another reason why I kind of wanna get married quickly. Because I would feel more safe at least). But still, bayangin apa coba yang cowo gue rasain kalo liat ceweknya disekilin cowok-cowok nggak jelas di internet? Gue aja merasa disgusted, apa lagi doi? Tapi somehow gue sangat yakin kalo cowok-cowok itu nggak kepikiran sejauh itu.

So what do we have to do now, ladies? Apakah lantas wanita nggak boleh putting herself out there and be the center of attention? Nggak boleh being herself? Nggak boleh diliat oleh orang lain? I don't know. Mungkin memang lebih baik wanita diam di rumah, pake cadar, nggak usah bersuara, sebelum semua cowok ngerti gimana caranya memandang wanita nggak dari mukanya, tapi dari hati dan isi otaknya. Don't get me wrong, banyak cowok yang memperlakukan wanita dengan sopan tapi banyak juga yang nggak (I need to say this before you guys accuse me of generalizing).

Does my view on this matter make me look like an annoying feminist? No. I don't like putting fancy label on myself. I believe world would be a better place if we can start to respect each other. Asking men to respect women, asking them to view us more than just how we look, asking them to stop seeing us as an object and asking them to stop thinking that they can flirt on us HOWEVER and WHENEVER they want to doesn't make me a feminist. It makes me look like a person who actually uses her f-ing common sense.

So now gentlemen, can you do that? Can you respect us?
Share:

1/05/2017

Apply Visa Turis ke Amerika Serikat

It's 2017 already! In 2016 I managed to publish 10 blog posts which is quite impressive. Let see how productive I can be this year.

As you might already know I visited New York last month. Sebenernya itu semua hasil dari impulsivity gue. Nyokap gue menawarkan liburan ke Indonesia beberapa minggu, tapi gue bilang gue mau ke USA aja. 4 minggu kemudian pesawat yang gue tumpangi nyampe di Bandara John F. Kennedy. It was a quick process. Di tulisan kali ini gue ingin sharing pengalaman gue dari awal banget gue mau bikin visa dan pengalaman gue selama liburan di sana. Let's get to it!

Gue sebenernya sudah cukup familiar dengan urusan visa ke U.S. Di tahun 2001 gue dan keluarga dapet visa B1/B2 selama 5 tahun dan visa tersebut kami pakai untuk jalan-jalan ke West Coast area di tahun 2006. Saat itu adalah kali pertama gue jalan-jalan ke luar negeri. Sekalinya jalan, perginya langsung ke tempat yang jauh. Karena sudah ada pengalaman, gue sedikit-banyak lumayan ngerti lah kira-kira gimana prosesnya dan apa aja dokumen yang diperlukan. Lagipula jaman sekarang semua informasi bisa didapetin dengan mudah thanks to Google. Bahkan sekarang sepertinya semua lebih simpel. Kalau dulu kita harus menyertakan tiket pesawat bolak-balik ketika interview visa, sekarang kita nggak boleh menyertakan/booking tiket apa-apa dulu karena belum tentu kita akan diberi visa. Fyi, gue apply visa nya bukan di kedutaan U.S. di Jakarta, ya. Gue apply di U.S. general consulate di München.

So, the first thing I did was heading to U.S. government website, "How to apply for US tourist visa". Di sana dibilang kalau kita harus mengisi formulir DS-160. Sebelum mengisi formulir kita harus udah menyiapkan:
  1. U.S contact yang bisa mengkonfirmasi kalau data-data yang lo kasih itu legit (nama, alamat, nomor telefon yang bisa dihubungi)
  2. Alamat ketika lo berada di U.S. nanti. Lo bisa pake alamat AirBnb, hotel, hostel, atau alamat temen lo yang akan lo inepin
  3. Foto 5x5 lo (background putih) yang berbentuk digital, karena nanti lo akan disuruh upload ini di page terakhir formulir DS-160. Kalo sizenya kegedean di website U.S. gov ini disediakan tools untuk resize byte fotonya supaya sesuai dengan ketentuan, kok. Jangan langsung panik.
Inget, siapin dulu semuanya. Karena once lo mengisi formulir ini, lo harus mengisi semua kolomnya dan nggak bisa nge-save formulirnya kalau kolomnya nggak lengkap. It means lo harus mulai dari awal lagi. Intinya kalo lo udah selesai ngisi satu halaman jangan lupa save formulirnya karena kalo nggak lo akan berakhir seperti gue yang harus ngisi formulirnya sampe 6x.

Setelah formulir DS-160 lengkap surat konfirmasinya harus diprint dan dibawa saat interview nanti. Gue baru tau nih ternyata kalau lo nggak bawa suratnya lo bisa print di kedutaan, karena di sana disediakan komputer dan printer untuk orang-orang yang kelupaan ngeprint confirmationnya. Habis itu lo harus membayar biaya permohonan visa sebesar 160 USD. Setiap negara cara bayarnya beda-beda. Kalo di Jerman sih ada opsi sofort Überweisung (transfer langsung via internet), jadi gue bisa langsung pilih tanggal appointment buat interview visa. Tanda bukti pembayaran juga harus lo print dan lo bawa pada saat interview.

Moving on ke memilih tanggal untuk interview. Salahnya gue saat itu adalah gue udah booking AirBnb dari tanggal 20-29 sebelom gue dapet visa. Jadi gue hanya ada waktu kira-kira 3 minggu sebelum keberangkatan dan mau nggak mau gue harus dapet visanya, kalau nggak duit gue hangus. Don't be like me! Apply visa dari jauh-jauh hari. Paling nggak 2 bulan sebelum tanggal lo berangkat, lah. Karena bisa aja semua tanggal interview visa nya udah fully booked. Gue tinggal di Berlin, tapi gue sampe harus ke München buat interview visa. Why? Karena di Berlin semua tanggal udah fully booked sampe Januari 2017. Gue hanya punya dua pilihan; ke Frankfurt atau ke München. Di Frankfurt tanggal yang available baru ada 12 Desember dan di München 6 Desember (tanggal gue nyari-nyari appointment kalau nggak salah 21 November).

Setelah semua yang di atas udah dilakuin, sekarang mulai deh lo ngumpulin dokumen yang kiranya akan berguna buat interview visa nanti. U.S. visa interview terkenal menyeramkan. Terutama buat orang-orang dari negara ketiga. Bukan cuma orang dari Indonesia yang suka ditolak-tolakin, orang-orang dari India dan Pakistan juga yang gue perhatiin suka jadi korban ditolak (hasil baca forum IMMIHELP berhari-hari). Setelah gue menjalani proses ini gue mengerti kenapa banyak orang ditolak visanya. Pemerintah USA cuma takut kalau orang tersebut nggak akan balik lagi ke negara asalnya tapi malah tinggal dan menetap di Amerika. They just want us to make them sure that we're going to the U.S. for vacation ONLY. So, lampirkan segala macem dokumen yang kiranya bisa jadi bukti legit kalau kita pasti akan balik lagi ke negara asal kita. Contohnya gue. Gue adalah mahasiswa. Akan sangat membantu jika gue melampirkan kartu mahasiswa gue dan juga bonafide certificate dari Universitas kalau gue adalah mahasiswa di sana dan akan kembali lagi melanjutkan studi. Gue juga punya alasan kuat lainnya kenapa gue pasti akan balik ke Jerman. Pada saat interview gue bilang ke mas-masnya kalau gue adalah mahasiswi tingkat akhir dan akan mulai thesis bulan Februari 2017. Terbukti dia tertarik dengan hal tersebut dan menanyakan tema apa yang akan gue kerjain buat thesis. Kalau lo pekerja, mungkin lo butuh menyertakan surat dari perusahaan tempat lo bekerja kalau lo harus balik lagi. Kata orang-orang owning property di negara asal juga bisa membantu menguatkan alasan lo nggak menetap di Amerika. Something like that. Selain surat tersebut menyertakan travel itinerary juga nggak ada salahnya. Masuk akal dong kalau lo mau liburan di suatu negara lo menyiapkan to-do list dan jadwal selama lo di sana. Sertakan juga receipt/surat booking AirBnb/hostel/hotel lo di Amerika. Walaupun nggak disuruh bawa, lo juga boleh menyertakan surat financial support (kalau liburan lo ini dibayarin orang tua/orang lain), aktifitas rekening bank orang yang bayarin lo, aktifitas rekening bank lo kira-kira 3 bulan terakhir, akte kelahiran (biar ada bukti kalau yang bayarin itu beneran orang tua lo), dan paspor lama lo (apalagi kalau paspor lo penuh. Makin terbukti kalau lo emang suka traveling).

Once you're done with everything, it's time for you to prepare for the interview because the interview will be in English (at least for me). Inget semua informasi yang kiranya akan ditanya dan penting pada saat interview nanti supaya lo jawabnya bisa efisien dan nggak banyak "hmm..." atau "ergh... itu.. nganu...".




------------ DAY OF THE INTERVIEW -------------



  1. Jangan dateng lebih dari 30 menit sebelum interview mulai karena toh lo nggak akan dikasih masuk dan harus nunggu di luar. Gue nyampe 1 jam sebelum dan gue harus nunggu gelap-gelap karena matahari belom terbit (gue ambil appointment pertama pada hari itu) dan hari itu dingin banget (Jerman udah mulai memasuki winter)
  2. Nggak usah bawa barang-barang yang nggak perlu. Bawa map berisi dokumen aja atau kalau pun mau pake tas, pake tas tote bag gitu udah cukup. Nggak perlu bawa backpack
  3. Pake bajunya nggak perlu formal asalkan rapi dan masih pantas
30 menit sebelum jam appointment lo, lo akan dipanggil masuk ke dalam gedung. Sebelum itu lo akan melalui ruang security dulu buat dicheck. Setelah itu lo masuk ke gedung sebenarnya. Lo akan disambut oleh petugas yang meminta surat konfirmasi DS-160 (yang ada barcodenya) dan paspor lo (tanpa kulit/cover paspor). Kalo lo nggak bawa (kayak orang yang ngantri di belakang gue), lo bisa print di sana kok. Setelah itu lo disuruh duduk karena nanti orang-orang yang apply visa ini akan dipanggil untuk discan sidik jarinya. Setelah sidik jari discan, lo akan disuruh balik ke kursi lo karena nama lo nanti akan dipanggil untuk interview.

Sewaktu interview saran dari gue adalah jawab sekenanya. Don't over explain and provide short answers!. Banyak orang-orang yang malah "bercerita/mendongeng" sewaktu lagi interview dan omongannya melebar ke mana-mana. Hal-hal kayak gini yang malah bikin rada mencurigakan. Itulah pentingnya "latihan" sebelum interview biar lo tau kira-kira lo harus jawab apa. Jangan dibawa nervous dan anggap aja lo lagi ngobrol sama temen lo. Eye contact juga penting! Eye contact dan senyum menandakan kalau memang tidak ada yang disembunyikan. Interviewnya nggak lama, kok. Gue cuma ditanya-tanya sekitar 4-5 menit dan dokumen yang udah gue bawa nggak ada yang diminta, kecuali paspor lama gue. Di situ cuma ada visa Jerman hiks.

Pertanyaan yang gue dapet waktu itu adalah:
  1. What's the purpose of going to the U.S.?
  2. Where do you want to go?
  3. When are you planning to go?
  4. Where are you gonna be staying?
  5. Do you know anyone in the U.S.?
  6. Who's gonna pay for your trip?
  7. What do your parents do in Indonesia?
  8. What do you do in Germany?
  9. How long have you been in Germany?
  10. What do you study?
  11. You said you'll do your thesis in February. About what?
  12. Here says that you were issued a visa in 2001. Did you use the visa?
Setelah menjawab semua pertanyaan seramah dan efektif mungkin si mas-mas baik ini bilang, "Okay, we will take your passport. You'll get it back in 2-4 day. Have a nice trip!"



Setelah 2 hari paspor gue balik dan gue dapet visa turis 5 tahun. Yuhuuu!!!

Share:
Blog Design Created by pipdig