by Gita Savitri Devi

1/08/2017

New York Calling - Arrival

Hari itu adalah hari yang gue tunggu-tunggu. Tanggal 20 Desember 2016 gue berangkat dari Berlin Tegel ke New York JFK. Sehari sebelumnya di Weihnachtsmarkt am Breitscheidplatz terjadi terrorist attack. Seorang cowok nabrakin truk gede yang dia rebut dari supir perusahaan besi asal Polandia ke pasar natal ketika orang-orang lagi rame. Pada hari itu doi belom ketangkep dan lagi melarikan diri. Seperti yang pernah gue sebut di salah satu video gue di YouTube gue takut banget. Takut tiba-tiba depan gue ada orang bom bunuh diri karena bandara sangat memungkinkan jadi sasaran selanjutnya. Tapi alhamdulillah imajinasi gue yang terinspirasi dari film itu nggak terjadi.

Tadinya gue ke New York pingin naik Air Berlin, tapi pas gue check lagi ternyata ada lagi maskapai yang lebih murah saat itu. Jadilah gue naik American Airlines. Perjalanannya nggak terlalu lama ternyata. Dari Berlin gue harus terbang dulu ke London Heathrow yang cuma memakan waktu sekitar 1 jam 50 menit. Dari sana gue cuma transit selama 2 jam dan lanjut lagi ke New York yang juga cuma 7 jam. Kali itu adalah kali pertama gue naik American Airlines. Kesan dan pesan gue sih standar aja. Makanannya lebih sedikit daripada yang biasanya gue dapet kalau gue naik Emirates. Seinget gue, gue selalu dikasih makan sampe gue nggak pernah laper di pesawat kalau gue balik ke Jakarta dari Berlin. Film di pesawat juga standar aja seperti maskapai pada umumnya. Ada satu yang menarik perhatian gue. Ketika di London sebelum gue naik pesawat gue harus melalui security check di depan gate flightnya. I'm not talking about security check bandara pada umumnya, ya. Tapi security check dari pihak American Airlinesnya. Penumpang selain american citizen ditanya-tanyain seperti pada saat ngambil U.S. visa. Selain ditanyain alasan gue ke sana dan berapa lama gue akan stay, gue sampai harus ngasih alamat tempat gue tinggal selama gue di Amerika. Nggak cuma sekali lho, tapi dua kali. Pertama sama mas-mas yang berdiri di depan awal antrian (dia cuma nanya gue asal dari mana dan apa kerjaan gue di Jerman). Kedua sama mas-mas yang biasa ngescan tiket di gate (dia yang minta alamat lengkap gue, dsb). Aneh karena belom pernah gue liat ada security check depan gate kayak gitu sebelumnya. But whatever, it's United States after all.

Jam 11an malem pesawat gue mendarat di bandara John F. Kennedy. Beda banget dengan terakhir kali gue ke Amerika, sekarang kita nggak mengisi declaration form secara manual. Semuanya udah bisa dikerjain secara automatis dengan Automated Passport Control. Dengan program punya U.S Customs and Border Protection ini kita cukup ngescan paspor, ambil foto muka kita, dan ngejawab beberapa pertanyaan standar di satu mesin ini. Setelah selesai akan keluar semacam receipt yang harus kita kasih ke petugas imigrasinya. Entah akan diapain itu kertas. Petugasnya juga biasa aja sih, nggak serem.

Automated Passport Control kiosk

Setelah selesai semuanya gue cepet-cepet ambil bagasi dan keluar untuk ketemuan dengan bokap gue yang ternyata udah sampe duluan. Dari sana kita berdua naik Uber buat ke AirBnb gue. Dari JFK ke Downtown naik Uber ternyata cukup mahal walaupun harganya flatrate. Lo akan kena biaya $69 tanpa harus bayar biaya tol. Selama di New York gue memilih untuk tinggal di Airbnb. Entah kenapa gue seneng aja tinggal di sana. I've had some experiences with Airbnb and all of them were great. Selain harganya lebih murah ketimbang kalau stay di hotel, gue juga bisa ngobrol-ngobrol sama yang punya rumah. Airbnb gue letaknya di The Bronx, tepatnya di daerah University Heights. The Bronx ini bukan daerah fancy kayak Manhattan, tapi cukup nyaman. Kebanyakan yang tinggal di sana adalah orang hitam dan orang latin. Jadi setiap gue keluar rumah atau pulang, gue selalu satu kereta sama orang-orang itu. Asik sih, walaupun kalau diliat-liat kocak aja karena gue selalu menjadi satu-satunya cewek Asia pake kerudung di dalam gerbong. Kamar gue cukup nyaman dan tempat tidurnya gede. Yang stand out dari Airbnb kali ini adalah hostsnya asik-asik banget. Rossy adalah backpacker. In fact dia pernah ke Indonesia tapi bukan ke Jakarta. Gue bilang ke dia nggak usah ke sana karena nggak ada yang menarik selain liat mobil lagi macet-macetan di jalan. Adeknya, Juan, adalah bagian dari NYPD. Orangnya kocak banget, chill, outgoing, dan friendly abis. Saking friendly-nya gue sama dia sampe pernah maen PS bareng. Padahal gue udah bilang gue nggak bisa maen game console gara-gara pas kecil nggak diizinin main game sama nyokap. But he insisted to teach me karena dia bilang game sekarang itu nggak cuma sekedar game, tapi ada ceritanya juga. So bad that I didn't have a chance to take photo together with them. I didn't even get to take a picture of my room!

Map of New York City

Malem itu gue capek banget tapi excitement gue jauh lebih gede dari pada rasa capek gue. I couldn't wait to explore the city karena dari dulu gue sangat amat pingin banget ke kota ini. Entah karena banyak film yang gue tonton berlatarkan New York atau memang U.S memiliki tempat spesial di hati gue since it was the first country I visited. Gue ngecheck lagi travel itinerary yang udah gue bikin jauh hari sebelumnya untuk mastiin tempat aja yang akan gue kunjungin besok. Yang nggak kalah penting adalah makanan apa yang harus gue cobain.


Stay tuned because I got bunch of stories to tell you about!
Share:

15 comments

  1. Hi, ka git!
    Bikin buku sih ka, orang2 bakalan seneng banget kayanya:) can't wait another your amazing creation

    ReplyDelete
    Replies
    1. That's one of my dreams, to someday be able to write a book!

      Delete
  2. Berkesan sekali, mba Gita. Jadi tau sekarang walaupun tentang Automated Passport Control. Btw, mungkin udah kena efek Trump, quality check masuk Amerika makin ketat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi kali, ya. Atau security checknya juga udah ada sejak dari jaman Obama saya juga kurang tau

      Delete
  3. Hai kak git . Di tunggu lagi karya2 nya

    ReplyDelete
  4. Kak Gita cepetan post cerita lainnya 😊😊😊😊😊😊😊😊

    ReplyDelete
  5. can't wait for the next chapter git ..

    ReplyDelete
  6. setiap kali apapun yang di post sama si mbak satu ini, di sosmed apapun, selalu feedbacknya positif, mungkin karena selalu jadi diri sendiri kali ya, nggak lebay dan nggak sotoy gitu, jadi yang nonton vlog dan yang baca blognya juga ngerasa nyaman. :)

    ReplyDelete
  7. Emirates emang the bestttt, makanannya banyak. Tapi saya malah punya pengalaman buruk sama Airbnb. waktu d Jenewa, make jasa Airbnb eh, kamarnya kosong dan hostnya gak ada. Alhasil terdampar berjam-jam di stasiun sambil nyari2 hostel termurah yang setengah mustahil ditemukan di Jenewa. but over all, tetep seru sih....

    Keep writing kak Gita, aku akan menjadi pembaca setia blog mu yang sangat menginspirasi

    ReplyDelete
  8. Dari yg gua baca, I can see that you're very excited. I wish I can exrepress my feeling like you:)

    ReplyDelete
  9. senyum-senyum sendiri liat gambar terakhir. Seorang intj banget ya kak. Gue juga itu. jauh hari udah ngeplanning sampe dicatet bener-bener. biar gak ngabisin waktu bingung mau kemana dan ngapain.
    btw, total pengeluaran disana berapa kak ?

    ReplyDelete
  10. Kak, u are one of my inspiration for decided to wear hijab kak. God bless u kak! 😍😍😍

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig