by Gita Savitri Devi

7/26/2017

Kesederhanaan Yang Dirindukan

Kalau kalian aktif di Twitter, mungkin kalian tau kalau beberapa hari ini Twitter gue lagi rame. Alasannya adalah karena di-mention sama salah satu selebtwit yang katanya emang suka komen tanpa tau konteks dan tanpa kenal orangnya. Memang yang gue rasakan semenjak ada mereka-mereka ini, Twitter kayaknya udah NSFW. Salah ngomong dikit, atau bahkan yang sebenernya nggak salah, cuma beda pendapat aja, disayurinnya ruarr biasa. 

Seringkali gue ingin S2 Neuroscience, biar gue bisa tau dan riset perbedaan signifikan apa yang terdapat dalam sel neuron manusia jaman sekarang, sampai untuk melakukan sesuatu atau bicara sesuatu itu nggak ada lagi second thoughts-nya. Mungkin kalau gue lagi lowong, gue mau cari-cari journal/paper tentang itu. Siapa tau ada yang udah pernah ngerjain studinya.

Di sini gue nggak mau ngomentarin tentang selebtwit atau orang-orang yang ngebully gitu sih. Karena sejujurnya gue sampe sekarang belom bacain satu-satu isi tweetnya. Cuma selewat aja, itu pun karena nggak sengaja muncul di notification.

Soalnya, kalau mau gue ladenin, gue jadi keinget sama kalimat ini:

"Never explain yourself. Your friends don't need it. Your enemies won't believe it."

So I let him ngasih wejangan ke gue, dah. Suka-suka dia. Suka-suka followers dia juga. Daripada gue bales nanti nggak kelar-kelar urusannya.

***

Nah, di sini gue mau cerita aja apa yang mendasari perkataan gue tersebut. Lebih ke curhat, sih. Karena ada beberapa hal yang gue rasakan selama di Jakarta ini dan pergolakan yang gue alami sebagai so called social media influencer.

Salah satu value yang diajarkan di rumah gue dari dulu adalah hidup prihatin. Dari gue bocah dulu, bisa makan di McD aja adalah suatu kemewahan. Karena nyokap gue selalu bilang begini, "Mama setiap hari udah ngasih duit pasar ke pembantu. Kalo kita makan di luar, sayang duitnya.". Itu lah kenapa gue sangat segan untuk ngajak nyokap makan di luar. Karena ya itu, appreciate apa yang udah dimasak pembantu gue dan duit yang udah disisihin supaya pembantu gue itu bisa belanja makanan.

Begitu juga ketika gue mau beli-beli barang. Gue selalu sungkan untuk ngomong. Contohnya kayak waktu jaman gue SMP dulu, lagi nge-trend banget tas dan dompet Happy House. Warnanya lucu-lucu banget. Pink, oranye, kuning. Tapi sayang, harganya mahal. Kalau nggak salah satu tas sekolah itu harganya kisaran 200-300 ribu. Alhasil gue cuma bisa beli barang yang kira-kira desainnya mendekati si Happy House ini. Versi Mangga Duanya, lah.

Billaboong, Roxy, dan teman-temannya juga lagi booming. Tapi gue nggak pernah berani buat masuk ke tokonya karena gue tau pasti gue akan kaget liat price tagnya. Jadi, yaa tas gue paling cuma sebangsa Exsport aja. Itu aja menurut gue udah mewah banget.

Ngomong-ngomong, lo pernah nggak sih gue ceritain gimana first impression gue ketika masuk SMP? Gue rada syok. Karena SMP gue itu campuran antara anak dari SD swasta dan SD negeri. Dan kelihatan banget gimana timpangnya kita, anak-anak SD negeri, dengan anak swasta tersebut.

Sempet beberapa waktu gue kangen banget sama masa-masa gue SD dulu. SD gue itu di samping pasar inpres. Setiap mau ke sekolah, gue selalu ngelewatin pasar becek dan gundukan sampah. Temen-temen gue tinggalnya di gang yang comberannya bau kotoran ayam. Gue jadi main di sana terus, deh. Dan gue nggak merasa too rich to be there or to be friends with them karena gue pun 11:12 sama mereka.

Bahkan gue sampai sekarang sangat merindukan kesederhanaan tersebut. Pertemanan yang senyum dan tawanya muncul ketika kita main karet bareng, main galasin, dan jalan-jalan naik mikrolet 09 A. Pertemanan yang nggak lantas hancur hanya karena orang tua teman-teman gue itu sekedar tukang ojek, pedagang di pasar, atau penjahit di konveksi.

Sangking sangat berkesannya masa-masa SD gue itu, gue sampe bertekad untuk masukin anak gue ke SD negeri kalau gue tinggal di Indonesia nanti. Tapi sekarang gue lihat SD negeri juga udah mulai banyak yang borju. Intinya gue bingung, sih, mau nyekolahin anak gue di mana biar dia tau caranya sederhana.

Berlanjut sampai gue besar sekarang, gue selalu menanamkan value itu. Nggak hambur-hambur dan mencoba pakai uang untuk yang penting-penting aja. Fun fact, selama gue 18 tahun tinggal di Indonesia, nggak pernah sekalipun gue minum Starbucks. Because I know that drink is damn expensive dan gue terlalu terintimidasi oleh harganya hahaha. Barulah ketika di Jerman gue coba-coba beli Starbucks. Taunya nggak ada yang spesial selain gulanya yang kebanyakan. Ujung-ujungnya gue lebih memilih bawa botol dari rumah yang berisi air keran. Gratis dan menyehatkan.

Sekarang dengan gue yang nyemplung di dunia begini, entah gue sebut sebagai apa dunia Internet ini. Pastinya gue akan bertemu bermacam-macam orang. Seringkali gue mendengar cerita dan melihat sendiri orang-orang yang bertentangan dengan value yang gue punya.

Tapi gue selalu berusaha untuk stay di mana gue berada sebelumnya. Buat syuting The Comment dan Indonesia Morning Show gue nggak mau pusing harus pakai kostum apa hanya karena gue mau masuk TV. I could care less kalau busana gue not appropriate enough to be on camera. Kecuali pas The Comment, sih. Itu pun bukan baju. Cuma muka gue dimakeupin-nya sampe segitunya banget.

Pernah juga ketika gue diundang untuk nonton Spiderman sama salah satu agency bareng selebgram lain. Yang dateng ke sana nggak cuma selebgram, tapi artis juga. Tapi ya gue merasa terlalu neko-neko kalau gue harus dress up hanya karena mau nonton Spiderman. Toh nanti di bioskop juga gelap dan nggak ada yang ngeliat gue. Bener aja, sama salah satu selebgram gue dikira orang dari agency-nya hahaha.

Buat meeting-meeting sama client, gue selalu cuma pesan minum. Karena pertama, walaupun dibayarin dan bayarnya pake duit perusahaan a.k.a udah disediain budgetnya, gue nggak merasa berhak untuk ngebuang-buang duit (especially bukan duit gue) hanya buat ngenyangin perut gue yang sebenernya saat itu nggak laper-laper banget.

Dikelilingi orang-orang yang terlihatnya sangat berada dan bisa dengan segampang itu ngeluarin duit segepok ternyata cukup challenging. Bukan perkara cobaan untuk nahan-nahan biar nggak kayak mereka, tapi lebih ke sedih dan akhirnya jadi self-reflect sendiri. Alhamdulillah dibesarkan di keluarga yang sangat menghargai uang (karena emang susah dapetinnya) dan tinggal di Jerman yang orangnya nggak neko-neko, gue masih ada rasa malu untuk lalu ikut-ikutan hedon. 

Ada banyak orang yang jauh lebih berada tapi sederhananya luar biasa. Malah gue sangat salut dengan orang-orang seperti itu. Mereka yang mengatur dunianya, bukan dunia yang mengatur mereka. Nggak lantas jadi alergi sama yang murah-murah. Nggak lantas jadi males temenan sama yang berkantong kering. Tandanya prinsipnya luar biasa. Dan gue malu kalau gue sehambur-hambur itu tetapi untuk bersedekah malah nggak seberapa.

Ngeliat di depan mata gimana seseorang pesan makanan yang harganya nggak mahal, terus setelah makanannya dateng dan dicicip sedikit malah nggak dihabisin. Nggak enak katanya. Sementara gue jadi kepikiran gimana detik itu ada orang yang perutnya keroncongan karena belum makan berhari-hari. Melihat gimana manusia memang secara nyata benar-benar bisa tumbuh makin besar kecintaannya terhadap dunia karena mereka merasa semudah itu bisa dapet duit dan ngeluarin duit (dan lebih ngenesnya mereka nggak sadar). Melihat gimana manusia bisa sehedon itu, sematerialistis itu, bisa sedzalim itu ke manusia lain hanya karena duit. Itu semua ternyata sangat nggak bikin nyaman hati gue. Cuma gue nggak bisa ngomong apa-apa selain diam dan mengingat lagi niat gue di dunia ini untuk apa.

Mungkin gue terlalu polos melihat dunia. Mungkin gue terlalu polos menganggap hidup itu tempat cari pahala, bukan ngejar harta buat kemudian dihabisin buat hal-hal nggak berguna. Mungkin gue terlalu kepikiran sama orang-orang kurang mampu di luar sana, sementara kanan-kiri gue berlebih-lebihannya luar biasa. Mungkin gue yang terlalu gusar ngeliat gimana timpangnya keadaan ekonomi orang kita. Mungkin memang harus begitu, ya, jaman sekarang? Acuh, ora urus hidup orang lain.

Itu yang gue curhatin ke nyokap gue baru-baru ini, "Ma, Gita takut nanti standard hidup Gita jadi naik.". She knew what I was talking about. Dia ngingetin untuk selalu berdoa supaya penyakit hati itu nggak ada, supaya kecintaan ke pada dunia nggak melebihi kecintaan ke pada Tuhan, dan gue nggak boleh selalu ngeliat ke atas. Karena sesungguhnya kecintaan sama dunia itu membutakan. Buat orang-orang yang sadar, pasti ngeri sama tipu dayanya.

Perkataan teman gue, yang kata si selebtwit keliru itu, menurut gue adalah reminder yang sangat bagus. "Kalau lo merasa ngeluarin uang 150 ribu untuk satu kali makan itu biasa aja. Tandanya ada yang salah sama lo.". I don't know about you, guys. Tapi gue sadar nggak semua orang seberuntung itu. Nggak semua orang bisa beli makan tanpa mikirin harga lagi kayak orang-orang tajir.

Gue nggak setega itu untuk bilang "Suka-suka gue, lah. Itu kan duit gue.". Ketika gue tau kalau banyak orang di luar sana yang sesusah itu hidupnya. Dan banyak orang yang nge-follow gue dan melihat lifestyle yang gue miliki. Bagaimana pertanggungjawaban gue nanti, kalau ternyata ada banyak orang yang iri melihat hidup gue karena secara tidak sadar gue pamer kekayaan. Lalu orang-orang itu lantas mikir hidupnya itu nggak menyenangkan dan nggak patut disyukuri.

Seperti yang Mbak Kate Welton bilang di Twitter, "It's not about what is standard for individuals. It's about recognising that others may not have the same privilege as you."

Sesimple itu. Sesimple sebaiknya kita sadar ketika standar kita di atas rata-rata dan sebaiknya mensyukuri itu. Bukan malah jadi berlebihan, hambur-hamburan, menjadikan itu suatu kebiasaan, atau bahkan merasa apa yang kita punya masih belum cukup. Karena ada orang yang beneran nggak cukup, tapi mereka malah merasa udah kaya, udah puas. Karena hatinya selalu diliputi oleh rasa syukur.

Itu salah satu alasan kenapa gue nggak pernah jawab kamera apa yang gue pakai untuk ngevlog dan foto. Karena orang bisa googling harganya. Mereka taunya gue punya kamera dengan harga segitu tanpa tau sebenernya sekeras apa gue bekerja dan lantas menabung untuk beli kamera itu setahun kemudian. The same goes to makeup. Orang taunya gue pake Laura Mercier, The Balm, blablabla. Mereka mana mau tau kalau semua produk itu gue beli setelah gue kerja ngebabu di pabrik percetakan yang mengharuskan gue untuk berdiri 9 jam setiap harinya. Dan mereka mana tau kalau barang-barang itu gue pakai seirit mungkin dan bahkan half of them udah kadaluwarsa. Tapi gue nggak tega ngebuangnya, berasa ngebuang duit yang udah gue kumpulin susah payah.

Orang-orang yang kemaren ngebully gue di Twitter hanya tau gue tinggal di Jerman tanpa tau kesulitan ekonomi apa yang gue punya. Tanpa tau seringkali gue bener-bener nggak ada uang hanya buat sekedar beli beras. Mereka pikir tinggal di Jerman itu sudah pasti menyenangkan, sudah pasti dari keluarga berada. Menurut lo, kenapa gue sama Paulus bisa kurus? Karena kita seirit itu. Kita seprihatin itu. Bukan karena kita diet. Tapi netizen nggak mau tau karena mereka memang nggak peduli.

Dan ada banyak orang-orang yang jauh lebih nelangsa dari gue. Di antara followers gue, ada banyak yang lebih tidak beruntung daripada gue. Yang nggak tau hidup gue yang sebenarnya seperti apa. Yang hanya melihat hidup gue berdasarkan foto-foto Instagram yang sudah gue curate sedemikian rupa supaya terlihat ciamik. Apakah rela gue bikin mereka berpikir hidup mereka itu tidak sebanding sama hidup gue? Apakah gue tega ngomong "Suka-suka gue, lah. Itu kan duit gue."? Apakah gue tega untuk hidup seegois itu?

Memang mungkin salah mereka karena langsung membuat kesimpulan akan hidup seseorang hanya berdasarkan sosial media. Tapi ketidaktahuan mereka juga disebabkan gue yang nggak pernah cerita behind the scene nya. Yang mereka lihat di internet tentang gue hanyalah hasil kerja keras, hasil beratus malam yang gue lalui tanpa tidur, dan beribu doa yang gue panjatkan di setiap sholat.
Kontradiktif sekali dengan kerjaan gue di Instagram sebagai social media influencer. Seorang gue yang sama sekali kontra terhadap hidup hura-hura, tapi malah promote berbagai macam barang setiap harinya. Iya, social media influencer itu sebenarnya tidak meng-influence apa-apa selain consumerism.

Di situ lah pergolakaan yang gue rasakan. Di satu sisi gue pingin bantuin online shop dan mereka juga membantu gue bayar segala macam tagihan karena gue memang sudah tidak dibiayai orang tua. Di satu sisi itu pekerjaan gue, di sisi lain itu sangat bertentangan dengan value yang gue pegang. Mau seidealis apapun juga, realistis itu juga perlu. Mungkin di situ lah challenge-nya.

Salah juga mungkin kalau gue berharap followers gue udah wise and mature enough to get my point, karena gue tidak bisa memaksa orang untuk mengerti intention yang gue muliki. For this one, I still don't have the solution.

***

Hhhhh... Hidup itu membingungkan, ya? 

Sejujurnya gue nggak tau point dari curhatan gue ini. Mungkin gue cuma ingin mencurahkan apa yang sudah terpendam berbulan-bulan ini karena gue capek dikira orang berada, capek dijudge gue kaya karena ada yang lihat gue punya product skincare Korea bejibun (padahal itu semua gratisan. Dapet dari Style Korean karena gue kerjasama bareng mereka hikss). 

Yaa, alhamdulillah, sih, mungkin gue sekalian didoain biar kaya beneran. Siapa tau bisa bantuin orang tua gue. Tapi, please jangan kira duit gue ngucurnya kayak air. Kita nggak tau hidup orang itu seperti apa :)


Share:

7/24/2017

Ketika Realita Berasa Mimpi

Beberapa bulan lalu gue dikontak oleh partner manager gue di YouTube. Jadi begini, teman-teman. Seorang YouTuber dengan subscriber 100.000 ke atas akan dapet partner manager. Gunanya apa? Channelnya bakal ada yang manage. Maksudnya, channel kita akan dicheck terus statsnya. Bagus atau enggak, terus opportunity dan cara apa lagi yang bisa kita dapet atau lakukan untuk expand channel kita. Biar views dan subscribersnya makin banyak. Intinya kita jadi bisa bener-bener berurusan sama YouTube-nya langsung.

Nah, setelah itu si Kelvin, partner manager gue ini nanyain apakah gue up for a program called Creators for Change, yaitu program dari Google dan VICE Media untuk memerangi masalah sosial sekarang. Dia bilang, channel gue dipilih sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia. Dipilihnya langsung sama Google dan ambassador dari Indonesia (Cameo Project).

Jujur, waktu ditanya kayak gitu gue nggak merasa gimana-gimana. Karena yaa lo tau gue. Nggak mau kepikiran soal begituan. Takutnya gue jadi overly proud, jumawa, padahal jadi juga belom. So I was like, "Okay, that's cool.". Ditambah lagi, gue nggak ngerti sebesar apa program ini dan ada berapa orang yang berkecimpung and what not. Intinya gue nggak mau tau detailnya. Lagi, supaya gue tetap berpijak. Takutnya kalau nggak jadi, gue akan kecewa.

Selang beberapa minggu, ternyata programnya beneran jadi. Dari yang gue kira cuma wacana-wacana doang, ternyata gue beneran dipilih. Kata Kelvin, dari Indonesia cuma ada tiga channel: Film Maker Muslim, Jovi Hunter, dan gue. Kata Kelvin lagi, gue akan rapat dengan orang YouTube/Google yang pas gue liat e-mailnya ternyata nama bule dan dia bekerja di Google HQ di USA. Makin-makin lah gue nyadar kalau program ini beneran serius. Waktu kemudian dapet e-mail dari si bule YouTube, reaksi gue cuma, "Waaww....".

Pas akhirnya meeting sama Paul dari Google dan satu cewek dari VICE yang gue lupa namanya, gue deg-degan. Lebih ke starstruck, sih. Gue makin bingung kenapa hidup gue begini. Kenapa gue bisa dikasih sebegininya. Perasaan dulu gue nge-YouTube beneran karena ingin memperbaiki situasi dan kondisi YouTube Indonesia. Kenapa sekarang gue ampe meeting segala di Google Hangout sama bule-bule ini. Intinya gue lebay, tapi karena gue emang nggak expect, jadi wajar lah kalo gue lebay.



Setelah rapat, menyelesaikan segala macam yang administratif, barulah kemudian YouTube launched program ini. YouTube Creators for Change. Ada 28 channel terpilih dari seluruh dunia. Bayangin, coy. Seluruh dunia dan gue salah satunya. Dan gue satu-satunya cewek dari Indonesia. Ini gue bukan pamer, tapi sampai sekarang sering kali gue merenungi hidup gue. Sampe sekarang pula gue masih nggak percaya. Btw, buat pembaca baru, gue emang doyan merenung. Sering kali merenung itu jauh lebih asik ketimbang ngobrol sama orang.

Baru lah gue tau di antara 28 fellows ada Muslim Girl, Amani, yang sering banget gue liat di video-video yang gue tonton. Ada Evelyn from the Internets yang juga gue suka banget karena dia sangat kocak. Dan gue harus nyubit-nyubit pipi gue berkali-kali buat sadar. Ambassador dari program ini salah satunya adalah John Green, Dina Tokio, dan Natalie Tran (Community Channel), yang gue persönlich sangat-sangat adore.

Diberi tahu juga kalau kita akan diberi semacam training yang dilakukan di YouTube Space dan diberi budget $10.000 untuk merealisasikan video kita. Makin lah gue megap-megap. Pertama, karena gue baru sadar Google duitnya banyak banget. Kedua, gue nggak merasa pantes untuk dapetin ini semua.

Sampe akhirnya 3 minggu lalu gue diundang ke YouTube Space London untuk mengikuti Social Impact Camp selama 2 hari. Gue kira camp-nya bakal diadain di India, taunya di sana. London, bok. Walaupun karena kebodohan gue, gue hanya menghadiri hari terakhir.

Tau nggak kenapa gue selama tinggal tetanggaan sama UK, gue belom pernah mau ke sana? Karena harus apply visa dan bayarnya mahal. Belom lagi di sananya. London terutama, kota mahal. Nggak akan mungkin mahasiswa kayak gue mau foya-foya liburan di sana. Mungkin bisa kalo dipaksain (balik-balik cuma makan nasi tok), tapi hati ini nggak rela. Mending duitnya buat bayar apartemen dan asuransi.

Buat tiket pesawatnya, gue dikasih yang World Traveler Plus. Bukan ekonomi biasa, tapi ekonomi++. Makanannya disajikan pake piring, bukan pake wadah plastik. Pisau garpunya dari stainless steel, bukan dari plastik. Kaki gue bisa selonjoran gara-gara tempatnya lowong banget. Di pesawat, gue noraknya luar biasa. Luar biasa, saudara-saudara. Padahal bukan naik first class. Tapi ya gitu. Tetep aja bikin bersyukur setengah mati.

Jika tempat dudukmu nyaman, pemandangan dari jendela pesawat pun jadi terlihat lebih indah (sugesti).


Di London gue ditaro di hotel super mahal. Di tengah kota. Ratenya 450 pounds per malam. Kayaknya sampe gue kaya raya pun, nggak bakal mau gue tinggal di hotel itu kalau nggai dibayarin. Makannya? Bintang 7 bok. Makan-minum di YouTube Space nggak pernah kurang. Setiap malem sehabis sesi selalu fine dining.

***

Okeh, gue bakal jelasin di London itu gue ngapain aja. Mungkin buat kalian yang udah nonton vlog gue, kurang lebih udah tau. Kegiatan dimulai sekitar jam 9 pagi. Kita jalan kaki dari hotel ke YouTube Space London yang ternyata deket banget sama Kings Cross. Di sana hari-hari kita dipenuhi oleh segala macam workshop. Hari itu workshopnya tentang Producing 101. Kita dikasih tau gimana caranya memproduksi video yang bagus secara teknis sampe ke perkara gimana cara nyari crew buat shooting. Sungguh berfaedah.

Tapi ada dua hal yang bikin gue lived the dream hari itu. Ada satu sesi di mana kita QnA session via Google Hangout bareng John Green. That John Green yang buku-bukunya gue baca, yang video-videonya bareng Hank Green gue tonton. Waktu liat dia ada di layar gede depan gue, gue cuma bisa cengar-cengir doang kayak orang lagi high. Lagi-lagi gue merenungi hidup gue dan nggak percaya hari ini bakalan dateng. 

Kedua, gue ketemu Dina Tokio dan suaminya. Dua orang kocak yang suka gue tontonin videonya juga. Setelah sesi ngeliat para ambassador ngomong di depan, ada lagi sesi round table. Fellows dibagi beberapa group yang dikepalai oleh satu ambassador. Terus lu tau nggak gue kebagian di grup siapa? Sid and Dina. Yep, them. Out of many ambassadors who came that day, gue segrup sama Sid and Dina. Siapa lagi fellow yang segrup sama gue? Subhi Taha. Mau mati gak?

Setelah camp, kita diajak buat dinner di tempat super fancy yang makanannya pake course-coursean dan menunya yang biasa gue liat di Masterchef atau Top Chef. Pokoknya makanan-makanan keren gitu, lah. Gue inget banget, di malam itu untuk pertama kalinya gue mencicipi seared salmon. Ternyata rasanya wenak banget karena ada coriandernya.

Intinya di acara itu gue banyak ketemu orang-orang yang selama ini jadi inspirasi gue dan orang-orang yang menjadi inspirasi baru gue. I met people who have the same mission as mine, yang peduli dengan dunia, yang ingin berbuat baik di dunia, dan yang ingin bermanfaat. Asli, pengalaman macam gini nggak akan lagi gue dapet. Cuma sekali seumur hidup.

Finally here

Kapan lagi video gue diputer berkali-kali di YouTube Space?

Maha dari Dubai dan Nadir dari UK. Si Nadir ini neneknya orang Solo ternyata

Finally able to see this woman in real life!

One of my favorite YouTubers, Evelyn

Subhi, yang punya banyak fans dari Indonesia LOL

Younes. You might have seen his videos on Facebook. Videonya viral mulu di situ

Coming at you with some social changes!!!!


***

Pelajaran yang bisa gue dapat adalah, lagi-lagi, hidup itu sangat nggak bisa diprediksi. Siapa yang sangka gue yang mupeng tiap kali liat temen-temen yang jalan ke London dan foto di Platform 9 3/4 bisa ke sana dan dibayarin? Siapa sangka gue yang nge-vlog cuma pakai hape karena nggak ada duit buat beli kamera, sekarang bisa beli apa aja karena dikasi budget udah kaya mau beli tanah? Siapa sangka gue yang sampe sekarang nggak ngerti gimana cara nge-YouTube yang baik dan benar, yang nggak peduli ada yang nonton video gue apa enggak, bisa dipilih langsung sama Google buat bikin video untuk program mereka?

Allah Maha Besar. Pesan gue cuma satu ke diri gue, tetep humble, tetep koret, dan tetep menjalani hidup dengan penuh keprihatinan.

And I hope there are even more surprises waiting for me. Hidup tanpa GPS itu memang seru.
Share:

7/04/2017

Penilaian

Manusia ada mahluk yang nggak pernah berhenti membuat gue terpana dengan segala macam tingkahnya, segala macam sifatnya, dan segala macam keribetannya.

Kali ini gue mau cerita sedikit tentang pandangan gue terhadap manusia. Entah itu manusia lain, maupun gue yang terakhir kali gue check masih berupa manusia. Beberapa hari yang lalu gue nge-tweet. Manusia itu membuat terlalu banyak judgement, kata gue. Kita menilai diri kita nggak mampu untuk melakukan sesuatu atau banyak hal. Kita menilai diri kita tidak lebih dari sampah, sementara orang-orang lain banyak yang lebih pintar dan lebih sukses dari kita. Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga senang sekali mencari keburukan orang lain. Kalau kita bertemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah meng-scanning dirinya dan mencari celanya. Entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Setelah selesai meng-scanning fisiknya, kita lanjut dengan meng-scanning hidupnya.

Dulu pun gue begitu. Gue manusia yang penuh dengan pikiran buruk. Entah itu ke diri gue maupun ke orang lain. Apapun yang gue lakukan, gue tidak mencari baiknya, tapi malah mencari kurangnya. Gue mencari-cari perbedaan antara bayangan yang gue punya dengan realita yang ada dan mencoba mencari letak kesalahannya. Acap kali gue melihat diri gue di kaca, yang gue liat adalah betapa besarnya jidat gue yang menyebabkan gue harus menutupinya dengan poni dan menyesali kenapa gue nggak bisa punya tulang pipi seperti layaknya wanita-wanita dewasa pada umumnya.

Alhasil gue nggak pernah bersyukur. Gue nggak pernah mengapresiasi apa yang diri gue lakukan dan apa yang gue punya. Gue nggak pernah menghargai diri gue sendiri.

Ternyata orang yang tidak menghargai diri sendiri biasanya juga tidak menghargai orang lain. Karena perlakuan gue ke orang lain juga nggak jauh beda. Setiap kali ketemu orang, yang gue cari selalu kurangnya. Mengukur-ngukur proporsi wajahnya. Kalau jidatnya lebih lebar dari "ideal"nya, jidatnya lah yang menjadi fokus pertama gue. Begitu juga kalau lengannya lebih gemuk dari pergelangan tangannya, kalimat "Gendut juga ni cewe." sudah terucap di dalam hati.

Begitu pula dengan apapun yang orang lain kerjakan dan hasilkan. Pasti gue cari kurangnya. Pasti gue cari di mana salahnya.

Karena begitulah manusia. Suka mencari kekurangan. Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Padahal kita ini adalah mahluk yang paling nggak bisa melakukan hal tersebut.

Tapi lama-kelamaan gue bosan dengan kekeruhan gue dalam memandang manusia. Gue berlatih untuk paling tidak nggak memberi penilaian terhadap apapun. 

Melihat diri di kaca sekarang hanya sekadar melihat diri di kaca tanpa mengukur-ukur proporsi pipi gue dengan bagian wajah lainnya. Melakukan sesuatu hanya sekadar berbuat baik tanpa mengintip apa yang orang lain sudah atau sedang lakukan. Melakukan sesuatu hanya sekadar ingin menikmati hidup dengan menyebarkan kebaikan tanpa membentuk pengharapan yang berpotensi untuk bikin gue jadi manusia paling sialan sedunia, yaitu manusia yang sudah diberi banyak berkah tapi masih bisa mencari apa yang bisa dikeluhkan.

Terlebih ketika gue melihat orang lain, melihat apa yang dikerjakannya. Ada usaha yang teramat keras di sana, yang nggak dia tunjukkan kepada gue, yang nggak dia tunjukkan di dunia maya. Ada berpuluh-puluh malam dilewatinya tanpa tidur, yang nggak dia share di lini masa Instagram-nya.

Orang-orang lain termasuk gue, hanya melihat hasilnya. Hanya melihat hasil dari usaha kerasnya, tanpa mengetahui seberapa berat beban yang harus dipikulnya. Hanya melihat hasil dari jerih payahnya, yang bahkan masih kami cari-cari kekurangannya.

I don't want to be that person who thinks she knows better, who thinks everything has to be the way she wants.

I don't want to be that person who cannot see the good side in others. Who will always complain about what other people did, but doesn't realize that she has not done anything yet.

Banyak yang mencurahkan hatinya ke gue karena mereka kecewa dengan keadaannya kini. Tidak sesuai dengan usaha yang sudah diberikan, katanya. Lalu apa sebenarnya tujuannya kamu berusaha? Hanya supaya bisa dapetin apa yang kamu mau?
Banyak juga yang sekadar mengeluhkan penampilannya. Ingin diberitahu bagaimana cara gue memakai kerudung, sampai-sampai ke bagaimana cara gue bersolek. Karena mereka melihat gue sebagai wanita berpipi bulat, berjidat lebar, dan beralis tipis, tapi hal tersebut tidak terlihat salah. Seolah-olah mereka bukan suatu kekurangan.

That's the key, my friend. Gue tau caranya menghargai diri gue sendiri. Gue tau caranya menyayangi diri gue sendiri. Gue tau caranya mengapresiasi diri gue sendiri. 

Kekurangan tidak gue lihat sebagai kekurangan, tapi sebagai bagian dari diri gue. I don't hide it. I embrace it.  

Kegagalan tidak gue lihat sebagai kegagalan, tapi sebagai kesempatan gue untuk belajar lebih baik lagi.

Hidup gue lihat sebagai tempat gue mencari pengalaman, tempat gue belajar dari orang-orang, tempat gue mendapatkan inspirasi dari sekitar. Bukan tempat gue meraih ini dan itu, menyuapi ego yang selalu haus akan pengakuan.

Hargailah dirimu. Hargailah orang-orang di sekitarmu.

Mulailah untuk melihat indahnya dirimu dan hidupmu. Dan lihatlah selalu kebaikan dari kanan-kirimu.


Share:

6/16/2017

Be Like Forrest Gump

 

Kutipan di atas gue ambil dari Instagram @humansofny, salah satu akun favorit gue. Isinya cerita para New Yorker yang bermacam-macam. Ternyata dari wajah dan penampilan yang biasa, selalu ada cerita luar biasa yang layak untuk didenger dan untuk dijadiin bahan merenung.

Kutipan di atas lebih gue rasa sangat resonate apa yang gue percayai. Karena begitu lah cara gue menjalani hidup ini. 

Banyak orang pikir gue terlalu polos. Tapi sering juga kepolosan itu diperlukan. Karena dari "kepolosan" itu gue jadi nggak lupa caranya bersyukur. Dari "kepolosan" itu gue nggak lupa untuk terus merunduk. Dan dari "kepolosan" itu juga gue bisa cepat bangkit lagi di kala diterpa masalah.

Gue percaya hidup itu seringkali sulit karena manusianya yang mempersulit. Entah karena kita terlalu banyak mikir, terlalu banyak mengeluh dan komplain, atau terlalu banyak mengira-ngira hal yang belum terjadi.

Berpikir seperti Forrest Gump itu perlu. Kita nggak perlu tau semua, nggak perlu take everything into a count, nggak perlu terlalu memikirkan suatu hal, nggak perlu merencanakan semuanya.

Cukup aja kita tau apa tujuan kita. Apa yang kita mau. Apa yang ingin kita lakukan. Supaya kita selalu punya satu alasan kenapa kita harus tetap jalan ke depan.

Just like what this guy said, Forrest figured everything out because he just kept going.

Don't stop. Keep going.
Share:

5/29/2017

Beragama

Belakangan ini banyak sekali postingan di dunia maya yang bikin gue ngerasa apa, ya? Sendirian mungkin. Merasa makin asing.

Sedih rasanya melihat ternyata banyak muslim yang masih bingung. Bingung caranya untuk tetap berpegang teguh pada aqidahnya, tetapi tetap bisa menjadi muslim yang mengerti toleransi. Banyak muslim yang mencampuradukkan. Mencampuradukkan dan membenarkan semua agama hanya supaya dianggap toleran, bahkan menganggap agama hanyalah warisan. Padahal agama itu adalah pilihan. Kalau gue bilang, agama itu berkah dari Tuhan. Terserah kalau ternyata umat lain beranggapan yang sama. Karena begitulah seharusnya beragama. Yakin kalau agamanya adalah rahmat dari Yang Maha Kuasa.

Kenapa sulit sekali orang-orang mengerti, menjadi muslim yang taat dan toleran itu sangat mungkin. Mungkin gue beruntung, karena di sekitar gue begitulah Muslimnya. Ilmunya tinggi, tapi ademnya luar biasa. Mungkin yang begitu masih sedikit terdengar suaranya. Karena rata-rata dari mereka memang jarang bersuara. Seakan-akan mereka tidak ada.

Sering kali gue iri ngelihat umat agama lain, kristiani contohnya. Yang beriman betul pada agamanya. Tidak bingung. Tidak mengiyakan semua ajaran agama karena mereka yakin agama mereka lah yang benar. 

Bukannya memang harus begitu, ya, dalam beragama? Beriman dengan keyakinan yang dipeluk. Bertoleransi karena tidak menyalahkan ajaran agama lain. Bertoleransi karena membiarkan orang lain memeluk apapun yang mereka yakini. Tetap sibuk belajar tentang agama sendiri sebelum membanding-bandingkan dan mencari kesalahan dari agama lain.

Tapi tidak pernah mereka dicap intoleran. Tidak pernah seorang kristen yang taat, yang sering berdakwah atau sekadar menyampaikan satu dua patah ayat dari Al-Kitab dianggap radikal.

Hanya muslim. Hanya muslim yang berjenggot, berkerudung panjang, yang sering kali membicarakan agama di akun media sosialnya, yang kuat prinsip agamanya, yang boleh dianggap ekstrim. Walaupun Ia tidak memojokkan agama lain, tapi ayat-ayat Quran tersebut sudah cukup untuk membuatnya dikategorikan demikian. Mungkin karena Islam adalah mayoritas. Kalau mayoritas tidak fleksibel, tandanya mayoritas intoleran.

Lalu di mana salahnya?

Di mana letak kesalahan kita?

Di sisi lain, kesedihan hati ini disebabkan oleh saudara seiman gue yang dengan mudahnya mengkotak-kotakkan orang ke kategori suci dan berdosa. Menjadi muslim yang judgemental itu bahaya.

Mungkin hati kita kurang halus, saudaraku. Mungkin semua keterasingan ini disebabkan karena kita kurang bisa menjadi representasi terbaik agama kita. Mungkin kita kurang tau cara menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam. Kita kurang bisa memberikan nasihat tanpa memojokkan yang diberi nasihat. Kita lihai menyampaikan ayat, tapi kita kurang lihai menyampaikannya.

Mungkin seringkali kita bermaksud berdakwah, tapi salah caranya. Bermaksud ingin menyebarkan ajaran Islam, tapi tidak tahu caranya. Malah membuat orang lain membuang muka.

Mencoba meluruskan sekelompok manusia yang masih abu-abu itu sulitnya luar biasa. Butuh strategi karena ternyata agama sudah hilang pesonanya. Bahkan di Indonesia yang adalah negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia.

Saudara seimanku, sampaikanlah walau satu ayat. Tapi ingatlah untuk selalu melembutkan hatimu. Ayat-ayat Allah itu mulia. Sampaikanlah dengan ikhlas, dengan tulus, tanpa menyertakan egomu, tanpa menyertakan kesombonganmu.

Allah lah yang menjadikanmu seperti sekarang. Allah lah yang menunjukkan kebenaran kepadamu. Janganlah engkau lupa kalau dahulu kau berada di posisi itu, posisi yang sekarang engkau anggap masa kelammu.

Pesan ini berlaku buat kita semua, termasuk gue:

Sebaik-baiknya berdakwah, dakwah yang terbaik adalah dengan perilaku kita.
Share:

5/18/2017

Seandainya

Mungkin udah banyak dari kalian yang tau kalau baru-baru ini single terbaru Paul & Gita udah release. Asli, sih. Gue pribadi nggak nyangka kalau gue bisa punya lagu. Paul juga gitu. Dia nggak nyangka lagu yang dia ciptain bisa diseriusin dan akhirnya bisa ditaro di iTunes dan lain-lain.

Ditambah lagi gimana orang-orang baik banget, supportive banget, dan antusiasmenya gede banget sama lagu ini. Tiap hari gue dapet mention-an di mana-mana kalau mereka udah download lagunya dan bahkan ngedengerin setiap hari. I cannot be more thankful for the amount of love I got from you guys.

Gara-gara kalian, lagu Seandainya bisa masuk ke Top 100 iTunes Indonesia. Pertamanya di peringkat 99, terus naik ke 58, terus naik lagi ke 38. Di Spotify Indonesia, lagu ini bahkan berada di peringkat pertama Viral 50 Indonesia.

Kalian sungguh hebat. Gua sama Paul sampe nggak bisa berkata apa-apa lagi :')





Nah, biar pas kalian bisa nyanyi bareng sewaktu dengerin lagu ini, gue kasih liriknya, ya!


------------------------------------------------------------------------


SEANDAINYA

Baru saja ku sadari dirimu mengisi setiap sudut hatiku
Dan ku harap engkau tau diriku kagumi pesonamu
Indahnya dirimu, indah pesonamu
Engkau permata bagiku

Seandainya engkau ada di sisiku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu
Seandainya engkau kan jadi milikku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu

Hadirmu di sisiku mewarnai indahnya hariku
Aroma tubuhmu merasuk di jiwaku
Indahnya dirimu, indah pesonamu
Engkau permata bagiku

Seandainya engkau ada di sisiku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu
Seandainya engkau kan jadi milikku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu

Takkan pernah ku sakiti hatimu

Seandainya engkau kan jadi milikku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu


------------------------------------------------------------------------
Share:

4/14/2017

Ketika Pilkada Lebih Seru Daripada Drama Korea

Tulisan ini gue buat bukan bermaksud untuk menambah hiruk-pikuk pilkada ataupun dijadikan alat untuk menjunjung paslon A dan menyudutkan yang satu lagi. Ini hanyalah pikiran-pikiran yang belakangan ini berenang-renang di otak gue, yang seandainya gue punya pensieve kayak Albus Dumbledore, udah pasti akan gue buang ke situ. But this blog is my pensieve. Jadi, gue akan membuang pikiran ini lewat tulisan.

***

Belajar dari pemilu presiden yang lalu, pada pemilu DKI Jakarta kali ini gue udah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Spesial satu hari gue dedikasikan untuk nge-hide orang-orang atau akun yang berpotensi bikin news feed Facebook gue jadi dikotori oleh artikel-artikel super nasty, kacangan, dan nggak kredibel.

Gue merasa artikel dan orang-orang tersebut, entah ke pada kubu mana dia memihak, nggak sehat buat otak dan hati gue. Dan mereka juga nggak akan bikin gue lantas akan mengubah pilihan. Basically, yang begini cuma bikin situasi makin panas dan eventually membuat negara gue makin terpisah.

Ini yang gue rasakan semenjak pemilu presiden tahun 2014 lalu. Entah siapa yang memulai dan bagaimana, perihal ras dan agama tiba-tiba jadi naik ke permukaan dan selalu jadi buah bibir. Semenjak saat itu sampai sekarang gue selalu membaca dan mendengar kata "kafir" dan "cina", kata-kata yang sebelumnya terlalu tabu untuk dijadiin bahan perbincangan.

Gue akan menjelaskan di mana posisi gue berdiri sekarang. Kalau gue bisa memilih, gue akan mencoblos pasangan calon no.3, Anies dan Sandi. Terlepas dari boleh atau tidaknya umat muslim memilih pemimpin non-muslim, gue nggak akan memilih Ahok. Tutur kata dan perilaku yang baik speak a lot dalam mencari pemimpin buat gue. Gue lebih prefer pemimpin yang berkepala dingin dan santun. Bukan yang suka marah-marah atau berbicara seenaknya.

"Mendingan pemimpin yang suka marah-marah tapi bener kerjanya, daripada yang baik tapi taunya kerjanya nggak becus.

Buat gue pribadi akhlak seseorang sama pentingnya dengan kinerja. Gue melihat Anies-Sandi berpotensi sebagai pemimpin dengan paket komplit. Bagus akhlaknya, bagus juga kerjanya. Dan gue melihat kalimat di atas hanyalah sebatas pembenaran untuk bisa begajulan, ngomong sembarangan, nggak mikirin lagi gimana kesopanannya, asalkan kita bisa kerja dengan benar. Sangat bertentangan dengan pemimpin paling berpengaruh dan terhebat yang pernah ada, Rasulullah SAW, yang bagus kepemimpinannya, kerjanya, dan akhlaknya pun luar biasa.

"Anies-Sandi bisanya ngomong doang. Ahok udah kerja dan bicara data."

Jelas Ahok bisa berbicara dari kenyataan, bisa berbicara tentang apa yang sudah dan sedang dia kerjakan. Karena sampai detik ini dia masih menjabat jadi gubernur DKI Jakarta. Dan gue yakin kalau Anies-Sandi dikasih kesempatan, mereka juga akan bekerja sama baiknya, bahkan lebih.

Dari poin di atas, tersirat sedikit kekecewaan gue terhadap beberapa orang dari kubu kanan/orang-orang muslim yang gue lihat terlalu giat memainkan ayat. Surat kesukaan kita semua, Al-Maidah ayat 51, padahal sebenernya nggak perlu sebut-sebut agama juga bisa.

Gue mencoba memposisikan diri sebagai orang non-muslim di Indonesia yang di depan mukanya diteriakin ayat kalau orang muslim dilarang memilih pemimpin kafir. Wajar kalau si non-muslim akan tersinggung. Walaupun arti kata "kafir" adalah non-believer, cara penyampaian kata tersebut membuat kesan seolah-olah mereka berdosa dan hina, dan mau gimana pun juga akan masuk neraka. 

Apapun pemahaman kita terhadap orang non-muslim, urusan surga dan neraka itu terlalu sensitif buat diomongin secara gamblang. Kita perlu ingat, setiap individu berhak untuk memeluk agama apapun, bahkan nggak beragama sekalipun. Agama itu privasi, guys. Urusan kita sama Tuhan. Mendiskriminasi ataupun memojokkan seseorang hanya karena pilihan dia itu nggak benar.

Gue juga sangat menyayangkan beberapa orang dari kubu kanan yang sangat senang untuk bermain race card. Kayak yang gue bilang, padahal ikutan berpolitik tanpa nyebut-nyebut ras juga bisa.

"Dasar cina lo!"
"Balik sana ke negara lo"
"Bukan pribumi aja belagu lo!"

Kalau seseorang di-bully karena dia gendut, dia bisa diet dan olahraga biar jadi kurus. Kalau seseorang di-bully karena mukanya jerawatan, dia bisa ke Erha Clinic buat facial biar jadi mulus. Kalau seseorang di-bully karena ras? Apakah dia bisa segampang itu buat langsung ganti muka dan warna kulitnya? Gue nggak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai orang hitam/putih. Begitu juga Indonesian chinese yang dipojokkan hanya karena dia adalah chinese. Dia nggak bisa lantas mengubah dirinya menjadi pribumi supaya bebas dari bully-an orang. It does not work that way. It's stupid.

Memainkan ayat di dalam suatu negara yang sebenernya nggak homogen-homogen amat itu menurut gue bahaya. Islam dan pribumi memang mayoritas, tapi nggak semata-mata menjadi pembenaran untuk bertindak hal-hal yang kiranya bisa menyinggung kaum lain. Karena nyatanya kita nggak hidup dengan muslim lain aja, di sebelah sana ada grup lain yang harus kita hargai.

Karena begini, gue mengambil analogi ketika gue masih belom memakai kerudung. Seringkali ada gambar-gambar dakwah di Instagram yang menurut gue kurang mencerminkan Islam itu sendiri. Islam selalu mengajak kita kepada kebaikan dengan cara yang baik pula. Sementara banyak dari pendakwah yang sudah bagus niatnya, tapi selalu mengiming-imingi orang yang nggak mematuhi perintah agama dengan neraka.

"Kok sampe sekarang nggak ditutup auratnya? Emang udah siap nanti dibakar sama api neraka?"

Melihat yang begitu, apa gue langsung jadi takut dan memutuskan buat pake kerudung? Nggak. Gue malah ilfeel dan membuat stereotip kalau orang religius itu cuma bisa nakut-nakutin gue pakai neraka.

"Jangan lupa sholat. Nanti masuk neraka."
"Jangan pacaran. Nanti masuk neraka."
"Jangan makan yang haram. Nanti masuk neraka."

Padahal muslim disuruh melakukan ini-itu dan menjauhi ini-itu karena semata-mata diperintahkan oleh Allah. Karena iman. Bukan karena takut masuk neraka.

Beberapa minggu lalu gue ikut webinar-nya Ust. Nouman Ali Khan, ustadz favorit gue yang cara dakwahnya sangat gue kagumi. Di sana dia menceritakan gimana Quran bisa men-transform manusia dan bagaimana cara Rasulullah SAW menyampaikan isi kitab ini kepada orang-orang, dengan cara yang sudah diperintahkan oleh Allah SWT.

Ada 4 langkah berdakwah yang dilakukan oleh beliau. Langkah pertama adalah memperkenalkan Al-Quran untuk menunjukkan kebesaran Allah SWT. Dibacakanlah ayat-ayat Quran supaya orang tersebut bisa mendapat sense kalau kitab ini nggak mungkin ditulis oleh manusia, saking luar biasanya.

Langkah kedua adalah, setelah diperlihatkan/ditunjukkan kehebatan Quran, maka hati manusia akan jadi bersih. Hati manusia akan kuat karena sudah dipenuhi dengan iman.

Setelah terbentuk imannya, terbentuk pondasinya, barulah Rasulullah SAW berlanjut ke langkah selanjutnya, yaitu mengajarkan law atau aturan-aturan yang dibuat oleh Allah SWT dan dituliskan di kitab ini. Mengajarkan apa yang diperintahkan Allah SWT dan apa yang dilarang. Iman yang sudah terpatri di hati manusia memudahkan mereka untuk lantas menerima itu semua.

Setelah itu barulah Rasulullah SAW menyampaikan wisdom yang ada di Quran. Mengajarkan ternyata sebatas law aja nggak cukup. Karena Islam bukan sekadar aturan, tapi juga tentang kearifan. Kerendahan hati bukan aturan, tapi kearifan. Kemurahan hati bukan aturan, tapi kearifan.

Dan wisdom itu yang menjadi pengingat kita semua, sebanyak apa ilmu yang sudah kita kuasai, sebanyak apa surat yang sudah kita hafal, kita tetap fakir ilmu. Kita tetap nggak memiliki alasan untuk lantas merasa lebih islami dibanding teman kita. Kita tetap nggak memiliki alasan untuk lantas menjadi sombong. Wisdom inilah yang akhirnya merangkum what Quran is actually about. It's not just a holy book. But it's something that can transform us.

Konklusinya adalah, hanya bersenjatakan ayat, kata "neraka", dan bahkan menyudutkan kelompok lain yang berbeda dengan kita menurut gue bukan cara efektif untuk mengajak orang kepada--yang kita pikir--kebaikan. Mencoba menyampaikan/mengajarkan isi Quran dengan cara yang kurang baik bahkan bisa mengikis kebesaran dan nilai dari Quran itu sendiri.

Manusia punya otak, punya sel-sel neuron yang bekerjanya luar biasa. Sajikan lah argumen-argumen intelek dan pengertian yang esensial, mengapa harus melakukan ini, daripada yang itu dan mengapa harus memilih yang ini, daripada yang itu. Biar otak dan nalar kita puas, biar pondasi kita kuat, dan yang lebih penting biar kita nggak terlihat seperti memecah umat. Dan gue percaya, once masyarakat sudah paham, mereka akan mengimani surat Al-Maidah ayat 51 ini dengan sendirinya. Bukan karena diiming-imingi neraka, tapi karena iman mereka.

Kalau kita lihat, efek dari surat ini jadi merambat kemana-mana. Efek dari niat yang bagus, tapi cara menyampaikannya yang masih banyak cela. 

Gue masih dengan pendapat gue di awal. Perkataan Ahok pada saat rapat di Kepulauan Seribu mengenai surat Al-Maidah emang sangat berperan dalam membuat suasana jadi makin kacau. Terbukti, beribu orang turun ke jalan memprotes perkataan Ahok yang katanya udah mencela Quran. 

Apapun itu maksud dari Ahok, sebagai orang yang berusaha nggak se-biased mungkin, gue akui Ahok emang blunder. Sebagai pejabat publik udah seharusnya dia bisa lebih jaga omongan. Apalagi dia seharusnya tau situasi lagi parah banget. Bukan cuma Jakarta, Indonesia sekarang lagi terbelah. Instead nambah-nambahin retaknya nation kita, kayaknya lebih bijak kalau dia lebih bisa jadi lem buat merekatkan lagi kepingan-kepingannya.

Ditambah, dia bukan seseorang yang berhak untuk berkomentar apapun tentang Quran. That's why menurut gue terlalu omong kosong jika beberapa orang bersilat lidah mencoba untuk meng-defend Ahok, apalagi sampai nggak terima kalau ada yang marah sampai akhirnya demo ke jalan. Nyatanya Ahok memang salah dan setelah kejadian tersebut dia blunder lagi dan bikin umat Islam marah lagi. Akhirnya demo lagi. Begitu terus ampe kiamat.

Tapi balik lagi, gue ngerti kenapa Ahok dan non-muslim lainnya resah karena terlalu sering mendengar kata "kafir". Apa kita bisa memaksa mereka untuk bisa memahami dan mengerti maksud dari surat tersebut? Nggak bisa. 

Mereka, yang notabene nggak mengerti tentang basis ajaran Islam, nggak akan bisa mengerti kenapa agama kita menyuruh umatnya untuk memilih pemimpin yang muslim. Sama seperti gue yang nggak mengerti dengan sistem missionary gereja, yang sampai rela pergi ke daerah-daerah terpencil berdakwah ke umat agama lain, dengan niatan ingin menyebarkan ajaran Tuhannya ke seluruh negeri. Karena di agama gue, keyakinan adalah hak setiap individu dan nggak boleh dipaksa. Lakum dinukum waliyadin.

Lalu muncullah video kampanye Ahok-Djarot yang menurut gue hanya menambah bensin ke api yang sedang berkobar. Tepat di detik ke 00:09, segerombolan orang berpeci dan bersorban terlihat sedang berdemo dengan membawa spanduk bertuliskan "Ganyang cina". Ditambah lagi dengan video yang lebih pendek, lebih simple, tapi efeknya sama. Sama-sama bikin api makin besar.

Di situ Djarot bilang, "Pilkada DKI kali ini bukan lagi cuma soal memilih gubernur yang akan melayani rakyat Jakarta. Ini juga soal keberpihakan. Apakah anda memilih berpihak kepada penyeragaman, radikal serta intoleran, atau memilih berpihak kepada keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika?"

Tentu gue sangat kecewa dengan kedua video ini. Gue pribadi pendukung Anies-Sandi, tapi gue sangat anti dengan orang yang tidak bisa bertoleransi. Maka dari itu gue nggak pernah mau menjadikan ras dan agama seseorang untuk gue jadikan sebagai bahan olok-olokan. Apalagi yang menyangkut politik. Karena seperti yang gue bilang di atas, it's stupid, it's unnecessary.

Walaupun gue bisa mengerti bagaimana resahnya kubu sebelah dengan segala macam demo menentang paslon mereka, perasaan didiskriminasi dan merasa disudutkan karena menjadi minoritas nggak bisa menjustifikasi kubu Ahok-Djarot untuk lantas membuat video yang malah balik menyudutkan kubu seberang. Kapan kita bisa balik bersatu lagi, kalau ada beberapa orang dari kedua belah pihak yang saling lempar-lemparan petasan?

Terlebih, salah besar memberi label orang yang tidak mendukung sebagai radikal dan intoleran, karena memilih dan tidak memilih adalah hak masing-masing orang. Dan gue sangat percaya masih banyak orang Islam di Jakarta yang sangat jauh dari kesan tersebut, yang masih menjunjung tinggi kebersamaan, yang masih menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika.

Walaupun gue mengimani Al-Maidah ayat 51, gue nggak merasa perlu untuk selalu mengotori news feed Facebook teman-teman gue dengan artikel-artikel yang menyudutkan atau membuat resah followers Twitter gue dengan kata-kata yang nggak enak. Karena gue tau nggak semua dari mereka adalah muslim. Dan kalaupun dia muslim dan memilih Ahok, gue nggak merasa punya hak untuk mengkafirkan dia. Untuk apa, hanya karena pilkada, gue harus menyakiti hati orang dan membuat hubungan gue dengan dia jadi rusak. Untuk apa gue ikut-ikutan memperburuk suasana?

Menurut gue, mengimani sesuatu itu bukan berarti kita harus terus-terusan mempublikasikannya di khalayak umum. Terlebih dalam kasus ini. Gue nggak mau image umat muslim rusak hanya karena keegoisan dan ketidakhati-hatian gue dalam berbicara yang akhirnya membuat gue diberi label "intoleran".

Karena udah banyak sekarang artikel luar negeri mengenai kasus blasphemy Ahok yang sering kali menyudutkan kubu gue, kubu yang berseberangan dengan Ahok. Mereka mem-portray seakan-akan kami adalah radical islamist, yang nggak mau ada non-muslim yang bisa tinggal nyaman di negeri kami.

It's wrong. It's totally wrong. Karena gue sebagai muslim meyakini setiap ajaran dari agama gue. Islam melarang gue untuk menjadi orang yang membenci. Islam melarang gue untuk mengusik keyakinan orang lain. Islam menyuruh gue untuk menjadi orang yang bijak, yang menyikapi segala hal dengan kepala dingin. Islam menyuruh gue untuk menjaga lisan, supaya gue nggak menyinggung orang lain. Islam nggak pernah mengajarkan gue untuk intoleran ataupun untuk anti dengan kaum lain. Gue tidak pernah mem-promote kebencian. Islam tidak pernah mem-promote kebencian.

Inti dari tulisan ini adalah, gue menyayangkan kedua kubu yang sering kali sama-sama kekanak-kanakan dan suka saling serang. Menyayangkan kedua kubu yang terlalu sering memainkan kartu ras, kartu agama, dan kartu-kartu lainnya yang sudah pasti akan susah buat disatukan pemahamannya, yang sudah pasti nggak akan berujung baik malah membuat kita terpecah-belah.

Entah apakah tulisan ini akan mengubah sedikit situasi sekarang ataupun hanya akan jadi another post yang membicarakan tentang pilkada, gue hanya berharap semoga kita semua bisa lebih cerdas dan lebih bijak tentunya. 

Segala bentuk kekacauan yang terjadi di Jakarta/Indonesia sekarang sebenernya bisa dihindari seandainya kita bisa berpikir dulu sebelum berbicara dan bisa menghargai orang lain yang punya pemahaman berbeda dengan kita.
Share:

3/15/2017

Sindiran Berbulu Dakwah

Selama di FHI kerjaan gue seharian cuma bikin analyte dan nontonin master defense salah satu temen satu institut. Abis bubaran gue baru inget semua bahan makanan di rumah udah habis, bahkan beras pun nggak ada. Terpaksa lah gue belanja dan ngerjain beberapa urusan dulu. Sama aja bohong sih hari ini gue balik lebih awal dari biasanya, ujung-ujungnya nyampe rumah malem juga.

Ngomong-ngomong kali ini gue bukan mau ngobrolin soal keseharian gue. Karena seperti yang lo ketahui, gue nggak terlalu menganggap keseharian gue menarik buat ditulis. Gue, seperti biasa, mau ngeluarin uneg-uneg yang udah agak mengganggu pikiran beberapa hari ini. Beberapa waktu lalu gue sempet posting "Diam itu Tidak Selalu Emas". Di sana gue ngomongin tentang orang yang mengolok-ngolok apapun yang berhubungan dengan Islam. Entah itu ajarannya, orang-orangnya, dan ulamanya. Sekarang biar adil, gue mau ngomongin the other side of the spectrum: orang Islam yang suka nyinyirin orang lain yang mereka pikir nggak lebih alim dari pada dia.

****

Beberapa minggu terakhir ini gue sering banget menemukan orang-orang yang--dengan gampangnya--nyuruh/menyinggung gue untuk cepet nikah. Nope, bukan karena gue udah di umur di mana gue--seharusnya--udah menikah. Melainkan karena gue yang berhijab, tapi malah pacaran. What a contradiction. (btw, sebenernya apa sih definisi "umur yang sebenernya udah harus nikah". Seakan-akan yang mengatur datangnya jodoh dan terjadinya pernikahan itu manusia. Gimana kalau udah umur 40 tapi jodohnya belom dateng? Salah manusianya gitu?)

So basically orang-orang ini pingin memberi tau hal yang obviously obvious; dating is forbidden in Islam. Funny enough, mereka selalu bilang kalau mereka sebegitu pedulinya sama gue, maka terbentuklah urge yang sebesar itu untuk langsung nyampein ke gue. Di sini gue dibikin bingung sebetulnya. Di satu sisi gue berterima kasih karena mereka peduli sama gue. Di lain sisi--dan yang nyatanya lebih mendominasi--adalah perasaan annoyed yang muncul tiap kali gue dinyinyirin soal ini. Apa yang biasanya gue lakuin? It depends. Sering kali gue hapus komennya. Tapi kalau udah nggak tahan, gue langsung balik bertanya. Bro, you wanna make me feel worse about myself or what?

Gue percaya kalau cara menyampaikan nasehat atau berdakwah itu sama pentingnya dengan niat. Seseorang yang berniat baik mengingatkan seorang muslim lain, yang dia lihat sedang melakukan hal yang jauh dari ajaran agama, seharusnya juga memiliki cara penyampaian yang sama baiknya dengan tujuannya tersebut. So, basically kalau ada yang bilang "Git, lo nggak boleh jadi defensive gitu dong kalau ada yang ngingetin lo." is pretty much rubbish. Karena gue yakin 100% kalau Rasulullah se-judgmental orang-orang tersebut, nggak bakal ada yang mau masuk Islam. Agama ini nggak akan pernah ada. 

Setiap kali ada hal aneh yang terjadi, gue selalu mencoba untuk put myself in their shoes. Berusaha untuk memposisikan diri sebagai pendakwah judgemental ini. Hasilnya? Gue sampe sekarang nggak bisa relate. Bertahun-tahun gue pakai internet, nggak pernah sekalipun gue pointing out dosa orang random di sosial media manapun. Nyinyir yang disimpen buat diri sendiri itu lain cerita. Setiap orang berhak punya opini masing-masing. Everyone is judgemental anyway. Tapi sampai men-transform nyinyiran/judgement tersebut menjadi kata-kata dan actually put that much effort untuk ngepost kalimat tersebut di kolom komentar itulah yang ajaib. Buat gue hal tersebut terlalu makan waktu dan energi untuk dilakukan. Apparently banyak orang yang nggak masalah membuang waktu dan energinya untuk ngedakwahin orang di forum terbuka, di dunia maya, dan bisa dilihat sama ratusan orang lainnya.

Terutama ketika hubungan antara si penasehat dan yang dinasehatin ini hanya sebatas follower dan yang difollow (seperti dalam kasus gue). Bukannya gimana-gimana, tapi gue merasa dengan adanya sosial media, yang memang tujuannya adalah sebagai platform untuk membagikan snippet kehidupan kita, banyak orang jadi merasa udah paham dari A sampai Z semua realita yang ada. Penggunanya semacam nggak tau lagi di mana batas yang nggak boleh dilewatin dan nggak tau lagi gimana caranya menghargai privasi orang lain. As a result, pengguna sosmed sangat gampang untuk mencibir orang terang-terangan di foto/akun orang. Tanpa pikir panjang kalau si orang yang diselepetin ini bisa sedih dan tersinggung. 

Dan masih nggak terbayangkan juga oleh gue, betapa susahnya mindset "orang di internet hanyalah orang di internet" untuk bisa terbentuk di otak pengguna sosmed. Those people are just strangers, yang kehidupannya nggak kita ketahui. Kita nggak tau sama sekali masalah apa yang lagi mereka hadapi, kita nggak tau situasi dan kondisi yang sedang mereka alami. Kita hanya tau 0,000001% dari semua kenyataan yang ada, walaupun tiap saat kita ngelihat foto atau vlog mereka di dunia maya. Kita sama sekali nggak berhak untuk menyinggung hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka, karena setiap manusia berhak untuk dihargai privasinya. And yes, telling someone to get married because dating is haram means you don't respect her private life. It's her life, bro. It's her life.

Gue tanya laki-laki ini, yang "wkwk-in" gue karena gue pacaran, apa tujuan dia menyampaikan hal tersebut. Dia bilang, dia nggak bermaksud apa-apa dan cuma ingin mengingatkan. Balik lagi ke pernyataan di atas, he should've found another way to approach me, kalau dia emang beneran peduli. Setau gue memojokan orang dengan dosa yang dilakukannya itu bukan bentuk kepedulian. Mungkin ada sensasi tersendiri yang dirasakan orang-orang yang suka berdakwah-padahal nyinyir ini. Mungkin ada kepuasan dalam diri mereka, bisa bikin orang lain jadi merasa buruk. Seandainya temen-temen gue yang alim-alim itu, yang gue kenal secara personal itu, nyindir-nyindir dosa gue, nggak bakalan gue kayak sekarang. Nggak bakalan. Tapi hati gue malah terbuka karena despite gue yang penuh dosa ini, mereka nggak pernah sekalipun nyinyirin gue. Nggak pernah sekalipun menyinggung gue yang saat itu pacaran sama Paulus yang masih kristen.

Itu alasan kenapa gue sangat anti dengan dakwah nyinyir di sosial media, especially from strangers. That's not how da'wah works. Islam nggak pernah promote cara berdakwah yang begini, yang malah bikin orang "begajulan" jadi makin menjauh dari kebenaran. Gue bisa ngomong begini karena gue tau betul. Gue hijrah karena saudara seiman di kanan dan kiri gue nggak pernah mencari-cari kesalahan gue, mencari-cari dosa gue, tapi mereka selalu mencari hal positif dari diri gue. Dan malah itu yang ngebikin gue termotivasi untuk jadi muslim yang lebih baik lagi.
Share:

3/04/2017

Owning Only What We Need

Kalian pernah denger tentang konsep „minimalism“ ? Selama ini mungkin kita cuma mendengar konsep tersebut dalam seni, arsitektur, dan juga musik. Tapi ternyata minimalisme lebih dari itu. Beberapa tahun ini gaya hidup minimalis sedang naik pamor. Terinspirasi dari negara Jepang, di mana tidak hanyak rumah, fashion, dan furniturnya yang simpel, ternyata kebanyakan orangnya pun menganut gaya hidup simpel ini pula. What I find interesting about this lifestyle is that we live with only things that are necessary in order to really focus on the life itself. Menurutku konsep ini semacam breath of fresh air di tengah-tengah hiruk-pikuk konsumerisme dunia modern sekarang.

Ketika aku mencari tahu tentang konsep ini aku sangat bisa relate karena mempunyai banyak barang itu bisa sangat mendistraksi fokus kita. Sering kali juga kita terlalu merasa terikat dengan suatu barang hanya karena barang tersebut memiliki memori tertentu. Tidak jarang juga kita merasa terikat dengan sesuatu hanya karena, tidak ada alasan tertentu. Rasa keterikatan inilah yang harus dibuang dan mengaplikasikan konsep minimalisme mungkin bisa menjadi cara yang jitu. Selain itu dengan minimalisme kita juga bisa membuang sifat konsumtif dalam diri kita dan akan berujung kepada hidup yang akan lebih terstruktur dan teratur nantinya. I am sure you’ve heard of this quote somewhere;


We buy things we don’t need to impress people we don’t like. 
Believe it or not, we do it sometimes. In order to fit in modern day’s society we „need“ to own certain things because sadly people do judge a book by its cover. Because if you only wear the same clothes everyday people will think you’re broke. Banyak orang berpikir hidup yang enak adalah hidup dengan memiliki banyak materi. Punya rumah, punya mobil, punya tas berbagai model dan warna, punya makeup segala merek, dan sebagainya. Aku yakin kamu nggak setuju dengan itu karena obviously it’s about how we see our lives. Karena mensyukuri hidup itu sifatnya absolut dan tidak tergantung dengan berapa banyak barang yang kita punya. But still, banyak dari kita yang membeli tas bermerek dan mereknya harus terpampang supaya bisa dilihat orang-orang. Banyak juga dari kita tanpa sadar membeli barang karena banyak orang yang punya barang tersebut. We keep buying things even though we know we will never use them. What we don’t realize is this behavior can distract us. Those things that we bought are distracting us from what is essential, from life.

Saat ini aku sedang dalam proses ke arah minimalisme. Bermula dari melihat lemari pakaian yang terlihat sumpek. Lalu aku coba menyortir pakaian yang kiranya nggak aku pakai dan aku kaget pada saat itu aku berhasil membuang pakaian, sepatu, dan tas sebanyak dua kantong besar IKEA. Setelah beberapa bulan menganut konsep ini aku jadi makin aware atas apa aja yang benar-benar aku butuh dan makin mengapresiasi apa yang aku punya sekarang. Aku pun senang karena barang tersebut akan dipakai oleh orang yang beneran membutuhkan. Aku juga jadi jarang belanja dan uang ku bisa dipakai untuk hal lain yang jauh lebih penting. Makin ke sini aku jadi makin senang buang-buang barang yang nggak perlu untuk benar-benar memerdekakan diriku dari perasaan terikat dengan materi.

Belum lama ini tahun baru. If you don’t have any new year’s resolution yet, mungkin menjadi seorang minimalist bisa jadi resolusi tahun baru kamu.

Artikel ini dimuat di majalah Gogirl! Edisi Februari 2017.
Share:

2/24/2017

Diam itu Tidak Selalu Emas

Gue kayaknya pernah nulis tentang gimana keresahan gue terhadap keadaan politik di Indonesia sekarang. Resah gue belom hilang sih. Malahan nambah. Walaupun gue nggak di Indonesia, tapi gue tetep bisa sedikit-banyak dapet update-an mengenai apa yang lagi hot. Facebook gue so far aman dan tentram. Tapi buat mencapai ketentraman tersebut nggak tau udah berapa orang yang gue unfollow karena postingan yang mereka share ataupun yang sekedar mereka like (toh ujung-ujungnya muncul juga di newsfeed gue) cukup mengganggu. Keadaan politik alhamdulillah belom merambah ke Instagram, jadi gue masih asik-asik aja scrolling liat foto-foto orang. Kalo di Path sesekali ada lah temen-temen gue yang posting nganeh-nganeh, tapi belom sampe titik di mana gue harus menghapus akun gue.

Yang tersisa tinggal Twitter. Nyatanya di Twitter ini ternyata sarangnya cancer. Tempat orang nyinyir, tempat orang bisa cuap-cuap, yang jujur terkadang bikin gue jadi pengen tobat. Oke, oke. Gue akan coba jelaskan biar omongan gue ini nggak terlalu absurd. Jadi beberapa minggu ini entah kenapa gue sering menemukan orang-orang aneh di Twitter. Terlebih sekarang nih. Di kala semua orang merasa berhak untuk berpendapat. Orang aneh jadi makin banyak. Keyboard warriors makin bermunculan. Padahal kagak kenal sama ini orang, tapi mereka willing untuk berantem-beranteman atau sekedar nyinyir di sosial media. Intinya sekarang makin banyak orang yang nggak sungkan-sungkan buat cari ribut sama orang lain.

Seaneh-anehnya orang yang suka cari keributan, menurut gue lebih aneh orang yang suka nyinyirin agamanya sendiri. Apa lagi di masa-masa pemilu kayak begini. Makin lama makin sering aja gue ngelihat orang muslim, tapi kerjaannya jelek-jelekin saudara seimannya yang dia lihat nggak memiliki pemikiran seprogresif mereka dalam beragama. Akhirnya muncul lah sekarang istilah "onta" atau "kearab-araban" buat muslim yang kiranya islam banget. Muslim yang pake celana cungkring dan berjenggot aja bisa lho dinyinyirin. Apalagi kalo orang-orang ini vokal di sosial media. Udah pasti jadi bahan ceng-cengan. Intinya jaman sekarang kayaknya lo itu dosa banget kalo terlalu deket sama Tuhan lo. Bisa dicap sebagai muslim ekstrim. Sementara sekarang orang-orang ini pinginnya muslim itu yaa biasa-biasa aja. Moderat aja.

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba gue dimention sama orang yang gue nggak kenal. Sepertinya dia nggak setuju dengan pernyataan gue tentang banyaknya negara Islam yang mencampur adukkan kultur dengan agama. Terus tiba-tiba doi langsung ngomongin ayat ini dan ayat itu yang tertulis kalau Islam mengiyakan membunuh murtadin maupun kaum gay. Jadi maksud dia, konstitusi yang berlaku di negara Islam tersebut bukan berasal dari kultur, tapi dari agama Islam sendiri. Dan ujung-ujungnya doi nge-cap gue sebagai Muslim apologist. Banyak hal yang gue bingungin di sini. Pertama, kok mau ya tiba-tiba doi tanpa segan memperdebatkan hal ini ke gue, yang dia nggak kenal dan gue juga nggak pernah bersedia untuk berdebat sama dia. Tapi di sini gue udah tau jawabannya. Namanya juga era digital. Semua orang berhak bersuara. Mau suaranya itu sebenernya perlu atau nggak, yang penting ngomong. Kedua, gue amazed ngelihat gimana dia merasa udah paham betul tentang agamanya hanya karena--katanya--dia sudah "mempelajari" Quran dan Hadith dan berdiskusi dengan beberapa ulama di Indonesia. I mean, setau gue orang-orang yang mempelajari agama--karena ingin makin bertaqwa--akan semakin merasa fakir ilmu dan nggak tau apa-apa di saat dia banyak dapet ilmu. Ketiga, lucu aja ngeliat sumber-sumber ilmu dia ya orangnya sama. Sama-sama pengkritik Islam, agama yang udah sempurna.

Jujur, makin ke sini gue makin banyak nemu orang-orang kayak dia. Makin banyak gue liat orang Muslim, tapi hari-harinya dihabiskan untuk menkritik dan mencari-cari kesalahan agama dia sendiri. Satu sih pertanyaan gue. Orang-orang kayak gini nanti pas meninggal tetep mau dikafanin dan disholatin nggak sih? Ada banyak sebenernya pikiran-pikiran dan hal yang gue rasakan tiap gue nemu orang-orang macam begini, entah di dunia maya ataupun dunia nyata: gue harus terus berdoa sama Allah supaya selalu ditunjukin jalan yang lurus, jalan orang-orang yang beriman. Bayangin aja cuy. Seserem-seremnya nggak punya duit, lebih serem lagi kalo kita nggak dapet hidayah dari Allah. Gimana coba hidup jadi orang yang selalu melihat agamanya sendiri sebagai musuh? Apa coba rasanya jadi orang yang selalu suudzon sama perintah Tuhannya sendiri, benci ngeliat orang alim, nge-cap saudara seimannya dengan panggilan ekstrim? Asli dah. Mending gue kaga ada nasi buat makan dah daripada hati nurani sama iman gue ketutup.

Apalagi sekarang kayaknya lagi ngetrend kan tuh ngeceng-ngecengin ulama. Ulama jadi bahan ejekan, bahan tertawaan. Kalo gue udah liat yang begini-begini, hati rasanya langsung "nyeesss..". Nggak kebayang gimana reaksi Rasulullah kalau dia masih hidup sekarang ngeliat umatnya pada kayak begini. Ulama, coy. Orang yang harusnya kita dengerin, kita hormatin, kita junjung. Malah diolok-olok biar terlihat modern, biar terlihat moderat, dan biar keliatannya nggak islam-islam amat.

Suatu hari Paul dan gue berdiskusi mengenai hal ini. Terus dia bilang, "Kamu tuh panas orangnya, yang.". Gue bingung. Panas apaan coba maksudnya? "Kamu merasa kamu harus nyebarin ajaran agama. Kamu bukan tipe orang yang diem aja." jawab dia. Hal ini mengingatkan gue akan gimana gue dulu yang kesel liat temen-temen gue si anak-anak mesjid yang pada "bawel" banget soal agama. Dikit-dikit dakwah, nggak di mana-mana dakwah. "Nggak bisa apa lu pada kalem aja gitu?" pikir gue pada saat itu. Setelah gue makin belajar agama dan berusaha memahami cara pikir mereka, akhirnya gue ngerti. Mereka, sebagai orang yang peduli dengan agamanya, merasa memiliki tanggung jawab buat saudara muslim yang lain. Gue jadi inget sama satu kalimat yang pernah diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib ra:

"Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik."

Hal ini lah yang bikin gue nggak pernah takut untuk terus nyebarin value agama gue dan untuk speak up tiap kali ada yang salah. Sering ada orang yang bertanya kenapa gue nggak takut akan ada "haters" yang datang karena tulisan-tulisan gue yang cukup nyablak. Karena itu tadi, sebagai orang yang tulus pingin nyebarin kebaikan, gue nggak mau kalah vokal dari orang-orang yang menyebarkan kezaliman. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bakal nyelamatin dunia?

Akhir kata, gue harap kalian-kalian yang masih "sehat" radar baik-buruknya nggak takut untuk menegakkan apa yang benar. Semoga kita juga dijauhin dari sifat-sifat munafik dan dijauhin dari musuh-musuh Allah. Dan yang paling penting semoga kita selalu ditunjukin jalan yang lurus dan selalu menjadi hambaNya yang bertaqwa.
Share:

2/05/2017

Menjadi Seorang Diaspora

Ketika gue menulis postingan gue yang berjudul Generasi Tutorial, gue nggak pernah nyangka kalau tulisan itu bakal viral. Yang biasanya gue cuma dapet sekitar 20an komentar, kali ini gue dapet sampe 200an. Entah apa yang nge-trigger orang-orang buat ikutan komen. Tulisan gue yang lain juga biasanya nyablak dan nggak gue filter. Karena toh gue nulisnya di personal blog yang fungsinya sama seperti buku diary, based on personal opinion. Tapi buat yang satu ini nggak sedikit orang yang gegen sama pendapat gue, which is normal. Yang nggak normal adalah orang-orang yang ngomong begini nih:

"Emang lo udah berbuat apa buat Indonesia? Bisanya cuma komentar doang."
"Alah, tinggal di luar negeri aja pake sok-sokan komentar. Pulang dulu sini baru boleh ngomong!"

Kenapa gue bilang ini nggak normal? Karena dari kalimat di atas terkesannya yang boleh berkomentar tentang negaranya sendiri adalah hanya yang tinggal di negara tersebut. Orang-orang yang tinggal di luar negeri nggak boleh ikutan berkoar-koar, walaupun kewarganegaraannya masih Indonesia.  Gue jadi bingung, orang-orang ada sentimen apa sih terhadap diaspora?

Banyak orang ngomong ke gue, selama masih tinggal jauh dari Indonesia, gue masih belom memberi kontribusi nyata. Sementara gue nggak terlalu mengerti sebenernya yang dimaksud "kontribusi nyata" oleh mereka itu apa? Apa gue harus jadi presiden kah? Jadi menteri? Jadi pemimpin partai? Jadi politikus? Jadi aktivis HAM? Karena sebetulnya, yang mungkin nggak dimengerti oleh orang-orang yang tinggal di Indonesia, para diaspora di luar negeri nggak membawa namanya sendiri. Yang dia bawa adalah negara dan bahkan agamanya. Dengan berlaku sebagai citizen yang baik di negara yang ditinggali sekarang menurut gue sudah menjadi bentuk kontribusi. Karena lagi, toh kami adalah representasi dari negara asal kami.

Karena keseringan mendengar kata "kontribusi nyata" lama-lama gue jadi merasa orang-orang yang sentimen dengan diaspora sebenernya nggak ngerti apa yang mereka omongin. Mungkin dipikiran mereka tinggal di luar negeri itu selalu enak kali, ya. Nggak ada susahnya, hidup serba nyaman, jalan-jalan pake coat sambil minum coklat panas menerpa udara dingin. So, to clarify, gue akan sedikit menceritakan gimana pengalaman gue tinggal di luar negeri supaya kalian ada bayangan.

Gue nyampe ke Jerman tahun 2010. Saat itu gue masih umur 18 tahun. Masih remaja, masih labil, baru lahir kemaren. I don't know about you guys, tapi "dipaksa" untuk beradaptasi dengan lingkungan yang completely different di umur yang masih muda itu cukup challenging. Terutama ketika semuanya harus dihadapi sendiri tanpa orang tua. Gue harus menyerap segala sistem yang ada di Jerman dan mengubah cara gue berpikir, bertingkah, dan ber-ber-ber lainnya supaya gue bisa berintegrasi dengan baik. Mungkin banyak orang berpikir kalau galau tinggal di luar negeri itu cuma sebatas galau karena jauh dari rumah. But for me, jauh dari rumah adalah hal terakhir untuk digalauin. Galau akademik adalah salah satu yang bikin semua ini begitu sulit. Karena bukan gimana-gimana, coy. Kalau taunya kita gagal ujian, kita bisa dikeluarin dari universitas dan ujung-ujungnya balik ke Indonesia. Bayangin berapa banyak waktu, energi, dan materi yang udah keluar tapi ujung-ujungnya malah nggak dapet gelar. Dan kuliah pake bahasa Jerman, di universitas Jerman itu nggak gampang. Boro-boro mau dapet nilai bagus, lulus aja udah sukur. Bukan itu aja. Nggak semua orang yang tinggal di luar negeri itu orang kaya, gue contohnya. Kalau gue kasih liat berapa duit di rekening gue sekarang mungkin lo semua pada kaget. Maka dari itu mahasiswa di sini rata-rata harus kerja cari duit sendiri. Bukan buat liburan, bukan buat nambah uang jajan. Tapi buat makan dan bayar uang sewa apartemen. Gue harus selalu muter otak gimana caranya gue bisa dapet duit. Entah itu kerja di pabrik, di cafe, atau kayak sekarang nih, gue menjadikan YouTube sebagai source income. I can tell you keadaan ekonomi gue nggak seberapa nelangsa. Ada banyak mahasiswa yang lebih susah dari gue dan alhasil kuliahnya nggak lulus-lulus karena harus kerja terus. Belom lagi kalau ada masalah personal yang muncul seperti masalah keluarga, masalah sama temen, dan masalah-masalah lainnya. Dan yang paling penting adalah harus menjalani proses pencarian jati diri dan adulting tanpa bimbingan siapa-siapa, nggak ditemenin keluarga dan orang-orang yang wajahnya familiar, ternyata susahnya minta ampun. The bottom line is: ternyata hidup sendiri di negara asing itu nggak seindah foto-foto turis Indonesia di Instagram. Dan ini semua bukan cuma terjadi sama gue. Semua student Indonesia yang gue kenal di Jerman mengalami hal yang sama.

Menghadapi realita, kesulitan, dan keribetan tinggal di luar negeri, tapi masih menjadikan si negara tercinta sebagai topik pembicaraan setiap kali kita ngumpul, menurut gue adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Tandanya WNI di sini masih peduli sama kampungnya. Nggak lantas langsung "Bhay!!! Gue udah enak tinggal di Jerman. Gue ogah ngurusin Indo lagi.". Bukan cuma sekedar berdiskusi, in fact kita selalu mencari cara gimana supaya kita bisa bantu sedikit-sedikit sesuai porsi yang kita bisa. Dan yang harus dipahami, setiap orang punya hak dan preferensi masing-masing gimana cara dia berkontribusi untuk negaranya. Ada orang yang lebih prefer untuk mengaplikasikan ilmu yang dia dapet waktu kuliah di Jerman dulu untuk terjun langsung ke sektor-sektor yang masih harus dibenerin. Ada yang lebih prefer untuk jadi orang sukses di Jerman karena toh kayak yang gue bilang berkali-kali, dia adalah representasi negara asalnya. Ada juga orang-orang yang kayak gue, yang memanfaatkan sosial media buat menggerakan anak muda Indonesia supaya bisa proaktif untuk bangun negara. Nggak ada yang salah dengan semua itu. Toh semuanya positif, semuanya bermanfaat, dan semuanya adalah buat Indonesia. Maka dari itu menurut gue sangat childish kalau masih ada orang-orang yang seakan-akan membungkam mulut diaspora dengan embel-embel "belom memberi kontribusi nyata".

Sebenernya ada banyak hal yang orang-orang tersebut nggak pahamin. Wajar, seseorang harus ngerasain dulu gimana tinggal di luar negeri yang sebenernya baru bisa ngerasa relate (tapi kalau gue ngomong kayak gini biasanya sih gue langsung dicap sombong. Yasudahlah, toh gue hidup bukan buat menyenangkan semua orang). Salah satunya adalah kenapa banyak diaspora yang terlihat agak sungkan untuk pulang (for good). Ada satu temen gue yang dulu S2 di Belanda. Sekarang studinya udah kelar dan dia udah balik lagi ke Indonesia. Suatu hari gue chatting sama dia. Ternyata dia lagi galau. Dia kangen sama Belanda katanya. Wajar lah ya, gue ngebayangin kalau gue udah lama tinggal di Jerman terus gue balik ke Indonesia, pasti gue akan kangen. Salah satunya kangen sama Kubideh dan Döner Kebab. Tapi ternyata dia bukan cuma kangen negaranya, tapi juga sama kehidupannya. Ada rasa ketakutan dalam dirinya dia. Karena setelah semua pengalaman, cerita, suka, dan duka yang bener-bener jadi pelajaran berharga buat dia, yang dialami hanya sekitar 2 tahun tinggal di tanah Eropa, dia harus balik lagi ke lingkungan yang itu. Lingkungan yang pada kenyataannya kurang kondusif untuk bikin manusianya tumbuh jadi lebih baik. 

Gue sangat paham dengan ketakutan temen gue ini, karena jujur gue juga merasakan hal yang sama. Sesulit-sulitnya tinggal di negeri orang, tempat ini lah yang bikin gue jadi orang yang kayak sekarang. Di tempat ini lah gue bisa belajar banyak hal yang berguna, bukan cuma ngurusin drama politik dan agama yang suka nganeh ataupun gosip artis masa kini. Sebelum gue diserang oleh orang yang sensitif, let me tell you this: gue tau dan gue udah liat sendiri, ada lingkungan-lingkungan sehat dan positif di Indonesia yang pastinya akan sangat suportif terhadap pertumbuhan kualitas gue sebagai individu. Tapi mereka nggak mainstream. Pertanyaannya adalah apakah nanti gue akan cukup kuat untuk nggak keikut arus utama? Apa nanti gue bisa tetap menjaga kualitas percakapan dan cara berpikir walaupun gue dikelilingin sama society yang mayoritas masih superficial? Gue nggak tau apakah gue akan tahan dikelilingi orang-orang yang lebih seneng ngomentarin alis orang lain ketimbang ngomongin sesuatu yang bikin pinter. Gue juga nggak tau apa nanti gue bisa sabar sama orang-orang yang ngomongnya janjian jam 1 tapi baru dateng jam 3. Dan gue juga nggak tau apakah gue bisa tetep di zen-mode ketika mobilitas gue super terganggu dan gue nggak bisa ngelakuin semua yang udah di-plan untuk hari itu karena jalanan di Jakarta nggak bisa diprediksi? Belom lagi gue harus menghadapi situasi yang sebenernya bisa diselesain secara cepat dan efisien, tapi sayangnya Indonesia masih menganut prinsip "Kalo bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?".

Terlebih karena sekarang gue udah memasuki umur 25, gue udah mulai kepikiran tentang keluarga. Gue emang belom nikah, tapi gue udah mulai berpikir di mana gue harus membesarkan anak gue supaya dia bisa tumbuh jadi orang yang kritis dan punya prinsip kuat. Gue aktif di sosmed. Gue suka mengobservasi apa aja yang lagi in di antara remaja dan gimana kelakuan anak muda sekarang. Dari yang gue liat, anak-anak muda yang cemerlang masih jauh lebih sedikit ketimbang yang begitu-begitu. Sekarang aja pergaulan udah makin aneh, apalagi nanti di jamannya anak gue? "Tapi kan itu tergantung orang tuanya, Git.". Ya, memang. Tapi gue pernah ngerasain gimana jadi anak yang tumbuh besar di Indonesia dan gue pun ngelihat sendiri gimana anak-anak yang besar di Jerman. Gue melihat orang tua di Jerman seperti punya kontrol lebih besar terhadap anaknya. Pergaulannya, agamanya, akademisnya, semuanya lebih mudah untuk dijaga dan pengaruh buruk dari luar lebih bisa difilter. Gue nggak tau kenapa, sih.

Selain itu gue juga harus mempertimbangkan kenyataan kalau untuk menjadi fully independent mother (or mother-to-be) di Indonesia itu sulit. Ketika nyokap mengandung gue dulu, dia nggak perlu minta anterin siapa-siapa atau tergantung dengan orang lain hanya karena dia lagi berbadan dua. Belanja bisa dikerjain sendiri, ke mana-mana bisa jalan sendiri karena toh transportasi di Berlin juga sangat mementingkan kenyamanan penggunanya. Juga untuk ibu-ibu yang punya anak bayi. Nggak perlu pake mobil, tinggal bawa stroller mereka bisa jalan sama anaknya. Nggak perlu takut kenapa-kenapa ataupun cemas dengan polusi udara. Taman-taman buat berjemur juga banyak. Bersih pula. Makanan buat si anak juga bisa lebih terjaga karena di sini penjualnya masih punya rasa tanggung jawab. Kita nggak perlu takut sama produk-produk yang ditambahin bahan kimia.

Intinya adalah kalau ada WNI yang nggak mau balik lagi ke Indonesia, gue rasa doi bukannya udah lupa sama negara. Ada banyak pertimbangan yang dia punya, yang kita nggak tau. Menurut gue setiap orang berhak untuk memilih apa pun yang menurut mereka terbaik buat dirinya. And who are we to judge?

Yha, gue jadi ngelantur. Ya intinya gitu, lah. Nyinyirin diaspora yang mencoba untuk memberikan opini dan pemikiran terhadap negaranya itu nggak akan menyelesaikan masalah. Nggak bikin Indonesia jadi maju dan yang pasti nggak bikin orang-orang di Indonesia lebih berhak untuk berkomentar. Berprasangka baik dan mensupport apapun yang udah dilakukan oleh setiap warga negaranya mungkin adalah the best thing to do. Karena kita-kita, diaspora, nggak akan lupa kok sama negara. Mau di mana pun kami tinggal, hati kami tetap Indonesia.
Share:
Blog Design Created by pipdig